#obesitas


Mewaspadai Bahaya Obesitas di Saat Transisi Menuju Endemi

SUDAH hampir dua bulan liburan panjang mudik Lebaran berlalu tanpa gejolak berarti. Hal itu membuat banyak pihak optimistis bahwa pandemi covid-19 sedang bertransisi menuju endemi. Roda perekonomian kembali bergerak kencang: stasiun, bandara, terminal, pelabuhan, hotel, mal, restoran, kafe, pasar, dan warteg kembali beroperasi dengan kapasitas penuh. Libur panjang mudik Lebaran juga berarti saatnya wisata bersama keluarga, jalan jalan dan menikmati beragam kuliner, seolah membalas dendam setelah dua tahun terkungkung di rumah gara-gara pandemi. Ancaman meledaknya gelombang ketiga covid bisa dikatakan sudah mereda. Akan tetapi, ada potensi ancaman yang lain. Kegemaran berkuliner ria tanpa kontrol akan memicu kegemukan atau obesitas, dan ini bisa berisiko fatal.

Menilik Kondisi Obesitas di Arab Saudi

Setelah mempelajari bahaya obesitas yang khususnya membawa dampak pada kerusakan ginjal pada dua artikel sebelumnya, sekarang kita perlu melihat kondisi obesitas di dunia secara global. Secara sepintas, hal ini tidak nampak sebagai permasalahan yang serius, namun sesungguhnya obesitas ternyata tetap selalu berdampak besar pada segala aspek kehidupan termasuk sektor ekonomi. Perlu diketahui pada tahun 2014 diperkirakan 2 triliun dollar atau sekitar 30 ribu triliun rupiah pertahun ekonomi global terdampak oleh permasalahan obesitas di seluruh dunia. Permasalahan tersebut meliputi gangguan kesehatan tipe kronis yang dipicu salah satunya oleh obesitas seperti penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit kanker, diabetes, dan juga penyakit ginjal. Karena itulah, maka tak heran kalau fenomena epidemi obesitas yang hampir seluruh dunia mengalami suatu fenomena tersebut menjadi cepat di kenal luas secara global. Lalu bagaimana jelasnya demikian?

Obesitas dan Gangguan Ginjal

Pada topik kali ini akan dibahas tentang obesitas dan gangguan ginjal, sebagai lanjutan dari artikel Obesitas Bisa Merusak Ginjal. Kegemukan atau obesitas telah menjadi ‘epidemi’ di seluruh dunia dan diperkirakan akan meningkat sebesar 40% selama sepuluh tahun ke depan. Seperti halnya malnutrisi, obesitas merupakan gangguan gizi yang disebabkan oleh asupan yang berlebihan atau gangguan hormonal dalam tubuh. Obesitas menjadi perhatian khusus karena dapat menyebabkan penyakit lainnya, tidak terkecuali pada ginjal. Seringkali penyakit yang ditimbulkan dapat mempengaruhi kualitas hidup individu di masa depan.  Definisi obesitas didasarkan pada indeks massa tubuh (BMI), yaitu berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Menurut WHO, BMI < 18,5 termasuk kategori underweight, BMI dalam kisaran 18,5 hingga 25 kg/m2 dianggap sebagai berat badan normal, BMI antara 25 – 30 kg/m2 dianggap sebagai kelebihan berat badan (overweight), dan BMI lebih besar dari 30 kg/m2 dianggap sebagai obesitas.Sebagai contoh, jika seseorang memiliki berat badan 80 kg dan tinggi badan 160 cm, maka BMI orang tersebut adalah 31,25 (80/(1,6)(1,6) = 31,25).

Obesitas Bisa Merusak Ginjal

Pada topik kali ini, akan dibahas mengenai kondisi berat badan berlebih yang dapat mencetuskan kerusakan ginjal permanen atau penyakit ginjal kronis (PGK). Berat badan berlebih atau yang dikenal dengan obesitas telah menjadi penyakit epidemi di seluruh dunia dan diprediksi akan meningkat sebanyak 40% jumlahnya dalam sepuluh tahun ke depan. Layaknya kurang gizi, obesitas juga merupakan suatu gangguan gizi yang diakibatkan gangguan asupan yang berlebihan maupun gangguan hormon di dalam tubuh. Oleh karena hal tersebut gangguan yang dimaksud akan mempengaruhi jalannya organ lain di tubuh secara keseluruhan termasuk ginjal kesayangan kita. Menurut definisi, obesitas didasarkan pada body mass index (BMI) yaitu berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badannya (dalam meter).