Hasil Pencarian

Artikel


Diving into the Presidential Candidate's Science and Technology Vision

Since the Soeharto era until today we have not been able to produce fully domestically produced cars and motorbikes. The issue of social welfare, education, culture, information technology, health, labor, human resources, and inclusion became the topic of debate for the presidential candidates on February 4th. What is the position of iptek (science and technology) in this debate? We can see that the science and technology material was only one small point inserted in the last debate session, and it was only limited to information technology (IT). This illustrates that science and technology is not considered an important issue worthy of being debated by presidential candidates in the presidential election contestation.

Menyelami Visi Iptek Capres

Sejak era Soeharto sampai hari ini kita belum sanggup menghasilkan mobil dan motor yang utuh produksi dalam negeri. Isu kesejahteraan sosial, pendidikan, kebudayaan, teknologi informasi, kesehatan, tenaga kerja, sumber daya manusia (SDM), dan inklusi menjadi topik debat terakhir calon presiden, 4 Februari lalu. Di mana posisi iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dalam debat tersebut? Bisa kita lihat, materi iptek hanya merupakan satu poin kecil yang disisipkan pada sesi debat terakhir, itu pun hanya terbatas pada teknologi informasi (TI). Hal ini menggambarkan bahwa iptek tidak dianggap sebagai isu penting yang layak didebatkan oleh capres dalam kontestasi pilpres. Persoalan iptek yang hanya dianggap cukup diwakili sektor TI saja jelas tidak tepat. TI memang mempercepat proses kemajuan iptek dalam beberapa dekade terakhir, tetapi ini hanyalah sektor hilir.

Meraba Visi Program Kesehatan Capres

SEBENTAR lagi kita disuguhi sesi terakhir debat calon presiden pada 4 Februari nanti. KPU menetapkan materi debat capres sesi terakhir ini tentang kesejahteraan sosial, pendidikan, kebudayaan, teknologi informasi, kesehatan, tenaga kerja, SDA, dan inklusi. Lalu, di mana posisi pentingnya isu kesehatan nasional dalam debat capres nanti? Di antara ketiga paslon, tak satu pun ada yang tertinggal. Semua paslon sama-sama mengusung program-program unggulan di bidang kesehatan dalam kampanyenya. Paslon nomor urut 2, Prabowo-Gibran melemparkan program yang disebut unggulan, yaitu memberi makan siang dan susu gratis bagi seluruh anak Indonesia, untuk mencegah bahaya stunting. Dijelaskan oleh Hashim Djojohadikusumo, anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, dibutuhkan anggaran Rp450 triliun per tahun untuk mendanai program makan siang gratis itu. Usul program itu langsung memunculkan pro dan kontra di masyarakat.

Indonesian Human Genomic Mapping

If mastery of genome technology becomes more sophisticated, genome mapping data becomes more complete, disease patterns can be mapped.   The modernization of the national health system continues to move forward. Not long ago the Ministry of Health launched a program to collect data on the genomic population of Indonesia. The program, named Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), aims to collect data on 10,000 genomes and pathogens related to the Indonesian population by 2024 and will continue to increase in the following years. This project involves private partners and a genetic platform providing start-up companies, with the aim of providing precision medical services. If the mastery of genome technology in Indonesia becomes more advanced, genomic mapping data becomes more complete, and disease patterns can be mapped, both nationally and individually.

Pemetaan Genomik Manusia Indonesia

Jika penguasaan teknologi genom semakin canggih, data pemetaan genom semakin lengkap, pola penyakit dapat dipetakan. Modernisasi sistem kesehatan nasional terus bergerak maju. Belum lama ini Kementerian Kesehatan meluncurkan dimulainya program pengumpulan data genomik penduduk Indonesia. Program yang dinamai Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) ini menargetkan pada 2024 akan terkumpul data 10.000 genom dan patogen yang berkaitan dengan penduduk Indonesia dan akan terus bertambah pada tahun-tahun selanjutnya. Proyek ini melibatkan mitra swasta, perusahaan rintisan penyedia platform genetik, dengan tujuan menyediakan layanan pengobatan presisi. Jika penguasaan teknologi genom di Indonesia semakin canggih, data pemetaan genom semakin lengkap, pola penyakit dapat dipetakan, baik secara nasional maupun individual.