Artikel

Blog


Hipertensi pada Orang Diabetes

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula (glukosa) dalam darah (gula darah puasa 126 mm/dl, gula darah 2 jam pasca puasa 200 mg/dl). Menurut WHO, tahun 1957 terdapat 120 juta penderita diabetes di seluruh dunia. Tahun 2005 diperkirakan 300 juta penderita diabetes dengan tipe 2 sebesar 90 persen. Sebagai akibat ditandai berkurangnya insulin atau penolakan tubuh terhadap hormon ini, sehingga tubuh tidak dapat memproses gula yang berasal dari makanan. Walaupun penyakit ini dapat dikontrol dengan insulin dan obat-obatan, namun diabetes tetap merupakan faktor risiko yang bersar terhadap penyakit jantung-pembuluh darah.

Pengendalian Berat Badan

Sebagaimana dijelaskan pada Menentukan Risiko Hipertensi berdasarkan Ukuran Pinggang dan Pinggul, kelebihan berat badan merupakan faktor risiko untuk mendapatkan penyakit hipertensi. Sehingga perlu dilakukan upaya untuk menurunkan berat badan. Berikut ini dijelaskan bagaimana hubungan pengendalian berat badan dan hipertensi serta bagaimana panduan untuk menurunkan berat badan untuk kesuksesan pengelolaan hipertensi.   Prinsip penurunan berat badan Jangan melakukan usaha penurunan berat badan dalam tempo cepat, tidak ada jalan pintas dalam hal ini. Penurunan berat yang dianggap aman sebesar 1 pound (1/2 kg) per minggu. Ikuti saran dokter. Anda mungkin akan dirujuk ke ahli diet dan di situ akan mendapat lebih banyak informasi di antaranya: tentang makanan sehat, pembacaan label, persiapan makanan, dan program latihan.

Menentukan Risiko Hipertensi berdasarkan Ukuran Pinggang dan Pinggul

  Bagi yang belum tahu, tampaknya tidak terpikir kalau ukuran pinggang dan pinggul bisa dijadikan sebagai pijakan untuk menghitung resiko hipertensi. Sebenarnya cukup sederhana hubungan untuk melogikan hal tersebut. Prinsipnya terkait ketebalan lemak yang melebihi proporsi normal di tempat tersebut (umumnya pada orang gemuk) akan membuah kan masalah yaitu terjadinya peningkatan oksidasi dengan hasil berupa terangsangnya hormon siaga (hormon katekolamin yang mempercepat kerja jantung dan mengkonstraksikan kapiler pembuluh darah hingga akhirnya meningkatkan tekanan darah dan juga  peningkatan hormon stres lainnya yang bekerja kronis secara bersama sehingga menghasilkan radikal bebas yang merusak pembuluh darah dan organ hormon lain seperti kelenjar pankreas).

Mengendalikan Garam lewat Asupan Kalium

Sebagaimana penjelasan sebelum ini tentang pembatasan garam untuk mengatasi hipertensi, garam yang mengandung Na (Natrium) sebagai simbol utama, di samping punya fungsi utama dalam sel tubuh juga sangatlah berpotensi, namun pada sisi merugikan ketika tidak proporsional (baik yang kekurangan maupun kelebihan). Maka dari itu, prinsip keseimbangan terkait Na di dalam mesin tubuh menjadi hal utama. Di sini dibutuhkan mesin tubuh yang tetap sehat. Agar kontinuitasnya terjamin, maka kita yang punya tubuh perlu berperilaku hidup sehat salah satunya menjaga diet makanan yang sehat. Pada Masyarakat yang memiliki budaya mengkonsumsi makanan kaya kalium, umumnya mempunyai kejadian hipertensi cukup rendah. Karena kalium membantu menyeimbangkan jumlah natrium dalam tubuh.

Pembatasan Garam untuk Mengatasi Hipertensi

Ada sikap bijak mengatakan dalam hal makan: boleh menikmati makanan asal wajar, juga harus bisa mengimbangi dengan olah raga teratur bahkan sekiranya perlu menyudahi sebelum muncul kontraproduktif. Kalau terasa akan kewalahan maka segera membatasinya. Inilah yang harus dipahami. Bahwa sebaik-baik mesin biologi tubuh seseorang tetap saja berlaku hal tersebut apalagi kalau persediaan kapasitas fungsional mesin tubuh seseorang sudah pada level pas pasan (organnya mulai terganggu). Adapun yang akan dibahas dalam hal ini adalah suatu elemen makanan yang membuat rasa nikmat --garam dengan rasa asinnya. Ketika ada dalam tubuh, garam tersebut akan disesuaikan hingga tidak boleh lebih atau kurang. Dalam hal asupan garam berlebih, maka hal itu bisa mengakibatkan hipertensi. Namun kondisi munculnya hipertensi ini sangat bervariasi mengingat sensitivitas seseorang terhadap garam natrium atau sodium berbeda-beda.