#fenomena


Mendeteksi Dini Hipoksia Senyap

Covid-19 menjadi mesin pembunuh yang luar biasa, dengan menarget organ paru-paru. Karena begitu banyak pasien tak pergi ke RS sampai pneumonia mereka berkembang dengan sangat berat dan membutuhkan bantuan ventilator. Perkembangan Covid-19 terus berbiak ke fenomena baru yang kian penuh tantangan. Diberitakan, ada tiga pasien tampak tanpa gejala di Banyumas yang tiba-tiba meninggal. Menurut keterangan Bupati Banyumas Achmad Husein, sebelum meninggal ketiganya nampak gembira saja, tak mengalami gejala batuk, flu dan panas seperti pasien Covid-19 lazimnya. Tetapi saturasi oksigennya (persentase sel darah merah yang mengikat oksigen) terus menurun, hingga akhirnya gagal bernapas. Pemeriksaan kemudian mengonfirmasi ketiganya positif Covid-19. Inilah yang kemudian ramai disebut sindrom “happy hipoxia”. Sindrom ini dikabarkan banyak menimpa pasien Covid-19 meskipun sebelum pandemi hal ini dapat dijumpai juga seperti pada kasus infeksi paru lain, atelektasis, dan pirau intrapulmoner. Namun ini menjadi booming karena di latar belakangi pandemi Covid-19 saat ini.

Otopsi Jenazah Korban Covid-19

Pada Covid-19 ini, otopsi kembali menunjukkan peran pentingnya. Otopsi telah menghasilkan beberapa temuan penting yang sangat membantu pemetaan keganasan karakter virus super baru bernama lain SARS-CoV-2 ini. Otopsi jenazah penderita Covid-19 belum terdengar dilakukan di Indonesia. Mungkin sudah ada yang melakukan, tetapi hasilnya belum dibeberkan kepada publik. Bukannya para dokter kita tak ingin belajar lebih dalam dan melihat sendiri rekam jejak perilaku ganas virus super itu pada organ dalam manusia. Namun, kendala budaya dan religius serta skala prioritas menyebabkan otopsi sulit dilakukan di saat genting ini. Untuk pasien meninggal, protokol pemulasaraan jenazah harus dilakukan secepatnya, sebisa mungkin kurang dari empat jam sudah dikubur. Para dokter sangat sibuk memprioritaskan penanganan pasien yang perlu ditolong. Jumlah pasien positif terus membanjiri rumah sakit, terutama di DKI Jakarta, Jatim, Jateng, Kalsel, dan Sulsel. Bahkan per 18 Juli lalu, yang positif dan meninggal di Indonesia sudah melampaui China, eks ”juara dunia” di minggu-minggu awal pandemi.