#corona


Bergegas Tanggap Bencana, Menghadapi Fenomena Black Swan berupa Pandemi Corona, Apa Kuncinya?

Semarang, Idola 92.6 FM – Dalam hidup ini akan ada peristiwa-peristiwa tak terduga yang disebut sebagai black swan atau angsa hitam. Seperti pandemi corona yang saat ini tengah melanda dunia. Berbagai peristiwa langka yang terjadi di dunia dengan ciri berdampak besar, sulit diprediksi, dan di luar perkiraan biasa, telah dielaborasi ke dalam suatu teori yang disebut Angsa Hitam (Black Swan Theory). Selama berabad-abad, black swan tidak pernah dipercayai ada. Melalui karya penyair Romawi, 2000 tahun yang lalu, Juvenal menegaskan bahwa angsa selalu berwarna putih. Seperti sapi ungu dan babi terbang, angsa hitam adalah simbol dari sesuatu yang tidak mungkin, the impossible. Bahkan, di Eropa abad pertengahan, unicorn, sebagai mitos, memiliki kredibilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan angsa hitam, sebagai hewan yang mungkin nyata ada.

Tangkas Melawan Pandemi

Hanya sehari setelah menyatakan wabah Covid-19 sebagai pandemi, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus menyurati Presiden Jokowi. WHO meminta agar Presiden Jokowi segera menyatakan darurat nasional, membangun laboratorium dengan skala memadai, memperluas pencarian kasus, pelacakan, pengawasan dan pendataan secara cermat, menggencarkan langkah pencegahan termasuk mengajak warga masyarakat agar sering mencuci tangan. Beberapa pihak menilai, WHO terlalu mendikte dan menggurui. Tapi, inilah respons “gemas” organisasi kesehatan dunia itu melihat respons Indonesia yang dinilai masih terlalu santai. Dua bulan lebih Kemenkes membanggakan status nol pasien positif Covid-19. Tapi Senin (2/3), dua pekan lalu, pertahanan itu jebol. Presiden mengumumkan dua WNI positif terkena Covid-19. Ada warga Jepang berkunjung ke Indonesia, kemudian berlanjut ke Singapura.