Info Terbaru

menertibkan-nalar-penanganan-pandemi.jpg
Terbaru

|

Organizing the Reason of Pandemic Management

Our nation is one of those who easily become sensitive, especially to things related to the Covid-19 pandemic. They were frustrated because they were forbidden to travel inland (mudik), but they broke through the ban on inland traveling. The result was a tremendous explosion of Covid-19 cases. The government also pulled the 'hand brake' with the implementation of emergency community activity restrictions (PPKM) at that time. The explosion was compounded by the 'foreign factor', the delta variant from India. The Central Indonesian Medical Association (Ikatan Dokter Indonesia/IDI), through its Deputy General Chair Slamet Budiarto, said this variant was the main trigger for the current bad situation. This variant was brought by foreigners or Indonesians who returned home because the country's gates were not closed while the people were prohibited from traveling inland between regions. The combination of the factors of inland-traveling break-ins and foreign variants had proven to be deadly.

webinar-proyeksi-transisi-dan-bonus-demografi-pasca-pandemi-prof-djoko-santoso-ahli-ginjal-rumah-ginjal.jpeg
Terbaru

|

Webinar: Proyeksi, Transisi dan Bonus Demografi Pasca Pandemi

Webinar Seri Literasi Pandemi ke-28 MUI JatimTema “Proyeksi, Transisi dan Bonus Demografi Pasca Pandemi” Jum'at, 21 Januari 2022Pukul 19.00 WIB Sambutan DP MUI JatimProf. Akh. Muzakki, M.Ag.,Grad.Dip.SEA.,M.Phil., Ph.D (Sekretaris Umum MUI Jatim) Pengantar DiskusiProf. Djoko Santoso, dr. Ph.D, Sp.PD. KGH. FINASIM (Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim) Narasumber: Prof. DR.dr. KRT. Adi Heru Sutomo. M.Sc.,DCN.,DLSHTM.,DLP., Sp.KK & LP (Kepala Departemen Kedokteran Keluarga UGM) Sulfikar Amir, PhD (Associate Professor, School of Social Sciences, Nanyang Technological University) Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com (Ketua Komisi HLNKI MUI Jatim dan Guru Besar UNAIR) Link Zoom: https://bit.ly/WebinarSeriLitaresiPandemiMUIJATIMMeeting ID: 878 1276 4039Passcode: MUIJTM Form pendaftaran peserta: https://bit.ly/DaftarWSLP28 ModeratorDr. H. Soeparto Wijoyo, S.H., M.H Free E-Sertifikat    

undoing-the-trap-of-imported-pharmaceutical-raw-materials-prof-djoko-santoso-ahli-ginjal-rumah-ginjal.jpg
Terbaru

|

Undoing the Trap of Imported Pharmaceutical Raw Materials

If phytopharmaceuticals are developed more seriously, including market certainty, good prospects lie ahead for Indonesia to be able to reduce dependence on imported BBO or finished pharmaceutical products. President Joko Widodo is irked by Indonesia’s huge dependence on imports for drugs, pharmaceutical raw materials, and medical equipment. He wants to not just reduce the imports, but stop them altogether. "Speaking about health equipment, drugs and raw materials for medicines, we have to stop importing these items. We must produce them ourselves in our [own] country," the President said on 27 Dec. 2021 at the groundbreaking ceremony for the Bali International Hospital in Denpasar. Of course, we must support this good intention, but apart from medical equipment, do we have the capacity to stop importing raw materials for manufacturing drugs? Can we rely on our upstream pharmaceutical industry?

apakah-tidur-mempengaruhi-kesehatan-ginjal-rumah-ginjal-prof-djoko-santoso-ahli-ginjal.jpg

Apakah Tidur Mempengaruhi Kesehatan Ginjal?

Tidur adalah salah satu kebutuhan utama manusia. Tidur yang baik meliputi durasi yang adekuat, kualitas yang baik, waktu tidur yang sesuai, dan tidak adanya distrupsi selama tidur. Durasi tidur yang baik bergantung pada usia seseorang dan umumnya semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Misalnya pada bayi baru lahir memerlukan 14-17 jam tidur, anak usia 5 tahun membutuhkan 10-13 jam tidur, remaja membutuhkan 8-10 jam tidur, dan dewasa memerlukan 7-9 jam tidur.  Kuantitas dan kualitas tidur yang kurang dapat membawa dampak negatif sehari-hari, seperti mengantuk pada siang hari, merasa Lelah, mood depresif, bahkan jika hal ini dilakukan teus-menerus dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya.

apakah-konsumsi-kopi-berbahaya-untuk-ginjal-prof-djoko-santoso-ahli-ginjal-rumah-ginjal.jpg

Apakah Konsumsi Kopi Berbahaya untuk Ginjal?

