UNAIR-ITB Rembukkan Virtual Reality untuk Pembelajaran Kedokteran


UNAIR NEWS – Teknologi Virtual Reality (VR) semakin marak digunakan dalam berbagai bidang termasuk militer, aviasi, hiburan, dan kedokteran. Penggunaan VR dalam bidang kedokteran sudah berlangsung di Amerika dan Eropa selama 25-30 tahun. Tak ingin ketinggalan, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) bersinergi menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait pembuatan produk teknologi VR sebagai alat pengajaran di bidang kedokteran.

FGD tersebut dihadiri oleh Prof. dr. Djoko Santoso, Ph.D, K-GH, FINASIM selaku Wakil Rektor I, Prof. Dr. Ir. Jaka Sembiring, M.Eng dari ITB, tim VR ITB, tim VR UNAIR, dokter spesialis-akademisi UNAIR, dan Pusat Inovasi Pembelajaran & Sertifikasi (PIPS) UNAIR sebagai penyelenggara acara. Prof. Djoko sebagai wakil rektor bidang akademik dan kemahasiswaan membuka acara pada Rabu (4/9/2019). FGD yang akan berlangsung hingga Jumat (6/9/2019) itu dilaksanakan di Ruang Kahuripan 305, Kantor Manajemen UNAIR.

Di hari pertama FGD, tim VR ITB menyebut ada empat keuntungan penggunaan VR, yaitu dapat melaksanakan impossible experiments, mengeliminasi risiko kesalahan prosedur, meningkatkan pemahaman, dan meningkatkan efektivitas serta efisiensi. Contohnya dalam bidang medis, VR digunakan dalam simulasi operasi. Tahapan-tahapan operasi yang berhasil dilangsungkan dalam VR kemudian dicatat dan dijadikan prosedur dalam operasi sungguhan.

Menurut Prof. Djoko, VR ini akan sangat berguna dalam proses pembelajaran bidang kedokteran. Salah satunya dapat menjadi solusi atas minimnya supply kadaver yang diperlukan dalam pembelajaran.

Tujuan dari VR ini adalah pertama, pembuatan dan pengembangan VR anatomi dan fisiologi tubuh manusia untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Kedua, pembuatan dan pengembangan sistem pembelajaran dan bahan ajar video yang merupakan rekaman dari prosedur terbaik dalam suatu tindakan medis dari system VR. Ketiga, pembuatan dan pengembangan franchise sistem pembelajaran kedokteran berbasis VR. Dan keempat, pembuatan dan pengembangan purwarupa virtual surgical robot. Untuk surgical robot (robot operasi, Red) adalah target jangka panjang.

“Sebenarnya VR untuk kedokteran ini sudah ada, diproduksi luar negeri,” terang presentator VR ITB. “Kalau mau kita bisa beli, tapi masa kita mau beli terus?,” tambahnya.

Dalam kerja sama pembuatan serta pengembangan VR kedokteran ini, tim VR ITB membutuhkan arahan substansi dari ahli-ahli kedokteran di UNAIR.

“Kami ini kan, insinyur. Kalau disuruh bedah Hercules (pesawat, Red) oke lah. Tapi kalau disuruh bedah manusia kan, repot. Makanya perlu panduan dokter-dokter ahli dari UNAIR,” ungkap presentator dari ITB. (*)

Penulis: Fida Aifiya

Editor: Binti Q. Masruroh