Artikel

Opini


Mudik ”Rahmatan” dan Tragedi India

Kalau pemerintah masih mendua soal kerumunan libur Lebaran, kita harus mampu bersikap sendiri, yakni, jangan mudik, jangan berwisata. Bukankah kita semua makhluk otonom? Ledakan kasus korona di India bisa menjadi cermin tajam bagi negeri kita dalam menyongsong Lebaran. Perlu dipikirkan lagi, apakah sahih melarang mudik, tetapi mempromosikan wisata lokal. Satu gelombang besar kerumunan dicegah, tapi kerumunan yang lain dianjurkan. Kita perlu punya sikap untuk menjaga keselamatan diri. Mari kita menyimak India, yang kini jadi sorotan keprihatinan dunia. Negeri berpenduduk 1,393 miliar ini besar dalam banyak hal dan kali ini angka koronanya yang besar. India memulai vaksinasi 16 Januari 2021 dan sampai awal Maret sudah mencapai sekitar 18 juta warga yang disuntik.

'Protokol Meja Makan' Puasa era Pandemi

SUNATULLAH atau secara alamiah, tubuh manusia tidak bisa menjalankan fungsinya jika tidak ada asupan makanan. Tubuh manusia membutuhkan asupan nutrisi berupa makanan dan air yang mengandung mineral secara proporsional, agar tetap hidup dengan baik melalui dukungan penuh dari mesin homeostasis (biologi) tubuhnya. Istilah yang tepat adalah makan untuk hidup, dan jangan dibalik, agar mesin homeostasis tubuh tidak gampang menuju homeostenosis (menua). Ada kalanya tubuh sengaja dikosongkan dari asupan nutrisi dalam jangka waktu tertentu, untuk tujuan tertentu. Salah satu bentuk pengosongan nutrisi itu adalah yang disebut puasa. Jika sedang tidak puasa, tubuh membutuhkan sumber bahan bakar untuk menjalankan mesin kehidupan, agar dapat bergerak secara fisik, mental dan emosional. Rasa lapar adalah sinyal bahwa tubuh minta asupan nutrisi, minta makan.

Pembekuan Darah dan Tudingan Vaksin Haram

VAKSIN Astrazeneca membuat heboh. Belum lama, European Medicines Agency (EMA), Badan Obat-obatan Eropa yang bermarkas di Amsterdam, mengumumkan laporannya, bahwa vaksin Astrazeneca diduga kuat menimbulkan efek samping pembekuan darah yang berpotensi menyebabkan kematian. Tak lama kemudian, Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), Badan POM Inggris, juga mengumumkan telah mengidentifikasi kemungkinan hubungan antara vaksin Astrazeneca-Oxford dengan kasus pembekuan darah. Laporan EMA dan MHRA ini langsung menyulut kekhawatiran di kawasan Eropa. Dalam waktu singkat, 11 negara di Eropa menangguhkan penggunaan vaksin Astrazeneca dan disusul Thailand. Di Indonesia belum ditemukan kasus penggumpalan darah karena vaksin ini, tetapi sambil menunggu kajian lebih lanjut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan penangguhan penggunaan vaksin Astrazeneca (15/3).

Responding to the New Covid-19 Variant

A year after we entered the Covid-19 pandemic, the light at the end of the tunnel seems to be more distant. According to data issued by the Covid-19 task force, it seems that we have reached the peak of the Covid-19 curve. However, after the global curve flattened drastically, it seems to be rising again slowly. Data from the task force shows that the peak of the curve was reached on Jan. 30, 2021, when the number of new daily cases reached a high of 14,518. By March 13, the number of daily cases had dropped dramatically to 4,607. For comparison, at the same time, Brazil surpassed India to become the second-worst-hit country from Covid-19 pandemic. According to data from the Worldometers website from 19 March, the first place was still held by the United States with 30,357,255 cases, nearly 10 percent of the US population of 332 million.

Menyikapi Varian Baru Covid-19

Menghadapi ancaman varian virus yang baru, mau tak mau kita harus mengulang ajakan klise: perbanyak ”tracing” dan ”testing” spesimen, patuhi protokol kesehatan dan pemerintah tegas dalam penegakan tanpa pandang bulu. Setelah satu tahun pandemi Covid-19 kita lalui, titik terang terasa menjauh lagi. Merujuk ke data di Satgas Penanganan Covid-19, tampaknya memang puncak kurva telah kita lalui. Begitupun puncak kurva global sempat melandai drastis. Namun, pelan-pelan kurva itu naik lagi. Data Satgas menunjukkan, puncak kurva tercapai 30 Januari 2021, saat penambahan kasus harian sebanyak 14.518 kasus baru, dan 13 Maret lalu penambahan kasus harian turun drastis menjadi 4.607 kasus baru. Sebagai pembanding, pada saat yang sama, Brasil sedang menyalip India dalam perebutan ranking kedua negara dengan kasus positif terbanyak di dunia. Data Worldometer 19 Maret, peringkat pertama masih tetap dipegang Amerika Serikat dengan 30.357.255 kasus, hampir 10 persen dari penduduk AS yang 332 juta.