Artikel

Blog


Magnesium dan Gagal Ginjal Akut

Gagal ginjal akut sering terjadi meskipun frekuensinya lebih kecil dibandingkan dengan gagal ginjal kronik. Namun dari segi waktu fatalitas, gagal ginjal akut terjadi dalam waktu lebih singkat dibandingkan dengan gagal ginjal kronik. Hal ini karena memang sifat dari gagal ginjal akut yang mendadak.Gagal ginjal akut adalah masalah pada ginjal yang cukup sering dijumpai. Pada sejumlah orang yang masuk ke rumah sakit, diperkirakan sekitar 5,7% mengalami gagal ginjal akut, dimana 15% kondisi diantaranya akan berkembang menjadi lebih buruk sehingga harus menerima perawatan di ICU. Penyebab gagal ginjal akut bervariasi, seringkali terbagi menjadi penyebab pre-renal, renal, dan post-renal. Penyebab pre-renal berkaitan dengan volume darah yang turun akibat dehidrasi dan syok. Penyebab renal berkaitan dengan kerusakan ginjal secara langsung, yang disebabkan karena inflamasi, toksin, obat-obatan, dan infeksi. Sedangkan untuk penyebab post-renal dapat disebabkan karena adanya obstruksi aliran urine akibat batu dan tumor.

Kenali Gagal Ginjal Akut pada Covid-19

Hingga saat ini Covid-19 masih menjadi isu hangat dalam masyarakat. Saat kasus angka positif Covid-19 sudah mulai menurun di Indonesia, negara lain justru mengalami peningkatan kasus gelombang ketiga. Padahal cakupan vaksinasi negara lain lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Misalnya saja di Singapura mulai mengalami peningkatan kasus positif Covid-19, padahal cakupan vaksinasinya mencapai 86%. Hal ini berarti sangat mungkin bagi seseorang terinfeksi Covid-19 meskipun telah mendapatkan vaksinasi. Kasus berat Covid-19 dapat dialami oleh pasien dengan komorbid (peyakit penyerta) atau tidak komorbid. Penyakit komorbid yang sering menyertai adalah penyakit kardiovaskular (32%), diabetes (30%), penyakit paru kronis (18%), dan penyakit ginjal (7,6%).

Suasana Hati Buruk? Makan Sehat Aja!

Menghadapi pandemic COVID-19 yang tidak kunjung usai, seringkali kita merasa jenuh dengan kebiasaan sehari-hari. Belum lagi saat masa pandemi, kita tidak bisa banyak bertemu dengan kerabat lainnya, maupun pergi ke tempat keramaian tertentu. Sehingga tidak jarang kita mencari cara agar keluar dari kejenuhan. Untuk keluar dari kejenuhan tersebut tidak jarang orang akan mencari makanan manis, seperti cokelat, minuman bersoda, dan lain sebagainya. Padahal saat masa pandemi, aktivitas lebih kurang dibanding biasanya. Adanya pola makan yang buruk serta aktivitas yang kurang aktif membuat banyak orang jatuh dalam kondisi obesitas pada masa pandemi. Dampak dari obesitas dapat menurunkan produktivitas dan mengurangi mood. Ternyata masih ada cara lain untuk meningkatkan suasana hati di tengah pandemi, yaitu dengan makan makanan yang lebih sehat. Makanan sehat sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh di kala pandemi, juga dapat menjaga otak agar tetap sehat. Mengapa kita perlu menjaga otak tetap sehat?

Menilik Kondisi Obesitas di Arab Saudi

Setelah mempelajari bahaya obesitas yang khususnya membawa dampak pada kerusakan ginjal pada dua artikel sebelumnya, sekarang kita perlu melihat kondisi obesitas di dunia secara global. Secara sepintas, hal ini tidak nampak sebagai permasalahan yang serius, namun sesungguhnya obesitas ternyata tetap selalu berdampak besar pada segala aspek kehidupan termasuk sektor ekonomi. Perlu diketahui pada tahun 2014 diperkirakan 2 triliun dollar atau sekitar 30 ribu triliun rupiah pertahun ekonomi global terdampak oleh permasalahan obesitas di seluruh dunia. Permasalahan tersebut meliputi gangguan kesehatan tipe kronis yang dipicu salah satunya oleh obesitas seperti penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit kanker, diabetes, dan juga penyakit ginjal. Karena itulah, maka tak heran kalau fenomena epidemi obesitas yang hampir seluruh dunia mengalami suatu fenomena tersebut menjadi cepat di kenal luas secara global. Lalu bagaimana jelasnya demikian?

Konsumsi Serat Mengurangi Risiko Penyakit Ginjal Kronis

An apple a day keeps doctor away. Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti ini? Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, maka artinya adalah ‘sebuah apel setiap hari dapat menjauhkan kita dari dokter’. Kalimat ‘menjauhkan kita dari dokter’ bermakna sebagai ‘tidak sakit’. Apel dilambangkan sebagai makanan sehat dan mempunyai kadar serat tinggi, sehingga mengonsumsi makanan seperti ini akan membuat tubuh menjadi lebih sehat.  Pada zaman saat ini semuanya menjadi sangat cepat dan instan. Orang tidak lagi harus mencari makanan ke hutan untuk berburu makan siang, ataupun tidak perlu memancing untuk mendapatkan lauk. Akibatnya, banyak orang yang lebih memilih makanan cepat saji yang memiliki rasa enak dan tersedia dengan cepat. Makanan cepat saji umumnya memiliki kandungan gizi yang memiliki kalori tinggi dan lemak jenuh tinggi dengan rendah serat.