Artikel

Opini


Celebrating Eid while Beware of XE Variant

  After two years of not celebrating Eid al-Fitr due to the pandemic, muslims can finally celebrate the end of fasting in the holy month of Ramadan. As a country with the largest muslim population in the world, the moment of this holiday is celebrated so lively with local traditions that we know as "Lebaran". As a tradition and part of Indonesian culture, Lebaran is strongly colored by the local atmosphere. Eid is marked by a large flow of going home (mudik). Millions of people flocked back to their hometowns using various modes of transportation. After Eid prayer, often held in open fields, people enjoy a variety of delicious dishes, followed by the tradition of visiting each other's relatives and neighbors, apologizing, and even the young paying respect to the elderly. Meanwhile, the children were busy choosing treats of various snacks and receiving Eid gifts from their parents and relatives. The atmosphere of Eid is full of brotherhood, delicious food, full of joy and full of blessings.

New Chapter of Superhuman Design

The government and expert associations should set up a committee of experts in charge of compiling all matters regarding genomic research, such as academic studies, research governance, clinical trial procedures. The human genome has been completely sequenced. This scientific achievement for humanity deserves to be celebrated. Researchers across countries collaborating in the Human Genome Sequencing Consortium have succeeded in mapping and sequencing the complete human genome, the whole genetic information of human beings. Made up of superpowers the United States, the United Kingdom, Japan, France, Germany and China, the consortium began the major research project in 1990. They successfully started mapping the human genome in 2003, but 15 percent of the segment remained unrevealed. By the end of March 2022, the genome sequence was complete.

Berlebaran sambil Mewaspadai Varian XE

SETELAH dua tahun tidak merayakan Lebaran karena pandemi, akhirnya sepekan lagi umat Islam akan bisa merayakan Idul Fitri lagi, hari raya berakhirnya puasa di bulan suci Ramadan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, momen hari raya ini dirayakan begitu menggema dengan tradisi lokal yang kita kenal dengan Lebaran. Sebagai tradisi dan bagian dari budaya Nusantara, Lebaran sangat kental dengan suasana lokal. Lebaran ditandai salah satunya dengan arus besar mudik. Jutaan orang berbondong-bondong balik ke kampung halaman asalnya menggunakan beragam moda transportasi. Setelah salat id di lapangan, kita menikmati beragam hidangan yang serbanikmat. Dilanjutkan dengan tradisi saling berkunjung ke kerabat dan tetangga, bermaafan, bahkan sungkem pihak yang muda ke yang sepuh. Sementara itu, anak-anak sibuk memilih suguhan aneka camilan dan menerima uang hadiah Lebaran dari para orangtua dan kerabatnya. Suasana lebaran penuh persaudaraan dan makan enak, sungguh membahagiakan penuh berkah.

Babak Baru Rancang Manusia Super

Para peneliti lintas negara yang berkolaborasi dalam Konsorsium Pengurutan Genom Manusia berhasil memetakan dan mengurutkan genom manusia. Terbuka jalan untuk mengetahui dan memahami cetak biru manusia secara lengkap. Genom manusia sepenuhnya sudah berhasil diurutkan. Kerja besar saintifik kemanusiaan ini sangat pantas dirayakan. Para peneliti lintas negara yang berkolaborasi dalam Konsorsium Pengurutan Genom Manusia telah berhasil sepenuhnya memetakan dan mengurutkan genom (keseluruhan informasi genetika) manusia. Tak tanggung-tanggung, konsorsium ini didukung negara-negara adidaya, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, dan China.Proyek ini, penelitian kolaborasi besar yang dimulai sejak 1990, dan pada 2003 berhasil memetakan genom manusia, tetapi belum lengkap sepenuhnya, masih menyisakan 15 persen segmen yang belum terungkap.

Ketua Badan Kesehatan MUI JATIM Djoko Santoso : Menyambut Berkah Ramadan di Ujung Pandemi

ALHAMDULILLAH, kita memasuki bulan Ramadan yang penuh berkah dengan kondisi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dua tahun berturut-turut kita menjalani Ramadan dalam kondisi tertekan karena serangan hebat pandemi Covid-19 sehingga pemerintah memutuskan melarang mudik Lebaran.  Kita pernah mengalami masa mencekam di mana kasus harian melonjak sampai di atas 60 ribu kasus, rumah sakit reguler dan RS Darurat penuh pasien hingga antre di lorong-lorongnya. Dan, tiap jam terdengar raungan mobil ambulans membawa jenazah menuju pemakaman. Namun sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik. Relatif terkendali meskipun belum sepenuhnya bebas pandemi.  Data per 6 April menunjukkan penambahan 2.400 kasus, jumlah yang cukup rendah bila dibandingkan pada Ramadan tahun lalu yang berkisar 5.000 an kasus baru per hari, dan saat Idul Fitri menjadi awal meledaknya serangan gelombang kedua varian Delta yang memakan banyak korban jiwa.