Jangan Sembarangan Mengkonsumsi Vitamin D


Pada penutup dari artikel Perlukah Vitamin D pada Gagal Ginjal Kronis?, disebutkan bahwa akan lebih baik bila mengkonsumsi vitamin D dengan anjuran dokter, sehingga vitamin D didapatkan dalam jumlah yang adekuat bagi tubuh. Sebaliknya lihatlah bagaimana masyarakat yang meminum suplementasi vitamin D setiap hari akibat berita dan broadcasting-an mengenai COVID-19 tanpa aturan dan dosis yang sesuai. Sesungguhnya, ini menyiratkan bahwa kondisi kekurangan vitamin D tidak baik dan kelebihan vitamin D sama juga tidak baiknya.

Bisa jadi Dokter mungkin saja akan menganjurkan pada pasien yang kekurangan vitamin D, untuk mengkonsumsi 1.500 miligram kalsium dan 1.000 unit vitamin D dengan tujuan meningkatkan kadar vitamin D yang semula rendah. Sehingga ketika kadar normal tercapai maka perlu penyesuaian kembali mengingat suplementasi ini hanya dalam rangka untuk memulihkan kadarnya kembali ke level normal hingga dapat berkontribusi pada sistem kesehatan tubuh secara optimal, tidak lebih dari itu. Namun ketika ada yang mengatakan ini untuk menurunkan risiko terkena kanker payudara sesungguhnya hal ini tidak tepat demikian oleh karena penelitiannya masih dalam skala terbatas. Dalam cerita lain, pada mereka yang mengonsumsi 2.000 IU vitamin D sehari sementara kadar vitamin D mereka normal, sesungguhnya mereka pun dalam kondisi kontraproduktif yang malah akan merugikan. Jika diteruskan justru akan meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, kanker, batu ginjal, pengapuran di pembuluh darah dan penyakit lainnya.

Dari sudut fungsi vitamin D memang jelas ada manfaat nya.  Manfaat tersebut di antaranya: untuk proses metabolisme tulang, memperkuat sistem kekebalan, dan menurunkan risiko penyakit seperti diabetes, penyakit jantung dan ginjal, tekanan darah tinggi dan kanker. Namun itu tidak lantas secara sederhana sembarang dikonsumsi. Ini dibutuhkan panduan dokter.

Dokter terlebih dahulu, akan mengkonfirmasi apakah betul ada kekurangan Vitamin D ketika akan memberikan kepadanya. Apakah betul mereka memiliki kadar vitamin D darah di bawah 15 atau 20 nanogram per mililiter. Ketika memang ada indikasi untuk diberi tambahan vitamin D, maka dokter akan menjalankan dengan prinsip tepat indikasi, tepat dosisnya, tepat obatnya, tepat cara pemberiannya, dan tahu cara memonitoring nya dari efek samping yang ditimbulkan. Dokter akan menargetkan pada mereka dengan kadar vitamin D sampai di posisi 30 nanogram/liter. Sampai kadar tersebut tercapai, maka dokter akan mempertimbangkan penyesuaian dosis atau bila perlu menghentikannnya untuk di gantikan dengan cara memodifikasi pola hidup. Misalnya dianjurkan untuk membiasakan berjemur selama 10 sampai 15 menit sehari, menkonsumsi lebih banyak ikan (misal 3,5 ons) dan susu (0,5 -1 liter perhari), serta menghentikan kebiasaan merokok. 

Kasus kekurangan Vitamin D di masyarakat layaknya sebuah fenomena gunung es yang sering kali terabaikan namun sesungguhnya demikian banyak. Berdasar laporan The American Journal of Clinical Nutrition(2008) di sebutkan ada sebanyak setengah dari semua orang dewasa dan anak-anak dikatakan memiliki tingkat yang kurang optimal dan sebanyak 10 persen anak-anak sangat kekurangan. Angka ini bukan kecil, itu angka besar. Mengacu hal ini, maka perlu respon dari pihak berkompeten dengan program peduli vitamin D. Program ini dimaksudkan untuk menghindari konsumen agar tidak sembarangan melahap suplemen vitamin D tanpa panduan dokter. Dalam hal ini juga  perlu panduan nutrisi dengan dosis terkontrol hingga benar-benar membuat orang lebih sehat dalam konteks pemulihan vitamin D. Saat ini, dosis yang direkomendasikan dari makanan dan suplemen adalah sekitar 400 unit internasional sehari untuk kebanyakan orang, tetapi sebagian besar ahli setuju bahwa itu mungkin terlalu rendah dan perlu penyesuaian lebih lanjut dalam rangka memperoleh manfaat kesehatan tambahan.

Menurut Dr Jo Ann E. Manson, Profesor HARVARD sebagaimana ditulis Tara Parker-Paus di NewYork Times yang berjudul: Vitamin D, Miracle Drug: is it Science, or just Talk? , mereka memperingatkan  agar lebih hati- hati dalam soal penambahan Vitamin D. Nutrisi yang mengandung vitamin D dosis tinggi tidak benar-benar membuat orang lebih sehat. Artinya mereka menganjurkan untuk seperlunya dalam penambahan VITAMIN D hanya ketika dalam kondisi kekurangan Vitamin D. 

Bagi mereka yang banyak berolahraga dan mendapatkan paparan sinar ultraviolet dari berolahraga di luar ruangan serta memiliki pola makan yang sehat, tidak merokok dan melakukan banyak hal lain yang membuat tubuh tetap sehat, semua itu biasanya memiliki kadar vitamin D yang tinggi. Mereka ini cukup dalam program promosi/prevensi dari konteks vitamin D.

Sebaliknya, berikut ini orang yang paling berisiko kekurangan vitamin D adalah orang yang lebih tua, menderita diabetes atau penyakit ginjal, tinggal di dalam rumah. Remaja berada pada risiko yang sangat tinggi, mereka cenderung pada tahap pertumbuhan kehidupan ketika mereka mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat. Kelompok inilah yang harus masuk dalam program peduli vitamin D agar ada pada kondisi aman ketika akan mengembalikan kadar Vitamin D pada posisi normal. 

Begitulah gambaran Vitamin D dalam hal program promosi, prevensi dan pengobatan yang proporsional hingga bisa membangun/ mempertahankan tulang, memperkuat sistem kekebalan, dan dalam beberapa penelitian dapat pula dianggap menurunkan risiko penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan kanker.[]

Prof Djoko Santoso

 

Sumber gambar: https://lifestyle.okezone.com/read/2021/08/23/298/2459816/jangan-sembarangan-minum-vitamin-d-ini-tips-aman-mengonsumsinya



Comments