Tewasnya Tiga Teknisi Sukhoi


Rumah Ginjal - KASUS tewasnya tiga teknisi pesawat Sukhoi asal Rusia di Makassar awal pekan lalu (13/9/2010) menjadi berita besar. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, hasil otopsi menunjukkan bawah tiga korban itu meninggal karena keracunan methyl alcohol atau metanol (17/9/2010).

Sebelumnya, Mabes Polri memastikan tiga teknisi Sukhoi tersebut tewas karena keracunan metanol dari spiritus. Diduga, spiritus itu berasal dari pembersih kaca pesawat. Puslabfor Mabes Polri menemukan kandungan metanol berlebih dalam tubuh para korban. Zat tersebut ditemukan di lambung, ginjal, serta paru kiri dan kanan. Zat itu tergolong sangat berbahaya bagi tubuh bila diminum.

Tragedi tersebut menjadi berita besar karena kebetulan berbarengan dengan kedatangan tiga pesawat Su-27 SKM yang akan memperkuat jajaran TNI-AU dengan home base di Lanud Makassar. Berita dan foto kedatangan pesawat angkut An 140 yang memuat pesawat tempur supersonik kebanggaan Rusia SU-27 SKM ditimpali pernyataan pejabat TNI-AU yang menyesalkan perilaku para teknisi Rusia yang suka mabuk itu.

Sebenarnya, kejadian semacam itu bukan sesuatu yang istimewa, namun tetap memilukan karena kejadian di masyarakat kita begitu sering. Belum lama diberitakan di Jakarta, 12 warga tewas karena minuman keras oplosan. Sebelumnya juga, delapan tewas karena kasus yang sama, menenggak ciu yang dioplos dengan berbagai bumbu istimewa: mulai larutan antinyamuk hingga spiritus.

Kehebatan kreativitas dan keahlian para ”drunken master” dalam meracik minuman keras oplosan tersebut selalu terbukti, mengantar puluhan nyawa ke alam baka. Berita semacam itu selalu muncul secara periodik, sehingga publik tidak terlalu kaget. Tapi, ketika kejadian tersebut menimpa teknisi Rusia dan berurusan dengan pesawat tempur impor SU-27 SKM yang akan menjadi tulang punggung alutsista TNI-AU, jadilah heboh besar.

Karakter Metanol

Bagaimana spiritus yang dioplos ke minuman keras bisa menjadi pencabut nyawa? Keracunan kimiawi seperti metil alkohol (metanol) adalah relatif umum. Metanol itu merupakan molekul kecil yang dapat membuat kepekatan plasma sebesar 80 mg/dl =25 mosmol/kg. Untuk kita ketahui, metanol umumnya dipakai untuk bahan seperti lak, pernis, penghapus cat, larutan pembersih kaca mobil, cairan mesin fotokopi, serta untuk membuat etanol yang tidak boleh dikonsumsi.

Metanol diserap dengan cepat dan sempurna dalam saluran makanan dan mencapai kadar puncak dalam 12-48 jam setelah diminum. Metanol didistribusikan ke seluruh cairan tubuh dengan volume distribusi 0,7 liter/kg berat badan. Di tubuh, metanol dimetabolisme (diproses) menjadi formaldehida dalam reaksi yang dikatalis oleh enzim alcohol dehydrogenase dan lalu menjadi asam format yang kemudian membuat tubuh kelebihan asam yang mengakibatkan korban menjadi sesak napas karena asidosis metabolik dan kerusakan pada retina.

Eliminasinya melalui metabolisme hati dan sisanya 10 persen dikeluarkan melalui ginjal tanpa mengalami perubahan. Pada overdosis ringan, kecepatan eliminasinya 14-20 jam. Pada kasus overdosis berat, eliminasinya membutuhkan waktu 24-30 jam. Penghambatan alkohol dehidrogenase oleh etanol 100-150 mg/dl melambatkan waktu eliminasi menjadi 30-35 jam.

Timbulnya keracunan metanol bervariasi dan mungkin lambat dan tidak adanya tanda serta gejala segera setelah minum. Hal itu sebaiknya tidak disamakan dengan tidak adanya toksisitas sesudahnya. Keluhannya merupakan akumulasi metabolitnya, terutama asam format dan umumnya munculnya lambat sekitar 12-36 jam.

Manifestasi awal yang diakibatkan metanol berupa mual, muntah, nyeri perut, penurunan ketajaman penglihatan, sakit kepala, vertigo (kepala berputar), dan bingung pada overdosis ringan. Kemudian, manifestasi lanjut disebabkan oleh metabolitnya yang berupa asam format berupa sesak napas karena asidosis metabolik, kerusakan retina dan asidosis karena akumulasi asam format, asam laktat (akibat perfusi yang buruk), dan keton.