Berbicara tentang kopi, tentu sangat mengasyikan, setidaknya untuk para penggemar kopi. Asyiknya, mungkin mereka akan menyoal rasa atau aroma, atau bahkan kombinasi keduanya (kombinasi rasa dan aromanya). Bisa jadi juga menyoal berapa lama rasa dan aroma itu bertahan atau bagaimana frekuensi asupan seharinya. Masih juga menarik untuk diungkap yaitu, tentang bagaimana tingkat keasamannya, tentang jenis asal kopinya itu sendiri, bagaimana kalau dikombinasikan dengan lainnya seperti krimer. Dalam konteks asalnya, tentu mereka akan menyinggung asal Indonesia-kah? atau malah dari luar? Maka obrolannya akan berlanjut bahwa yang ini asal Indonesia bisa rasa kopi Sumatera Utara, Garut, lampung. Sedangkan yang ini rasa kopi Laos, atau rasa kopi Yunan. Semua itu umumnya tersaji dihampir semua outlet coffee. Di sana akan tersaji kopi Toraja, kopi Robusta, kopi Mandailing, atau sajian kopi bentuk late, krimer, avocado, yang intinya bisa pilih sesuai kesukaannya.

asupan-air-dan-keluarnya-lewat-ginjal-prof-djoko-santoso-ahli-ginjal-spesialis-ginjal-rumah-ginjal.jpg

Asupan Air dan Keluarnya Lewat Ginjal

Air sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana pada artikel sebelumnya. Lebih dari 70 persen komposisi tubuh manusia tersusun atas air. Kulit manusia mengandung 64% air, otot dan ginjal mengandung 79%, bahkan tulang pun tersusun atas 31% air. Air yang kita konsumsi tidak langsung menuju ginjal untuk dibuang, melainkan melalui beberapa proses dalam tubuh manusia. Hanya 20% air yang diminum menuju ke kandung kemih untuk dibuang. Rata-rata manusia dapat mencerna 33,8 ons air per jam. Air digunakan dalam tubuh manusia setidaknya untuk lubrikasi organ, membuang zat toksik dalam tubuh manusia, regulasi temperature tubuh, dan untuk absorbsi nutrisi dalam tubuh manusia. Tubuh manusia akan secara otomatis mengirimkan sinyal bila kekurangan cairan. Sinyal ini akan dikirim ke otak, kemudian memunculkan rasa haus pada manusia.

menertibkan-nalar-penanganan-pandemi.jpg
Terbaru

Organizing the Reason of Pandemic Management

Our nation is one of those who easily become sensitive, especially to things related to the Covid-19 pandemic. They were frustrated because they were forbidden to travel inland (mudik), but they broke through the ban on inland traveling. The result was a tremendous explosion of Covid-19 cases. The government also pulled the 'hand brake' with the implementation of emergency community activity restrictions (PPKM) at that time. The explosion was compounded by the 'foreign factor', the delta variant from India. The Central Indonesian Medical Association (Ikatan Dokter Indonesia/IDI), through its Deputy General Chair Slamet Budiarto, said this variant was the main trigger for the current bad situation. This variant was brought by foreigners or Indonesians who returned home because the country's gates were not closed while the people were prohibited from traveling inland between regions. The combination of the factors of inland-traveling break-ins and foreign variants had proven to be deadly.

undoing-the-trap-of-imported-pharmaceutical-raw-materials-prof-djoko-santoso-ahli-ginjal-rumah-ginjal.jpg
Terbaru

Undoing the Trap of Imported Pharmaceutical Raw Materials

If phytopharmaceuticals are developed more seriously, including market certainty, good prospects lie ahead for Indonesia to be able to reduce dependence on imported BBO or finished pharmaceutical products. President Joko Widodo is irked by Indonesia’s huge dependence on imports for drugs, pharmaceutical raw materials, and medical equipment. He wants to not just reduce the imports, but stop them altogether. "Speaking about health equipment, drugs and raw materials for medicines, we have to stop importing these items. We must produce them ourselves in our [own] country," the President said on 27 Dec. 2021 at the groundbreaking ceremony for the Bali International Hospital in Denpasar. Of course, we must support this good intention, but apart from medical equipment, do we have the capacity to stop importing raw materials for manufacturing drugs? Can we rely on our upstream pharmaceutical industry?

