Artikel

Artikel


Vaccine-induced and Natural Immunity

Which is more effective, immunity that is induced by vaccination or immunity acquired after being infected with Covid-19? This question is important to raise after Covid-19 has exceeded the positive rate of a million, triggering the government to take the pandemic more seriously. Vaccination is being intensified. The first phase for healthcare workers is under way and will soon be followed by the next group of priority recipients. The government also imposes public activity restrictions (PPKM), with several provinces applying micro-scale PPKM, which are watched over by the Public Order Agency (Satpol PP), the National Police and even the Indonesian Military. This indicates the government’s greater awareness of mobility restrictions as an important pillar to prevent the spread of infection besides increasing testing and tracing. We certainly should not ignore the criticism of some epidemiologists about the presence of data on millions of affected people that are claimed to be hidden.

Imunitas Vaksinasi dan Alami

Vaksinasi bisa jadi ”booster” (penguat) dari kekebalan alami setelah lolos dari terinfeksi. Secara umum vaksinasi aman dan potensi risikonya sangat sedikit. Ampuh manakah, kekebalan yang terbentuk dari vaksinasi dengan kekebalan setelah terinfeksi Covid-19? Pertanyaan ini penting disampaikan setelah Covid-19 melampaui angka positif sejuta dan pemerintah terlihat tersentak serta semakin serius menangani pandemi. Vaksinasi digencarkan. Untuk tahap para tenaga kesehatan sudah berjalan, dan segera berlanjut ke penerima prioritas selanjutnya. Pemerintah juga memberlakukan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat), beberapa provinsi menerapkan PPKM mikro yang dikawal satpol PP, polisi, bahkan TNI. Ini menandakan pemerintah makin menyadari pembatasan mobilitas adalah pilar penting untuk pencegahan meluasnya penularan, selain memperbanyak testing dan tracing. Tentu, kita tak boleh tutup mata terhadap kritik beberapa epidemiolog bahwa ada data sekian juta orang terpapar yang katanya disembunyikan.

Vaccination and Threat of Virus Mutation

The new chapter opened with the Covid-19 vaccine, which has buoyed public optimism, needs to be accompanied with honesty (and fairness) in government policies. The new chapter opened with the Covid-19 vaccine, which has buoyed public optimism, needs to be accompanied with honesty (and fairness) in government policies. The Food and Drug Monitoring Agency has issued emergency use authorization after the Indonesian Ulema Council stated that the Sinovac vaccine is halal. President Joko Widodo became the first person to receive a Sinovac shot on 14 January 2021 to set an example for Covid-19 immunization. A week earlier, Coordinating Economic Minister Airlangga Hartarto as the chairman of the Committee for Covid-19 Handling and National Economic Recovery announced the enforcement of new large-scale social restrictions (PSBB) for Java and Bali from 11-25 January. This is a good step, as well as a corrective one.

Vaksinasi dan Ancaman Mutasi Virus

Vaksinasi penting, tapi jelas bukan panasea. Pilar utama menurunkan penularan adalah pembatasan mobilitas, pelacakan, dan yang sangat penting memperbanyak tes. Kenapa tes Covid-19 justru makin mahal bagi rakyat? Babak baru dengan vaksin Covid-19 yang membangun optimisme perlu dibarengi dengan kuatnya kejujuran (dan keadilan) dalam kebijakan pemerintah. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat, menyusul Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan bahwa vaksin Sinovac halal. Presiden Jokowi menjadi orang yang pertama menerima suntikan vaksin Sinovac pada 14 Januari 2021 untuk memberikan teladan imunisasi Covid-19. Seminggu sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional mengumumkan penerapan semacam pembatasan sosial skala besar (PSBB) untuk Jawa dan Bali, terhitung 11-25 Januari. Ini langkah bagus sekaligus korektif.

Optimisme Menyambut Vaksin

Keberhasilan vaksinasi akan memompakan semangat dan optimisme kita. Sebelum vaksin disuntikkan, perlu dirapikan komunikasi pemerintah. Jelaskan sejujurnya tentang manfaat dan risikonya.   Tamu negara penting pun tak disambut pemberitaan seperti ini. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan secara langsung kedatangan pesawat Garuda di Bandara Soekarno-Hatta yang membawa 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 produk Sinovac, 6 Desember 2020. Video pesawat menurunkan kotak besar vaksin dari perut pesawat jadi viral di mana-mana. Kedatangan vaksin ini benar-benar diistimewakan pemerintah. Vaksin diharapkan bisa mengatasi lonjakan penularan yang sampai hari ini belum juga menurun, bahkan cenderung naik tajam. Sampai minggu kedua Desember, pertambahan angka positif rata-rata di atas 5.000 kasus per hari, dengan pertambahan kematian sekitar 150 per hari.