Artikel

Blog


Minuman Bersoda dan Kesehatan Ginjal

Soda atau minuman berkarbonasi adalah air yang dimasukkan gas karbondioksida di dalamnya untuk memberikan sensasi gas yang meletup-letup di mulut. Seringkali soda menjadi pilihan utama dalam berbagai suasana, misalnya pada saat acara, cuaca panas, atau sekedar melegakan dahaga. Bahkan dikatakan sangatlah aneh untuk orang amerika atau eropa jika tidak memiliki soda di lemari es mereka. Kadar minum orang barat pun tidak tanggung-tanggung, mereka biasa meminum botol 2 liter soda sendiri per harinya. Namun sesungguhnya sebagian dari kita tidak mengetahui soda bagaikan pedang bermata dua yang pemakaian jangka panjangnya bisa bersifat kontraproduktif bagi kesehatan ginjal. Khususnya bagi orang yang memiliki riwayat sakit ginjal sebelumnya, soda bisa memperburuk organ tercintanya tersebut. Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, hanya dengan mengonsumsi 2 gelas atau lebih minuman bersoda setiap harinya dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis di masa mendatang.

Mengenal secara dekat, Garam dan Hipertensi

Bila membahas tentang hipertensi atau darah tinggi, hal berikut ini tak bisa dilepaskan yaitu faktor garam (tepatnya natrium). Dalam konteks lengkap, bukan berarti garam tersebut tidak ada manfaatnya namun ketika asupannya melebihi dari yang ditoleransi tubuh maka asupan garam berlebih itu akan membuahkan suatu nilai kontraproduktif, seperti tekanan darah meninggi, jantung bisa jadi payah jantung, pembuluh darah tidak elastis bahkan malah menjadi lebih kaku, stroke, gagal ginjal kronis dan masih banyak lainnya. Singkat kata garam bisa bermata dua. Di satu sisi menguntungkan dan sisi lainnya dapat mencelakakan. Menurut studi, dilaporkan bahwa ada hubungan yang erat antara hipertensi dan asupan garam makanan. Sebuah penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa dengan pengurangan sederhana yang berkelanjutan mengenai asupan garam akan menginduksi penurunan tekanan darah yang relevan pada individu hipertensi dan juga pada mereka dengan normotensif (tekanan darah normal 120/80 mmHg).

Sarcopenia pada Gagal Ginjal Kronis

Di era pandemi semua aspek kehidupan terguncang oleh karena COVID-19 termasuk aspek kesehatan. Tanpa memandang perjalanan pandemi menuju endemi yang jelas penambahan kasus COVID-19 tetap dipermudah munculnya dari kelompok komorbid termasuk penyakit ginjal kronis (PGK). Dalam hal munculnya komorbid, PGK dalam perkembangannya juga bisa menghasilkan komorbid seperti munculnya penyakit jantung koroner, stroke, malnutrisi, dan lain-lainnya. Dalam hal malnutrisi sebagaimana yang pernah disebutkan dalam artikel-artikel sebelumnya, malnutrisi sesungguhnya mempunyai perspektif yang luas termasuk sarcopenia. Kasus sarcopenia sering didapatkan pada kelompok usia lanjut baik karena murni proses agingnya maupun karena suatu penyakit kronis termasuk PGK. Istilah sarcopenia sendiri hingga saat ini di Indonesia masih belum populer yang mungkin karena terdominasi oleh komorbid lainnya. Namun pada kenyataannya sesungguhnya bukan demikian. Kondisi tersebut juga bisa memberikan dampak besar pada kesehatan secara keseluruhan. 

Jangan Sembarangan Mengkonsumsi Vitamin D

Pada penutup dari artikel Perlukah Vitamin D pada Gagal Ginjal Kronis?, disebutkan bahwa akan lebih baik bila mengkonsumsi vitamin D dengan anjuran dokter, sehingga vitamin D didapatkan dalam jumlah yang adekuat bagi tubuh. Sebaliknya lihatlah bagaimana masyarakat yang meminum suplementasi vitamin D setiap hari akibat berita dan broadcasting-an mengenai COVID-19 tanpa aturan dan dosis yang sesuai. Sesungguhnya, ini menyiratkan bahwa kondisi kekurangan vitamin D tidak baik dan kelebihan vitamin D sama juga tidak baiknya. Bisa jadi Dokter mungkin saja akan menganjurkan pada pasien yang kekurangan vitamin D, untuk mengkonsumsi 1.500 miligram kalsium dan 1.000 unit vitamin D dengan tujuan meningkatkan kadar vitamin D yang semula rendah. Sehingga ketika kadar normal tercapai maka perlu penyesuaian kembali mengingat suplementasi ini hanya dalam rangka untuk memulihkan kadarnya kembali ke level normal hingga dapat berkontribusi pada sistem kesehatan tubuh secara optimal, tidak lebih dari itu.

Perlukah Vitamin D pada Gagal Ginjal Kronis?

Pada era pandemi COVID-19, salah satu vitamin yang marak digunakan oleh masyarakat adalah vitamin D. Sumber vitamin D didapatkan dari dua hal, yaitu paparan sinar ultraviolet B dan makanan/suplementasi. Vitamin D menunjukkan efek benefisial pada kesehatan jantung dan pembuluh darah, tulang, gigi, membantu mempertahankan sistem imun, serta memiliki efek yang positif pada ginjal.  Ginjal memiliki peranan penting untuk sintesis vitamin D dalam tubuh manusia. Ginjal mengubah vitamin D menjadi bentuk vitamin D aktif sehingga dapat digunakan dalam tubuh. Pada penderita gagal ginjal kronis, ginjal tidak dapat mengubah vitamin D menjadi aktif, sehingga tubuh menjadi kekurangan vitamin D. Oleh sebab inilah tidak jarang kita mendapati orang dengan gagal ginjal kronis juga menderita defisiensi vitamin D.