mengurai-jerat-impor-bahan-baku-obat-prof-djoko-santoso-rumah-ginjal.jpg

Mengurai Jerat Impor Bahan Baku Obat

Indonesia dikenal sebagai negara nomor dua di dunia dengan keragaman biodiversitas, setelah Brasil. Sayang industri fitofarmaka kita masih ketinggalan sejak dari R&D, infrastruktur industrinya, dan regulasi pendukungnya. Presiden Joko Widodo merasa terusik dengan besarnya ketergantungan pada impor obat, bahan baku obat dan alat kesehatan. Presiden ingin bukan sekadar mengurangi, tetapi tujuan nantinya adalah menghentikan impor. “Alkes, obat-obatan dan bahan baku obat, kita harus berhenti untuk mengimpor barang barang itu lagi. Kita produksi sendiri di negara kita,” kata Presiden saat peletakan batu pertama RS Internasional di Denpasar, Bali (27/12/2021). Tekad bagus ini tentu harus kita dukung, tetapi di samping alat kesehatan (alkes), apa bisa menghentikan impor bahan baku obat? Siapkah industri hulu farmasi kita?

webinar-proyeksi-transisi-dan-bonus-demografi-pasca-pandemi-prof-djoko-santoso-ahli-ginjal-rumah-ginjal.jpeg
Terbaru

Webinar: Proyeksi, Transisi dan Bonus Demografi Pasca Pandemi

Webinar Seri Literasi Pandemi ke-28 MUI JatimTema “Proyeksi, Transisi dan Bonus Demografi Pasca Pandemi” Jum'at, 21 Januari 2022Pukul 19.00 WIB Sambutan DP MUI JatimProf. Akh. Muzakki, M.Ag.,Grad.Dip.SEA.,M.Phil., Ph.D (Sekretaris Umum MUI Jatim) Pengantar DiskusiProf. Djoko Santoso, dr. Ph.D, Sp.PD. KGH. FINASIM (Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim) Narasumber: Prof. DR.dr. KRT. Adi Heru Sutomo. M.Sc.,DCN.,DLSHTM.,DLP., Sp.KK & LP (Kepala Departemen Kedokteran Keluarga UGM) Sulfikar Amir, PhD (Associate Professor, School of Social Sciences, Nanyang Technological University) Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com (Ketua Komisi HLNKI MUI Jatim dan Guru Besar UNAIR) Link Zoom: https://bit.ly/WebinarSeriLitaresiPandemiMUIJATIMMeeting ID: 878 1276 4039Passcode: MUIJTM Form pendaftaran peserta: https://bit.ly/DaftarWSLP28 ModeratorDr. H. Soeparto Wijoyo, S.H., M.H Free E-Sertifikat    

mui-jatim-singkronisasikan-antara-kesehatan-dan-ekonomi-di-masa-pandemi.jpg
Terbaru

MUI Jatim Singkronisasikan Antara Kesehatan dan Ekonomi di Masa Pandemi

Surabaya. MUI Jatim. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) kembali melaksanakan agenda rutin ‘Webinar Seri Literasi Pandemi’ Jum’at (14/01/2022). Pada seri ke-27 ini yang menjadi tema adalah ‘Masihkan Pandemi Jadi Tantangan Sektor dan Ekonomi 2022?’. Dalam sambutan pengantar, Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim Djoko Santoso menuturkan organisasinya telah sepakat melakukan penguatan singkronisasi antara kesehatan dan ekonomi. “Sehingga keduanya harus kita maknai atau mengerti secara mendalam tantangan pandemi yang sudah dua tahun berjalan dengan berbagai varian. Yang terakhir adalah varian Omicron,” katanya. Sudah lebih dari 150 negara yang menerima varian-varian ini dengan kebijakan masing-masing negara. Tergantung dari kemampuan defisa negaranya.

pandemi-belum-usai-mengantisipasi-penularan-omicron-di-jawa-timur-rumah-ginjal-surabaya.jpg

Di Webinar MUI Jatim, Epidemiolog: Virulensi Omicron Rendah

Di webinar yang digelar MUI Jawa Timur, Jumat (07/01/2022) malam, Windhu Purnomo, epidemiolog dari Universitas Airlangga Surabaya, menjelaskan bahwa tingkat penularan Covid-19 varian Omicron lebih cepat ketimbang Delta. Namun, yang melegakan, virulensi atau tingkat penyebab timbulnya penyakit dari Omicron terbilang rendah. “Virulensi itu artinya kemampuannya untuk membuat sakit dengan gejala parah itu lebih rendah, sehingga menghasilkan tingkat rawat inap yang lebih kecil daripada Delta. Itu kabar baiknya,” kata Windhu. Windhu  kemudian menyebutkan beberapa gejala dan  tanda varian Omicron yang secara umum tidak berbeda dengan varian lain dari Covid-19. Pertama, pasien menunjukkan kelelahan yang luar biasa, yang tidak terbatas pada semua kelompok umur. Kedua, tidak ada penurunan besar dalam tingkat saturasi oksigen.