Puasa dan (Pencegahan) Gagal Ginjal Kronik


I fast for greater physical and mental efficiency
(Saya berpuasa untuk efisiensi fisik dan mental yang lebih besar). 
Plato(428-348 SM), Filsuf dan Ahli Matematika Yunani

Puasa bulan Ramadan, jelas wajib hukumnya bagi kaum Muslim yang sehat. Selama sekitar 14 jam, umat Muslim menahan diri untuk tidak makan minum, juga menahan emosi. Bagi yang sedang tidak sehat atau dalam kondisi tertentu, puasa menjadi tidak wajib.

Di luar bulan Ramadhan, sebenarnya kita juga menjalani “puasa” tiap hari, yang waktunya antara tidur malam hingga pagi hari. Selama tidur itu kita tidak makan dan minum, sehingga tak ada asupan energi. Meski tidur, metabolisme tetap berlangsung dan membutuhkan bahan bakar, walau sekadar untuk mencukupi kebutuhan otak saja. Bahan bakar ini adalah zat gula atau yang disebut glukosa.

Selama tidur, tak ada asupan glukosa dari luar karena tak ada makanan masuk. Maka tubuh akan mengambil glukosa dari dalam tubuh. Caranya, glukosa yang disimpan sebagai cadangan energi di liver atau sel otot, dipecah.  Proses ini menghasilkan energi yang digunakan dalam metabolisme. Energi ini akan bertahan sampai sekitar 12 jam. Jika lewat dari itu belum juga mendapat asupan glukosa dari makanan yang masuk,  maka otomatis akan mengambil glikogen dari otot untuk bahan bakar. 

Bagaimana jika setelah itu tetap saja belum mendapat asupan glukosa dari luar? Misal pada fakir miskin yang seharian belum juga mendapat rejeki? Bisa lebih parah, karena cadangan energi di otot akan diambil untuk bahan bakar metabolisme.  Akibatnya, ketebalan jaringan otot menipis, karena lemaknya dibakar untuk metabolisme. Lemak itu diubah menjadi keton, melalui proses yang disebut katabolisme.  Keton ini bukan termasuk kelompok glukosa, tapi merupakan hasil dari pemecahan lemak dalam proses pembuatan bahan bakar. Nah, sumber energi dari keton ini akan digunakan oleh otak, selama tubuh masih belum mendapat asupan glukosa yang berasal dari makanan.  

Jadi jika seseorang berpuasa kelewat lama, maka secara berangsur otot dan lemaknya makin terkikis habis, dibakar untuk metabolisme. Bahkan jika durasi puasanya sangat lama,  tubuh akan terpaksa mengambil protein sebagai energi pembakaran. Jika kondisi kelaparan berkepanjangan, bisa menimbulkan komplikasi fatal, karena terjadi peningkatan keton melebihi kadar normal, gangguan elektrolit, kerontokan rambut, denyut jantung tak teratur dan gagal ginjal. 

 

Puasa Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik

Sebenarnya, banyak sekali manfaat puasa bagi kesehatan. Antara lain mendorong pengurangan kalori, menurunkan risiko kanker, penyakit jantung kardiovaskular, diabetes, resistensi insulin, gangguan imun, dan melambatkan proses penuaan. Puasa juga bisa menekan resistensi insulin, meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan morbiditas (keterjangkitan penyakit), memperbaiki profil lemak darah dan meningkatkan usia harapan hidup.  Pokoknya, puasa mendatangkan banyak manfaat bagi kesehatan.

Sebagaimana diketahui, ada risiko gagal ginjal kronik (GGK) yang dikarenakan perilaku masyarakat atau  kondisi sosial. Misalnya, dikarenakan kebanyakan makan dan kurang olahraga,  maka separo dari populasi usia 40 tahun ke atas menderita kelebihan berat badan. Diantara populasi tersebut, saat ini diperkirakan sekitar 171 juta penduduk dunia terkena diabetes. Tragisnya lagi, sebanyak 75 juta dari yang kena diabetes itu berada di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.Mereka ini terancam terkena diabetes dan hipertensi. Kalau sudah kena dua penyakit itu, maka ginjalnya bisa terancam. Kondisi yang kurang menguntungkan ini diperparah dengan makin menjamurnya food court dengan makanan siap saji. Kebanyakan makanan siap saji sangat miskin serat, sementara kandungan gula dan karbohidratnya sangat tinggi. Jadi, makin banyak orang tua yang memanjakan anaknya menjadi penggemar makanan siap saji, berarti makin cepat pula terbentuknya generasi penerus yang tidak sehat. 

Dengan menjalankan puasa Ramadan, secara tak langsung membantu upaya pencegahan dini terhadap ancaman gagal ginjal kronik.  Pada level tertentu, gagal ginjal kronik akan mengakibatkan perubahan sistem hormonal. Penderita GGK yang penyebabnya bukan dari diabetes, insulin tubuhnya cenderung resisten terhadap reseptornya di perifer, hingga menghasilkan  kadar gula yang relatif tinggi (gula darah puasa >140 mg/dl). Pada kondisi ini, berpuasa akan membantu proses pemulihannya. Porsi asupan protein menurun dan beban ginjal menjadi ringan, sehingga perkembangan gangguan ginjal akan melambat. Pada kasus ini, berpuasa akan berdampak positif.

Tapi harap hati-hati. Akan lain halnya jika menyangkut pasien GGK yang disebabkan diabetes. Pasien sering memerlukan penurunan dosis obat diabetes atau insulin, karena terjadi penurunan pembersihan insulin oleh ginjalnya. Jika berpuasa, cenderung akan mengalami hipoglikema (kadar gula darahnya dibawah normal) secara spontan yang membahayakan sel otak, bahkan bisa koma. Nah, pasien demikian ini akan berbahaya jika nekat berpuasa. Pada kasus ini, berpuasa akan berdampak negatif. 

Maka bagi penderita gagal ginjal kronis, konsultasikan dulu dengan dokter jika ingin berpuasa di bulan suci Ramadhan ini. Tentu, agar puasanya juga membawa barokah bagi kesehatan tubuhnya. Selamat Berpuasa. 

(*)Penulis adalah: Ahli Ginjal-Hipertensi, Staf RS. Soetomo-FK Unair, menyelesaikan Ph.D dari Juntendo University-JAPAN. 

Sumber: Puasa dan (Pencegahan) Gagal Ginjal Kronik. Opini - Jawa Pos, 12 Agustus 2012.
Sumber gambar: liputan6.com

Source:
Keywords: