#virus korona


Saat Korona Belokkan Imunitas Jadi Senjata Makan Tuan

Untuk menghindari kefatalan, selain mengandalkan vaksin yang sampai sekarang masih dalam proses percepatan riset, sangat penting upaya untuk menjaga dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Mengapa virus korona jenis baru (novel coronavirus) ini bisa sangat mematikan? Bagaimana virus bernama resmi Covid-19 ini menyerang tubuh dan mengapa bisa menyebabkan korban meninggal dalam waktu sangat cepat, 4-7 hari? Padahal, pada pasien HIV/AIDS umumnya perlu waktu bertahun-tahun menuju kefatalan. Kalau HIV/AIDS ibarat perang gerilya, Covid-19 menghancurkan dalam perang kilat (blitzkrieg). Gambaran kerusakan itu bisa dilihat dari sebuah video yang disebar di medsos. Dokter Keith Mortman, Kepala Bedah Toraks RS Universitas George, Washington, menunjukkan permodelan 3D untuk memperlihatkan betapa cepatnya Covid-19 menyerang paru-paru.

Tinggal Pilih Jaga Jarak atau Ambyar

SEKARANG beredar istilah baru covidiot, yang lahir dari pandemi covid-19. Karena istilah ini tidak mengenakkan, maka cocoknya hanya ditahbiskan kepada mereka yang super egois. Istilah ini merupakan bentuk kejengkelan pada orang-orang yang tak peduli penyebaran penyakit coronavirus disease 2019 (covid-19). Mereka yang tetap beraktivitas biasa secara sosial, tak mau diam di rumah, tetap tak menjaga jarak dengan orang-orang lain (social distancing). Akibatnya, mereka dapat menjadi kapal induk pembawa virus dan menyebarkannya ke banyak orang. Pantaslah mereka disebut para super egois yang ngawur di saat pandemi covid-19. Harus sepenuhnya diinsafi bahwa aktivitas berkumpul yang melibatkan banyak orang saat ini ialah berbahaya, membahayakan diri sendiri dan nyawa orang lain. Covid-19 ini menyebar luar biasa cepat, jauh lebih cepat daripada yang bisa kita lacak lewat uji tes yang alatnya baru mau diimpor itu.

Mengantisipasi Wabah Virus Corona Wuhan

HEBOH wabah virus korona jenis baru di Tiongkok sekarang ini mengingatkan kejadian 17 tahun lalu. Pada November 2002, muncul laporan awal merebaknya wabah SARS (severe acute respiratory syndrome, sindrom pernapasan akut) di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Barangkali untuk menjaga kepercayaan publik, awalnya pemerintah Tiongkok berusaha menutupi dan tidak melapor ke WHO. Namun, karena situasi makin genting, pemerintah Tiongkok akhirnya melapor ke WHO pada Februari 2003. Wabah berbahaya ini ternyata menyebar sangat cepat. Hanya dalam waktu setengah tahun, sampai Juli 2003, dilaporkan sudah ada 8.069 kasus dan 775 orang meninggal. Sedemikian hebatnya ancaman wabah ini sampai WHO menyatakan sebagai emergensi global.