Artikel

Opini


Puasa dan (Pencegahan) Gagal Ginjal Kronik

I fast for greater physical and mental efficiency (Saya berpuasa untuk efisiensi fisik dan mental yang lebih besar). Plato(428-348 SM), Filsuf dan Ahli Matematika Yunani Puasa bulan Ramadan, jelas wajib hukumnya bagi kaum Muslim yang sehat. Selama sekitar 14 jam, umat Muslim menahan diri untuk tidak makan minum, juga menahan emosi. Bagi yang sedang tidak sehat atau dalam kondisi tertentu, puasa menjadi tidak wajib. Di luar bulan Ramadhan, sebenarnya kita juga menjalani “puasa” tiap hari, yang waktunya antara tidur malam hingga pagi hari. Selama tidur itu kita tidak makan dan minum, sehingga tak ada asupan energi. Meski tidur, metabolisme tetap berlangsung dan membutuhkan bahan bakar, walau sekadar untuk mencukupi kebutuhan otak saja. Bahan bakar ini adalah zat gula atau yang disebut glukosa.

Pengendalian Pandemi Vs Kebebasan Sipil

PERANG melawan pandemi covid-1 9 makin berkobar. Presiden Joko Widodo optimistis akhir tahun pandemi ini tuntas. Setelah itu, Jokowi memprediksi wisata (utamanya) akan booming. Tentu saja, optimisme memang harus terus dijaga. Agar optimisme itu jadi kenyataan, selain terus berdoa, butuh ikhtiar yang lebih tangkas dan terukur tingkat keberhasilannya. Hingga saat ini, gerak pemerintah masih belum bisa mengimbangi kecepatan penyebaran virus, yang pernah di istilahkan Gubernur Negara Bagian New York, seperti kereta peluru. Setelah meremehkan di awal pandemi, pemerintah kini menghadapi dilema. Apakah memenuhi saran pakar medis agar bertindak cepat untuk membatasi pergerakan sipil secara ketat dan tegas atau lebih mendengar saran pakar ekonomi-sosial yang menginginkan jangan ada pembatasan yang terlalu ketat agar ekonomi tidak drop dan menghindari gejolak sosial. Gubernur DKI Anies Baswedan langsung bergerak cepat mengajukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hanya sehari setelah Peraturan Menteri Kesehatan resmi dikeluarkan.

Saat Korona Belokkan Imunitas Jadi Senjata Makan Tuan

Untuk menghindari kefatalan, selain mengandalkan vaksin yang sampai sekarang masih dalam proses percepatan riset, sangat penting upaya untuk menjaga dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Mengapa virus korona jenis baru (novel coronavirus) ini bisa sangat mematikan? Bagaimana virus bernama resmi Covid-19 ini menyerang tubuh dan mengapa bisa menyebabkan korban meninggal dalam waktu sangat cepat, 4-7 hari? Padahal, pada pasien HIV/AIDS umumnya perlu waktu bertahun-tahun menuju kefatalan. Kalau HIV/AIDS ibarat perang gerilya, Covid-19 menghancurkan dalam perang kilat (blitzkrieg). Gambaran kerusakan itu bisa dilihat dari sebuah video yang disebar di medsos. Dokter Keith Mortman, Kepala Bedah Toraks RS Universitas George, Washington, menunjukkan permodelan 3D untuk memperlihatkan betapa cepatnya Covid-19 menyerang paru-paru.

Bermitra Adang Pandemi

Penanggulangan pandemi Covid-19 memunculkan tanda perubahan tatanan geopolitik global. Wabah ini awalnya menghantam Cina, tetapi dalam waktu empat bulan mereka mempropagandakan sudah memenangkan perang melawan Covid-19. Angka penambahan pasien harian sudah di bawah 100 sejak dua pekan lalu dengan posisi total 81 ribuan kasus positif Covid-19. Lalu secara simbolis Chia mengirim dokter dan peranti pengobatan ke Italia yang sedang tersuruk “dimangsa”Covid-19. Saat Cina merasa terbebas dari Covid-19, mayoritas negara dunia dan lebih khusus negara Barat, justru sedang parah-parahnya. Di sekujur Eroba Barat dan Timur plus AS dan Kanada, virus dari Wuhan ini sedang mengamuk hebat. Cina dengan sangat kentara memanfaatkan posisinya yang sudah merasa tinggal finishing dalam mengatasi Covid-19, yakni menantang keadidayaan AS. Seakan ini sekuel baru dari perang dagang.

Tinggal Pilih Jaga Jarak atau Ambyar

SEKARANG beredar istilah baru covidiot, yang lahir dari pandemi covid-19. Karena istilah ini tidak mengenakkan, maka cocoknya hanya ditahbiskan kepada mereka yang super egois. Istilah ini merupakan bentuk kejengkelan pada orang-orang yang tak peduli penyebaran penyakit coronavirus disease 2019 (covid-19). Mereka yang tetap beraktivitas biasa secara sosial, tak mau diam di rumah, tetap tak menjaga jarak dengan orang-orang lain (social distancing). Akibatnya, mereka dapat menjadi kapal induk pembawa virus dan menyebarkannya ke banyak orang. Pantaslah mereka disebut para super egois yang ngawur di saat pandemi covid-19. Harus sepenuhnya diinsafi bahwa aktivitas berkumpul yang melibatkan banyak orang saat ini ialah berbahaya, membahayakan diri sendiri dan nyawa orang lain. Covid-19 ini menyebar luar biasa cepat, jauh lebih cepat daripada yang bisa kita lacak lewat uji tes yang alatnya baru mau diimpor itu.