Pencegahan

Treatment diperlukan untuk mencegah kematian atau kebutaan permanen. Terapi dengan cara dekontaminasi saluran pencernaan diindikasikan segera setelah minum. Charcoalteraktivasi tidak efektif. Bersihan ginjal tidak meningkat dengan pemberian obat injeksi sejenis furosemid yang bisa mempercepat produksi urine. Asidosis diatasi dengan natrium bikarbonat. Kejang diatasi dengan pemberian diazepam dan fenitoin.

Terapi etanol untuk mencegah pembentukan metabolit toksik diindikasikan pada pasien simtomatik atau memiliki kadar metanol > 20-30 mg/dl. Etanol lewat injeksi intravena atau minum adalah efektif karena alcohol dehydrogenase, enzim yang perlu untuk metabolisme metanol dan ethylene glycol menjadi metabolit toksik tersebut 10 kali lebih afinitasnya untuk etanol daripada yang metanol atau ethylene glycol.

Puncak efek itu adalah ketika kandungan alkohol darah 100-200 mg/dl, suatu level yg dicapai dengan regimen: pada kelompok yang tidak peminum: dosis awalnya 0,6 gram/kg (10 cc/kg BB per jam etanol 10 persen) dilanjutkan dengan menambah 66mg/kg setiap jam (3 cc/kg bb per jam).

Sementara itu, pada peminum, dilanjutkan dengan menambah 154 mg/kg bb. Pada yang melakukan cuci darah, dosisnya ditambah 240 mg/kg bb. Terapi harus dilanjutkan sampai kadar metanol turun dibawah 6 mmol (20 mg/dl) dan semua tanda toksisitas berkurang.

Cuci darah dimaksudkan untuk mengeluarkan metabolitnya. Cuci darah diindikasikan pada kadar metanol 15 mmol/l (50 mg/dl) untuk pasien dengan tanda penurunan penglihatan dan bila kelainan klinis atau metabolik tidak respons dengan terapi sebelumnya.

Untuk pasien yang datang terlambat (12-24 jam), etanol sebaiknya digunakan untuk menghambat konversi lebih lanjut dari metanol menjadi asam format dan natrium bikarbonat untuk asidosis metabolik. Eliminasi asam format ditingkatkan dengan alkalisasi urine dan cuci darah.

Nah, dengan gambaran yang betapa mengerikan itu, apakah para ”drunken master” masih berniat menuangkan spiritus sebagai racikan ke minuman keras, kemudian menenggaknya secara berjamaah? (*)

Sumber : Jawa Pos (Opini)Jum’at, 24 September 2010 ]

Oleh Djoko Santoso dr SpPD K-GH PhD, ahli ginjal yang tinggal di Surabaya

Source: https://johnmadass.wordpress.com/2010/09/24/tewasnya-tiga-teknisi-sukhoi/
Keywords:

rumah sakit yang membutuhkan ginjal 2018; rumah sakit pembeli ginjal; harga ginjal di rumah sakit; orang kaya yang butuh ginjal 2018; rumah sakit ginjal di penang malaysia; mencari pembeli ginjal 2018; calon pembeli ginjal 2018; dokter ginjal terbaik di penang; orang kaya yang butuh ginjal 2018; rumah sakit pembeli ginjal; rumah sakit yang membutuhkan donor ginjal 2018; calon pembeli ginjal 2018; rumah sakit yang membutuhkan donor ginjal 2018; mencari pembeli ginjal 2018; rumah sakit yang membutuhkan ginjal 2017; orang yang membutuhkan donor ginjal; lowongan donor ginjal; harga ginjal di rumah sakit; rumah sakit yang membutuhkan ginjal; cara menjual ginjal di rumah sakit; harga ginjal 2018; rumah sakit yang membutuhkan ginjal 2018; komunitas jual beli ginjal; jual beli ginjal online 2018; harga ginjal 2017 di indonesia; calo jual beli ginjal; rumah sakit yang membutuhkan ginjal 2018; dibutuhkan donor ginjal 2018; mencari pembeli ginjal 2018; orang yang membutuhkan donor ginjal; calon pembeli ginjal 2018; pencari donor ginjal 2018; iklan butuh donor ginjal 2018; rumah sakit yang membutuhkan donor ginjal; biaya operasi batu ginjal di penang; dokter urologi terbaik di penang; dokter ginjal terbaik di indonesia; dokter ginjal terbaik di malaka; rumah sakit di malaysia; rumah sakit terbaik di malaysia; calon pembeli ginjal 2018; iklan butuh donor ginjal 2018; cara menjual ginjal dengan cepat 2018; mencari pembeli ginjal 2018; rumah sakit pembeli ginjal; orang kaya yang butuh ginjal 2018; rumah sakit yang membutuhkan ginjal 2018; butuh ginjal cepat; dokter urologi terbaik di penang; dokter ginjal terbaik di indonesia; dokter spesialis ginjal di singapura; biaya transplantasi ginjal di penang; biaya laser batu ginjal di penang; dokter urologi di island hospital penang; pengalaman berobat ginjal di penang; dokter lambung terbaik di penang