Artikel

Blog


Sarcopenia pada Gagal Ginjal Kronis

Di era pandemi semua aspek kehidupan terguncang oleh karena COVID-19 termasuk aspek kesehatan. Tanpa memandang perjalanan pandemi menuju endemi yang jelas penambahan kasus COVID-19 tetap dipermudah munculnya dari kelompok komorbid termasuk penyakit ginjal kronis (PGK). Dalam hal munculnya komorbid, PGK dalam perkembangannya juga bisa menghasilkan komorbid seperti munculnya penyakit jantung koroner, stroke, malnutrisi, dan lain-lainnya. Dalam hal malnutrisi sebagaimana yang pernah disebutkan dalam artikel-artikel sebelumnya, malnutrisi sesungguhnya mempunyai perspektif yang luas termasuk sarcopenia. Kasus sarcopenia sering didapatkan pada kelompok usia lanjut baik karena murni proses agingnya maupun karena suatu penyakit kronis termasuk PGK. Istilah sarcopenia sendiri hingga saat ini di Indonesia masih belum populer yang mungkin karena terdominasi oleh komorbid lainnya. Namun pada kenyataannya sesungguhnya bukan demikian. Kondisi tersebut juga bisa memberikan dampak besar pada kesehatan secara keseluruhan. 

Jangan Sembarangan Mengkonsumsi Vitamin D

Pada penutup dari artikel Perlukah Vitamin D pada Gagal Ginjal Kronis?, disebutkan bahwa akan lebih baik bila mengkonsumsi vitamin D dengan anjuran dokter, sehingga vitamin D didapatkan dalam jumlah yang adekuat bagi tubuh. Sebaliknya lihatlah bagaimana masyarakat yang meminum suplementasi vitamin D setiap hari akibat berita dan broadcasting-an mengenai COVID-19 tanpa aturan dan dosis yang sesuai. Sesungguhnya, ini menyiratkan bahwa kondisi kekurangan vitamin D tidak baik dan kelebihan vitamin D sama juga tidak baiknya. Bisa jadi Dokter mungkin saja akan menganjurkan pada pasien yang kekurangan vitamin D, untuk mengkonsumsi 1.500 miligram kalsium dan 1.000 unit vitamin D dengan tujuan meningkatkan kadar vitamin D yang semula rendah. Sehingga ketika kadar normal tercapai maka perlu penyesuaian kembali mengingat suplementasi ini hanya dalam rangka untuk memulihkan kadarnya kembali ke level normal hingga dapat berkontribusi pada sistem kesehatan tubuh secara optimal, tidak lebih dari itu.

Perlukah Vitamin D pada Gagal Ginjal Kronis?

Pada era pandemi COVID-19, salah satu vitamin yang marak digunakan oleh masyarakat adalah vitamin D. Sumber vitamin D didapatkan dari dua hal, yaitu paparan sinar ultraviolet B dan makanan/suplementasi. Vitamin D menunjukkan efek benefisial pada kesehatan jantung dan pembuluh darah, tulang, gigi, membantu mempertahankan sistem imun, serta memiliki efek yang positif pada ginjal.  Ginjal memiliki peranan penting untuk sintesis vitamin D dalam tubuh manusia. Ginjal mengubah vitamin D menjadi bentuk vitamin D aktif sehingga dapat digunakan dalam tubuh. Pada penderita gagal ginjal kronis, ginjal tidak dapat mengubah vitamin D menjadi aktif, sehingga tubuh menjadi kekurangan vitamin D. Oleh sebab inilah tidak jarang kita mendapati orang dengan gagal ginjal kronis juga menderita defisiensi vitamin D. 

Langkah Mudah Menangkal Serangan Penyakit Ginjal Kronis

Kita semua harus selalu sadar sesadar-sadarnya bahwa ”ginjal itu menakjubkan”. Organ yang besarnya hanya sekepal tangan tersebut tetap jauh lebih ajaib dan unggul ketimbang tiruannya, yakni mesin cuci darah yang sebesar kulkas kecil itu. Ginjal mampu melakukan banyak tugas penting untuk membuat kita tetap sehat. Di antaranya, menyeimbangkan air tubuh, menyingkirkan limbah tubuh, menghasilkan hormon, mengatur tekanan darah, berfungsi dalam pembuatan sel darah merah, dan menjaga kesehatan tulang. Kerennya lagi, dari 1.000 liter darah yang disaring, dihasilkan 100 liter cairan yang semuanya dikembalikan ke tubuh dan hanya sisa 1,5 liter akan dibuang menjadi air seni beracun setiap hari! Kerusakan organ yang berpasangan ini, akan berdampak besar di hidup kita. Perlahan tapi pasti, kerusakan ginjal secara diam-diam akan menggerogoti berbagai sistem di tubuh kita. Dibalik itu semua, secara segi mental, kesimpulan diagnosis dokter yang menyatakan kerusakan ginjal menghujam hati para pasien.

Lewatnya Perhatian Penyakit Ginjal Kronis selama Pandemi

Hingga kini kita semua masih terus melalui hari-hari penuh keprihatinan dari pandemi covid. Sudah masuk bulan ke 19 pandemi berjalan, namun masih saja belum jelas kapan pandemi berakhir meski para ahli telah meramal situasi sedang menuju endemi. Kita pun menyadari dengan rasa prihatin bahwa begitu banyaknya saudara kita yang sudah mendahului kita, di sisi lain ada juga yang pernah terkena covid tapi tidak bergejala.  Apapun dampak pandemi ini, itu harus diakui kalau pandemi ini telah mendominasi corak kehidupan manusia hingga bisa membenamkan berbagai permasalahan besar lainnya, seakan hilang dari perhatian utama. Salah satu contohnya, pandemi telah menjadikan penyakit ginjal kronis lepas dari perhatian utama. Untuk itu perlu kita sadari bersama bahwa penyakit ginjal kronis ini pun juga sebagai problem utama.