Rumah Ginjal

Blog

evaluasi-donor-tranplantasi-ginjal.jpg

Ginjal Ajaib: Merawat Jauh Lebih Baik dari Memperbaiki Ketika Terganggu

Mencegah tetap lebih baik dari pada memperbaiki, suatu kata bijak yang sejak dulu senantiasa dipesankan dalam pitutur untuk melangkah pada aktivitas kehidupan, tak terkecuali juga dalam merawat fungsi organ ginjal. Ginjal yang berfungsi sangat baik dalam menopang kehidupan metabolisme tubuh sudah semestinya dijaga dan dirawat dengan baik. Dokter siapapun di mana saja tidak akan bisa mengembalikan fungsi ginjal ke aslinya ketika sudah mengalami kerusakan. Dalam kondisi ini, di antaranya telah muncul hipertensi, malnutrisi, anemia, penyakit gangguan tulang terkait gangguan ginjal kronis, gangguan mineral dan elektrolit, potensi penyakit jantung pembuluh darah, potensi penyakit stroke, kondisi inflamasi kronis dan masih banyak gangguan lainnya.

ginjal.jpg

Sekilas, Sebaiknya Tahu Bagaimana Ginjal Kita yang Ajaib ini Bekerja

Selintas, tampak ginjal kita segenggam mengepal. Namun itu sangat ajaib sama dengan organ tubuh yang penting lainnya. Jika dibedah fungsinya, fisiologi ginjal semua itu secara umum mencakup semua fungsi ginjal di antaranya seperti pemeliharaan keseimbangan asam-basa; regulasi keseimbangan cairan; regulasi natrium, kalium, dan elektrolit lainnya; pembersihan racun; penyerapan kembali glukosa, asam amino, dan molekul kecil lainnya yang masih di butuhkan tubuh; regulasi tekanan darah; produksi berbagai hormon, seperti eritropoietin; dan aktivasi vitamin D dari pro vitamin D yang berasal dari liver/hati. Semua fungsi ini ada di setiap nefron, yang merupakan suatu satuan dari ginjal yang terdiri glomerulus dan tubulus. Berbagai fungsi tersebut akan menurun bahkan tidak berfungsi sama sekali Jika ginjal mengalami kurusakan dengan sebab apapun. 

hipertensi-pada-lansia-hellosehat.jpg

Penyebab Hipertensi pada Orang Tua

Di usia tua, variasi mesin biologi tubuhnya begitu beragam. Hal ini di antaranya tergantung dari warisan genetik, lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan demografi. Selain itu, pola hidup juga sangat menentukan mesin biologi tubuh dalam penyesuaian lingkungannya. Intinya, ada kombinasi di antara hal tersebut. Ketika tubuh gagal menyesuaikan dengan lingkungan kehidupannya maka berpotensi sakit, salah satunya menderita sakit hipertensi. Dalam hal penyebab Hipertensi pada usia tersebut sungguh menarik untuk dibahas supaya bisa mendirijen kesehatan diri sendiri.

pembekuan-darah-dan-tudingan-vaksin-haram.jpg
Terbaru

Pembekuan Darah dan Tudingan Vaksin Haram

VAKSIN Astrazeneca membuat heboh. Belum lama, European Medicines Agency (EMA), Badan Obat-obatan Eropa yang bermarkas di Amsterdam, mengumumkan laporannya, bahwa vaksin Astrazeneca diduga kuat menimbulkan efek samping pembekuan darah yang berpotensi menyebabkan kematian. Tak lama kemudian, Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), Badan POM Inggris, juga mengumumkan telah mengidentifikasi kemungkinan hubungan antara vaksin Astrazeneca-Oxford dengan kasus pembekuan darah. Laporan EMA dan MHRA ini langsung menyulut kekhawatiran di kawasan Eropa. Dalam waktu singkat, 11 negara di Eropa menangguhkan penggunaan vaksin Astrazeneca dan disusul Thailand. Di Indonesia belum ditemukan kasus penggumpalan darah karena vaksin ini, tetapi sambil menunggu kajian lebih lanjut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan penangguhan penggunaan vaksin Astrazeneca (15/3).

responding-to-the-new-covid-19-variant.jpg
Terbaru

Responding to the New Covid-19 Variant

A year after we entered the Covid-19 pandemic, the light at the end of the tunnel seems to be more distant. According to data issued by the Covid-19 task force, it seems that we have reached the peak of the Covid-19 curve. However, after the global curve flattened drastically, it seems to be rising again slowly. Data from the task force shows that the peak of the curve was reached on Jan. 30, 2021, when the number of new daily cases reached a high of 14,518. By March 13, the number of daily cases had dropped dramatically to 4,607. For comparison, at the same time, Brazil surpassed India to become the second-worst-hit country from Covid-19 pandemic. According to data from the Worldometers website from 19 March, the first place was still held by the United States with 30,357,255 cases, nearly 10 percent of the US population of 332 million.

