Artikel

Opini


‘Blessed’ Homecoming and Indian Setback

It is an amazing turnaround initial praise won over the progress toward herd immunity turning chaotic in just a short time due to “herd ignorance”. The alarming spike in coronavirus cases in India should serve as a prompt reminder for our country in the face of Lebaran (Idul Fitri). It is also worth pondering whether promoting local tourism is justifiable while we prohibit mudik (Idul Fitri exodus). One large crowd is prevented, but another is encouraged. We need to adopt an attitude of protecting our own safety. Let us look at India, which is now in the spotlight of global concerns. This country of 1.393 billion people is big in many ways and this time it is related to the coronavirus. India began vaccination rollout on January 16, 2021 and as of early March, 18 million people had been vaccinated. At one point, more than a million jabs were given daily, which is a world record. The ambition was that it expected to be able to vaccinate 300 million citizens in just seven months. The ambition and the following vaccination progress drew praise from various parties, including many circles in Indonesia.

Harap Cemas Universitas, Menuju Indonesia Emas

KITA sedang menjalani hitung mundur menuju Indonesia Emas 2045. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini hampir bersamaan waktunya dengan peringatan 76 tahun kemerdekaan. Harapan besar kita, nanti saat usia seabad kemerdekaan (1945-2045), seluruh rakyatnya bisa mengakses pendidikan dengan baik dan menghasilkan alumni pendidikan yang unggul dan kompeten serta berlevel global di bidang mereka. Peringatan Hardiknas kali ini dalam situasi pandemi tahun kedua yang belum mereda. Justru, ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk merenungkan sejenak, sejauh mana capaian proses pendidikan tinggi di negara kita. Salah satu pertanyaan pentingnya: cukup siapkah kita menyongsong 100 tahun kemerdekaan, sesuai dengan visi menjadi negara industri?

Mudik ”Rahmatan” dan Tragedi India

Kalau pemerintah masih mendua soal kerumunan libur Lebaran, kita harus mampu bersikap sendiri, yakni, jangan mudik, jangan berwisata. Bukankah kita semua makhluk otonom? Ledakan kasus korona di India bisa menjadi cermin tajam bagi negeri kita dalam menyongsong Lebaran. Perlu dipikirkan lagi, apakah sahih melarang mudik, tetapi mempromosikan wisata lokal. Satu gelombang besar kerumunan dicegah, tapi kerumunan yang lain dianjurkan. Kita perlu punya sikap untuk menjaga keselamatan diri. Mari kita menyimak India, yang kini jadi sorotan keprihatinan dunia. Negeri berpenduduk 1,393 miliar ini besar dalam banyak hal dan kali ini angka koronanya yang besar. India memulai vaksinasi 16 Januari 2021 dan sampai awal Maret sudah mencapai sekitar 18 juta warga yang disuntik.

'Protokol Meja Makan' Puasa era Pandemi

SUNATULLAH atau secara alamiah, tubuh manusia tidak bisa menjalankan fungsinya jika tidak ada asupan makanan. Tubuh manusia membutuhkan asupan nutrisi berupa makanan dan air yang mengandung mineral secara proporsional, agar tetap hidup dengan baik melalui dukungan penuh dari mesin homeostasis (biologi) tubuhnya. Istilah yang tepat adalah makan untuk hidup, dan jangan dibalik, agar mesin homeostasis tubuh tidak gampang menuju homeostenosis (menua). Ada kalanya tubuh sengaja dikosongkan dari asupan nutrisi dalam jangka waktu tertentu, untuk tujuan tertentu. Salah satu bentuk pengosongan nutrisi itu adalah yang disebut puasa. Jika sedang tidak puasa, tubuh membutuhkan sumber bahan bakar untuk menjalankan mesin kehidupan, agar dapat bergerak secara fisik, mental dan emosional. Rasa lapar adalah sinyal bahwa tubuh minta asupan nutrisi, minta makan.

Pembekuan Darah dan Tudingan Vaksin Haram

VAKSIN Astrazeneca membuat heboh. Belum lama, European Medicines Agency (EMA), Badan Obat-obatan Eropa yang bermarkas di Amsterdam, mengumumkan laporannya, bahwa vaksin Astrazeneca diduga kuat menimbulkan efek samping pembekuan darah yang berpotensi menyebabkan kematian. Tak lama kemudian, Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), Badan POM Inggris, juga mengumumkan telah mengidentifikasi kemungkinan hubungan antara vaksin Astrazeneca-Oxford dengan kasus pembekuan darah. Laporan EMA dan MHRA ini langsung menyulut kekhawatiran di kawasan Eropa. Dalam waktu singkat, 11 negara di Eropa menangguhkan penggunaan vaksin Astrazeneca dan disusul Thailand. Di Indonesia belum ditemukan kasus penggumpalan darah karena vaksin ini, tetapi sambil menunggu kajian lebih lanjut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan penangguhan penggunaan vaksin Astrazeneca (15/3).