#riset


Hadiah Nobel dan Minimnya Anggaran Riset Kita

Keluhan para akademisi dan periset kita, selama ini sering direpotkan urusan administrasi daripada substansi risetnya. Belum lama ini diumumkan para pemenang hadiah Nobel 2023. Jon Fosse memenangi Nobel untuk sastra; Katalin Kariko dan Drew Weissman untuk kedokteran; Pierre Agostini, Ferenc Krausz, dan Anne L’Huillier untuk fisika; Moungi G Bawendi, Louis E Brus, dan Alexei I Ekimov untuk kimia; dan Narges Mohammadi untuk perdamaian. Pengumuman hadiah Nobel tahun ini bersamaan waktunya dengan berita gagalnya tim bulu tangkis Indonesia di Asian Games, Hangzhou. Tim cabang olahraga kebanggaan Indonesia selama puluhan tahun ini gagal total meraih medali sekeping pun, bahkan sekadar perunggu.

Pandemi, Momentum Mendayagunakan Inovasi

PANDEMI panjang covid-19 telah memuramkan semua sektor kehidupan. Perekonomian hancur, ekspor melorot, pendapatan negara anjlok, dan sebaliknya utang meningkat untuk menutup defisit neraca perdagangan.  Bahkan, negara yang selama ini dikenal kuat secara ekonomi, seperti Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong, sudah resmi menyatakan memasuki resesi. Berarti dua triwulan pertama 2020 tumbuh negatif dan belum ada prospek triwulan berikutnya akan mentas resesi.  Demikian juga di sektor pendidikan. Sudah lima bulan sekolah dan kampus ditutup dari aktivitas pembelajaran offline. Upaya untuk menutupi dengan menggunakan metode pembelajaran online masih banyak menemui kendala, baik pada jaringan infrastruktur, bandwidth, minimnya anggaran, maupun kesulitan lokasi geografis. Benar bahwa sekarang marak model seminar online atau webinar. Namun, efektivitasnya dirasakan masih kalah jauh jika dibanding dengan model seminar tatap muka atau offl ine. Demikian juga jika model pembelajaran tatap muka, jika hendak digeser menjadi pembelajaran online, secara nasional masih jauh dari kesiapan. 

INSBIOMM, Tingkatkan Keamanan Kesehatan Dunia Melalui Riset Kolaboratif Antar Peneliti

UNAIR NEWS – Ancaman penyakit menular berpotensi membunuh ribuan bahkan jutaan orang setiap tahunnya. Ancaman itu muncul sebagai wabah yang dapat merusak kesehatan masyarakat, keamanan dan integritas nasional. Penyakit itu terdiri dari influenza, TBC, malaria, infeksi yang kebal akan antibiotik, HIV/AIDS. Menyikapi persoalan tersebut, Institut Tropical desease (ITD) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia (PUSKES TNI) menggelar konferensi internasional bertajuk Infectious Disease, Biothreats and Military Medicine (INSBIOMM) pada Selasa (27/8/2019). Konferensi itu dirancang untuk menfasilitasi dan menyebarluaskan penelitian para ilmuwan dan profesional dalam menangani penyakit menular yang ada di Indonesia, utamanya tentang berkaitan dengan kesehatan militer. Makalah terpilih rencananya akan diterbitkan dalam jurnal terindeks scopus.