menyikapi-varian-baru-covid-19.jpg

Menyikapi Varian Baru Covid-19

Menghadapi ancaman varian virus yang baru, mau tak mau kita harus mengulang ajakan klise: perbanyak ”tracing” dan ”testing” spesimen, patuhi protokol kesehatan dan pemerintah tegas dalam penegakan tanpa pandang bulu. Setelah satu tahun pandemi Covid-19 kita lalui, titik terang terasa menjauh lagi. Merujuk ke data di Satgas Penanganan Covid-19, tampaknya memang puncak kurva telah kita lalui. Begitupun puncak kurva global sempat melandai drastis. Namun, pelan-pelan kurva itu naik lagi. Data Satgas menunjukkan, puncak kurva tercapai 30 Januari 2021, saat penambahan kasus harian sebanyak 14.518 kasus baru, dan 13 Maret lalu penambahan kasus harian turun drastis menjadi 4.607 kasus baru. Sebagai pembanding, pada saat yang sama, Brasil sedang menyalip India dalam perebutan ranking kedua negara dengan kasus positif terbanyak di dunia. Data Worldometer 19 Maret, peringkat pertama masih tetap dipegang Amerika Serikat dengan 30.357.255 kasus, hampir 10 persen dari penduduk AS yang 332 juta.

unesa-jawab-kontroversial-halal-haram-vaksin-astrazeneca-dengan-diskusi-publik-bersama-para-pakar.png

Unesa Jawab Kontroversial Halal Haram Vaksin Astrazeneca dengan Diskusi Publik Bersama Para Pakar

Unesa.ac.id, Surabaya-Halal atau haramnya Vaksin Astrazeneca masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Isu miring terkait vaksin tersebut terus naik ke permukaan dan terkadang meresahkan. Karena itu, Unesa mengadakan diskusi publik yang bertajuk “Halal Haram Vaksin Astrazeneca untuk Kemaslahatan Umat; Ditinjau dari Perspektif Agama dan Kesehatan”, pada Sabtu 3 April 2021 di Auditorium Rektorat Unesa, Lidah Wetan. Tema yang diusung memang cukup sensitif, karena itu, Unesa mengundang para pembicara dari berbagai latar belakang yang kompeten di bidangnya. Ada dari Majelis Ulama Indonesia Pusat yakni Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Dr. KH. Fahrurrozi Burhan. Selain itu, ada Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAIR sekaligus Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim, Prof. Dr. Djoko Santoso, Ph.D,Sp.PD.KGH.FINASIM

mui-jatim-kekompakan-dan-fokus-kunci-sukses-vaksinasi.jpg

MUI Jatim Gelar Tasyawur Vaksinasi dalam Perspektif Fikih

Surabaya, Bhirawa - Program vaksinasi Covid-19 yang dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona hingga kini masih ada yang mempermasalahkan. Menanggapi masalah ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim menggelar musyawarah virtual Tasyawur Ilmu dan Agama, Senin (1/3) malam. Acara yang dipandu salah seorang sekretaris MUI Jatim, Dr Lia Istifhama, mengkaji permasalahan dalam dua perspektif yakni medis dan fikih Islam. Dua narasumber yang membahas itu adalah Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim, Prof Djoko Santoso, dr PhD SpPD KGH FINASIM dan Ketua Komisi Fatma MUI Jatim KH Makruf Khozin.

gelar-musyawarah-virtual-tasyawur-ilmu-dan-agama-mui-jatim-berharap-tidak-ada-polemik-vaksinasi.jpg

Gelar Musyawarah Virtual Tasyawur Ilmu dan Agama, MUI Jatim Berharap Tidak Ada Polemik Vaksinasi

surabaya, beritalima.com – Senin (1/3) malam, MUI Jatim pimpinan Ketua Umum KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah S.H., M.M., selenggarakan musyawarah virtual Tasyawur Ilmu dan Agama melalui tema: Vaksinasi: Antara Kebutuhan Medis dan Kewajiban Agama’. Momen tersebut tergolong perdana di Indonesia, sehingga tak heran, diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah sebagai bentuk tingginya animo masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Umum MUI Jatim, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., bahwa forum tersebut diharapkan menjadi pemecah masalah atas polemik vaksinasi yang masih muncul di dalam masyarakat.