#stunting


Stunting, Mengancam Bonus Demografi

ISU kesehatan paling menarik perhatian publik sepanjang 2019 ialah tentang karut-marutnya BPJS. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dilaksanakan Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) ini sebenarnya program unggulan. Cakupannya yang sangat massal menjadikan program ini disebut sebagai lompatan besar kebijakan kesehatan. Akan tetapi, kehadiran BPJS ini membawa dua implikasi yang berbeda. Di satu sisi, program ini sangat membanggakan karena membawa kita melangkah ke arah pemerataan layanan kesehatan yang bisa mencakup seluruh warga negara. Namun, di sisi lain, manajemen BPJS masih belum sanggup mengatasi masalah utamanya. Sampai hari ini BPJS sebagai pelaksana JKN masih defisit atau tekor triliunan rupiah sehingga memerlukan suntikan dana dari pemerintah. Sedemikian sulitnya mengatasi soal ini, pemerintah sampai menaikkan iuran peserta BPJS yang memicu gelombang protes masyarakat. Keruwetan BPJS ini menempati rangking teratas dalam daftar isu kesehatan yang paling menyedot perhatian masyarakat.

Mengatasi Persoalan Serius Terkait Tengkes

Rumah Ginjal - Setahun belakangan ini kita disuguhi berbagai berita tentang kemajuan Indonesia di bidang teknologi. Akhir tahun lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersemangat mengajak menyambut datangnya era Revolusi 4.0.  Inilah era industri yang didukung berbagai teknologi canggih. Februari, dari Cape Canaveral Florida, AS, diberitakan roket Falcon 9 SpaceX meluncur ke angkasa luar membawa satelit Nusantara Satu.  Inilah satelit komunikasi broadband canggih seharga Rp 35 triliun milik Indonesia. April lalu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meluncurkan Alugoro 405, kapal selam pertama buatan PT PAL.  Betapa bangganya, kita sudah menjadi bagian dari bangsa- bangsa yang menguasai teknologi canggih, tonggak kemajuan masa depan. Namun, membawa kita tersentak, Kompas, edisi 28 Mei menulis Tajuk Rencana dengan judul "Gizi untuk Generasi Unggul". Judulnya biasa saja, tetapi isinya membuat kening berkerut dan menggedor kesadaran kita.  Menurut Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2018 yang dikutip pada tulisan itu, prevalensi tengkes (stunting) Indonesia mencapai 30,8 persen, jauh di atas prevalensi (jumlah yang terpapar) stunting global yang 21 persen. Angka 30,8 persen berarti hampir sepertiga dari anak-anak Indonesia (anak balita dan remaja) menderita stunting.