#analisis ahli


Mendeteksi Dini Hipoksia Senyap

Covid-19 menjadi mesin pembunuh yang luar biasa, dengan menarget organ paru-paru. Karena begitu banyak pasien tak pergi ke RS sampai pneumonia mereka berkembang dengan sangat berat dan membutuhkan bantuan ventilator. Perkembangan Covid-19 terus berbiak ke fenomena baru yang kian penuh tantangan. Diberitakan, ada tiga pasien tampak tanpa gejala di Banyumas yang tiba-tiba meninggal. Menurut keterangan Bupati Banyumas Achmad Husein, sebelum meninggal ketiganya nampak gembira saja, tak mengalami gejala batuk, flu dan panas seperti pasien Covid-19 lazimnya. Tetapi saturasi oksigennya (persentase sel darah merah yang mengikat oksigen) terus menurun, hingga akhirnya gagal bernapas. Pemeriksaan kemudian mengonfirmasi ketiganya positif Covid-19. Inilah yang kemudian ramai disebut sindrom “happy hipoxia”. Sindrom ini dikabarkan banyak menimpa pasien Covid-19 meskipun sebelum pandemi hal ini dapat dijumpai juga seperti pada kasus infeksi paru lain, atelektasis, dan pirau intrapulmoner. Namun ini menjadi booming karena di latar belakangi pandemi Covid-19 saat ini.

Perlombaan Menciptakan Vaksin

Ikhtiar umat manusia itu dimaksudkan agar kita segera mendapatkan penangkal dari ancaman infeksi ganas korona. Karena hak hidup setiap orang adalah penting. Kita mencermati banyak negara bersicepat membuat vaksin Covid-19 yang kini kian mengganas. Banyak komentar, kritik, dan pujian muncul terkait ikhtiar ini. Media sosial riuh dengan pendapat yang berdasarkan pengetahuan. Namun, banyak juga asal puji atau kritik tanpa mau tahu secara mendalam isu ini. Mari kita coba dengan kepala dingin memahami ”lomba” membuat vaksin demi mengatasi pandemi yang kini setiap hari menginfeksi hampir 300.000 orang ini. Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja mengumumkan, negaranya jadi yang pertama berhasil memproduksi vaksin pada 11 Agustus lalu. Vaksin ini akan segera digunakan untuk vaksinasi massal pada Oktober mendatang. Putin mengatakan, vaksin itu aman dan putrinya sendiri menjadi salah satu sukarelawan uji klinis. Vaksin ini diberi nama Sputnik V, meneruskan nama Sputnik I, satelit Rusia yang pada 1957 jadi wahana luar angkasa pertama di dunia, mengalahkan AS. Rusia mengklaim, sudah ada 20 negara yang memesan lebih dari 1 miliar vaksin Sputnik V.

Otopsi Jenazah Korban Covid-19

Pada Covid-19 ini, otopsi kembali menunjukkan peran pentingnya. Otopsi telah menghasilkan beberapa temuan penting yang sangat membantu pemetaan keganasan karakter virus super baru bernama lain SARS-CoV-2 ini. Otopsi jenazah penderita Covid-19 belum terdengar dilakukan di Indonesia. Mungkin sudah ada yang melakukan, tetapi hasilnya belum dibeberkan kepada publik. Bukannya para dokter kita tak ingin belajar lebih dalam dan melihat sendiri rekam jejak perilaku ganas virus super itu pada organ dalam manusia. Namun, kendala budaya dan religius serta skala prioritas menyebabkan otopsi sulit dilakukan di saat genting ini. Untuk pasien meninggal, protokol pemulasaraan jenazah harus dilakukan secepatnya, sebisa mungkin kurang dari empat jam sudah dikubur. Para dokter sangat sibuk memprioritaskan penanganan pasien yang perlu ditolong. Jumlah pasien positif terus membanjiri rumah sakit, terutama di DKI Jakarta, Jatim, Jateng, Kalsel, dan Sulsel. Bahkan per 18 Juli lalu, yang positif dan meninggal di Indonesia sudah melampaui China, eks ”juara dunia” di minggu-minggu awal pandemi.