Artikel

Opini


Bermitra Adang Pandemi

Penanggulangan pandemi Covid-19 memunculkan tanda perubahan tatanan geopolitik global. Wabah ini awalnya menghantam Cina, tetapi dalam waktu empat bulan mereka mempropagandakan sudah memenangkan perang melawan Covid-19. Angka penambahan pasien harian sudah di bawah 100 sejak dua pekan lalu dengan posisi total 81 ribuan kasus positif Covid-19. Lalu secara simbolis Chia mengirim dokter dan peranti pengobatan ke Italia yang sedang tersuruk “dimangsa”Covid-19. Saat Cina merasa terbebas dari Covid-19, mayoritas negara dunia dan lebih khusus negara Barat, justru sedang parah-parahnya. Di sekujur Eroba Barat dan Timur plus AS dan Kanada, virus dari Wuhan ini sedang mengamuk hebat. Cina dengan sangat kentara memanfaatkan posisinya yang sudah merasa tinggal finishing dalam mengatasi Covid-19, yakni menantang keadidayaan AS. Seakan ini sekuel baru dari perang dagang.

Tinggal Pilih Jaga Jarak atau Ambyar

SEKARANG beredar istilah baru covidiot, yang lahir dari pandemi covid-19. Karena istilah ini tidak mengenakkan, maka cocoknya hanya ditahbiskan kepada mereka yang super egois. Istilah ini merupakan bentuk kejengkelan pada orang-orang yang tak peduli penyebaran penyakit coronavirus disease 2019 (covid-19). Mereka yang tetap beraktivitas biasa secara sosial, tak mau diam di rumah, tetap tak menjaga jarak dengan orang-orang lain (social distancing). Akibatnya, mereka dapat menjadi kapal induk pembawa virus dan menyebarkannya ke banyak orang. Pantaslah mereka disebut para super egois yang ngawur di saat pandemi covid-19. Harus sepenuhnya diinsafi bahwa aktivitas berkumpul yang melibatkan banyak orang saat ini ialah berbahaya, membahayakan diri sendiri dan nyawa orang lain. Covid-19 ini menyebar luar biasa cepat, jauh lebih cepat daripada yang bisa kita lacak lewat uji tes yang alatnya baru mau diimpor itu.

Tangkas Melawan Pandemi

Hanya sehari setelah menyatakan wabah Covid-19 sebagai pandemi, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus menyurati Presiden Jokowi. WHO meminta agar Presiden Jokowi segera menyatakan darurat nasional, membangun laboratorium dengan skala memadai, memperluas pencarian kasus, pelacakan, pengawasan dan pendataan secara cermat, menggencarkan langkah pencegahan termasuk mengajak warga masyarakat agar sering mencuci tangan. Beberapa pihak menilai, WHO terlalu mendikte dan menggurui. Tapi, inilah respons “gemas” organisasi kesehatan dunia itu melihat respons Indonesia yang dinilai masih terlalu santai. Dua bulan lebih Kemenkes membanggakan status nol pasien positif Covid-19. Tapi Senin (2/3), dua pekan lalu, pertahanan itu jebol. Presiden mengumumkan dua WNI positif terkena Covid-19. Ada warga Jepang berkunjung ke Indonesia, kemudian berlanjut ke Singapura.

Hidup Sehat dengan Satu Ginjal

MENYAMBUT Hari Ginjal Sedunia yang tahun ini jatuh pada 12 Maret, ada baiknya kita mengakrabkan diri dengan kata 'sakit ginjal'. Sampai hari ini, kata sakit ginjal bisa mengundang rasa takut. Seorang pasien yang didiagnosis menderita sakit ginjal bisa langsung syok. Bayangannya ialah harus cuci darah seminggu dua kali atau bahkan tiga kali yang menyedot biaya sangat besar dan keterbatasan gerak fisik tubuhnya, bahkan mungkin lebih dari itu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar penderita sakit ginjal sangat syok ketika dokter memvonis gagal ginjal tahap akhir dan memberinya dua pilihan: harus cuci darah atau cangkok ginjal. Andaikan waktu bisa putar, semua pasien penyakit ginjal kronis pasti berjanji mengikuti semua saran dokter tanpa membantah. Namun, apa hendak dikata, sudah terlambat. Pasien gagal ginjal kronis harus memilih salah satu opsi, cuci darah atau cangkok ginjal. Apakah penyakit ginjal sedemikian menakutkan?

Atasi Kesenjangan Kesehatan

Pada 15 Juli 2019, Kementerian Kesehatan merilis Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2018. Ini adalah metode untuk mengukur perkembangan tingkat kesehatan masyarakat antarwilayah. Penghitungannya menggunakan model IPKM yang dikembangkan 2013. Basis datanya dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Susenas 2018, dan pendataan Potensi Desa (Podes) 2018. Hasilnya,  secara umum IPKM 2018 meningkat  dibandingkan IPKM 2013. Sepuluh kota dengan IPKM tertinggi adalah Gianyar, Solok, Kota Magelang, Tabanan, Kota Denpasar, Badung, Kota Salatiga, Sarolangun, Sleman, dan Kota Blitar. Hebatnya, empat dari 10 kota ini ada di Provinsi Bali. Sementara 10 kota dengan IPKM sangat rendah  adalah Arfak, Deiyai, Yalimo, Mamberamo Raya, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Nduga, Tolikara, Dogiyai, dan Paniai. Ironisnya, semua kota ini ada di Papua. Jadi, bisa dikatakan, provinsi dengan IPKM tertinggi adalah Bali, dan terendah di Papua.