Mudik ”Rahmatan” dan Tragedi India


Kalau pemerintah masih mendua soal kerumunan libur Lebaran, kita harus mampu bersikap sendiri, yakni, jangan mudik, jangan berwisata. Bukankah kita semua makhluk otonom?

Ledakan kasus korona di India bisa menjadi cermin tajam bagi negeri kita dalam menyongsong Lebaran. Perlu dipikirkan lagi, apakah sahih melarang mudik, tetapi mempromosikan wisata lokal. Satu gelombang besar kerumunan dicegah, tapi kerumunan yang lain dianjurkan. Kita perlu punya sikap untuk menjaga keselamatan diri.

Mari kita menyimak India, yang kini jadi sorotan keprihatinan dunia. Negeri berpenduduk 1,393 miliar ini besar dalam banyak hal dan kali ini angka koronanya yang besar. India memulai vaksinasi 16 Januari 2021 dan sampai awal Maret sudah mencapai sekitar 18 juta warga yang disuntik.

Awal Maret, sehari bisa menyuntik lebih dari sejuta warga. Inilah rekor tertinggi di dunia. Ambisinya, bisa memvaksinasi 300 juta warganya hanya dalam tempo tujuh bulan. Ambisi dan capaian vaksinasi yang besar sekali ini mengundang decak kagum dari berbagai pihak, termasuk dari banyak kalangan di Indonesia.

 

Karena ”herd ignorancy”

Kemudian ramailah pendapat bahwa India segera memasuki fase kekebalan komunitas (herd immunity). Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama memuji capaian vaksinasi massal India.

Menurut dia, keberhasilan vaksinasi massal India karena menerapkan tiga strategi, yakni melibatkan swasta, murah (sekitar Rp 50.000), dan prioritas awal adalah untuk tenaga kesehatan dengan vaksin gratis dan lansia (ini juga diterapkan di Indonesia).

Semuanya tampak makin membaik saja. Kemudian, protokol kesehatan dan pembatasan di India mengendur. Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengingatkan: meskipun beberapa wilayah di India sudah menunjukkan tercapainya kekebalan kelompok, sebaiknya jangan lengah.

Namun, lengah adalah sifat bawaan manusia. Tibalah saatnya kelengahan itu harus dibayar dengan sangat mahal. Dilandasi oleh keyakinan dan ketaatan pada tradisi, lebih dari sejuta warga India mengikuti ritual Kumbh Mela, mandi di Sungai Gangga, festival keagamaan terbesar di dunia (12/4/2021).

”Keyakinan kami adalah hal terbesar bagi kami. Karena keyakinan yang kuat itulah banyak yang datang ke sini untuk berendam di Gangga,” kata panitia seperti dikutip kantor berita AFP. Berbondong-bondonglah jutaan orang nyemplung ke sungai legendaris itu tanpa masker, jaga jarak, cuci tangan. Pokoknya, tanpa protokol kesehatan. Ada sikap ignorant atau abai secara masif.

Kerumunan riuh itu rupanya sudah lama ”ditunggu” oleh virus korona yang ”sangat cerdas.” Worldometer mencatat rekor terendah tahun ini dengan ”hanya” 8.947 kasus baru pada 8 Februari. Kelengahan menjadikan angka merangkak naik pada Maret. Memasuki April benar-benar meroket.

Worldometer melaporkan, pertengahan April (16/4/2021) tercatat 217.353 kasus infeksi baru. Seminggu kemudian (22/4/2021) tercatat 314.835 kasus infeksi baru. Angka naik terus ke 345.147 kasus (24/4/2021). Rekor kematian harian juga membesar mengikuti tren kasus baru harian. Kurva kenaikan kasus harian dan kematian di India pun melejit, mirip jempol dan telunjuk yang ditudingkan ke atas.

India dilanda kepanikan, sistem kesehatan nasional sudah hampir tak sanggup memikul beban berat ini. Media membanjiri dunia dengan berita horor. Ambulans berisi pasien antre panjang hendak masuk ke fasilitas kesehatan, sementara tempat tidur, ventilator dan oksigen habis terpakai.

India memang luar biasa. Dari semula dielu-elukan segera memasuki fase herd immunity (kekebalan kawanan) hanya dalam waktu singkat berubah menjadi tragedi memilukan akibat herd ignorancy (kebebalan kawanan).

 

”Mutan ganda” India

Di luar soal faktor manusia yang tidak mematuhi protokol kesehatan secara disiplin, virus yang bermutasi menjadi ganas ini pun juga tak kalah hebatnya dalam memengaruhi terjadinya tsunami korona India. Seiring banyaknya varian mutan korona ini, namanya pun makin rumit dan sulit dihafal. Kalau namanya saja sulit dihafal, apalagi cara mengatasinya.

Menurut studi epidemiologi dan sequencing (perunutan) genetik virus, didapati bahwa terdapat empat varian mutan yang ada di India, yaitu varian Inggris (B1.1.7), varian Afrika Selatan (B.1.351), varian Brasil (P.1), dan yang terbaru, varian muta ganda (double mutant) (B.1.617).

Pada akhir 2020, dunia digemparkan oleh munculnya varian baru virus korona B.1.351 dari Afrika Selatan yang diketahui berbeda dari mutasi-mutasi sebelumnya karena memiliki potensi untuk menurunkan efektivitas antibodi yang diperoleh dari vaksin ataupun infeksi sebelumnya.

Berbeda dengan varian pendahulunya seperti varian Inggris yang hanya lebih cepat menyebar, tetapi dapat dilindungi oleh vaksin, letak mutasi (E484K) dari varian Afrika Selatan ini membuat antibodi tidak mengenali protein virus.

Setelah mutasi yang menakutkan itu diketahui pula muncul varian lain di dunia, seperti varian Amerika Serikat (B.1.427) yang memiliki letak mutasi L452R yang ternyata juga menurunkan perlindungan dari antibodi.

Varian mutan ganda India dikatakan sangat menakutkan karena mengandung dua mutasi menakutkan, yaitu E484K (dari Afrika Selatan) dan L452R (dari Amerika Serikat) yang sama-sama memiliki kemampuan untuk kabur dari sistem antibodi pertahanan tubuh manusia.

Didapati kedua mutasi ini dapat menurunkan efek netralisasi antibodi secara signifikan dan bila digabungkan bisa lebih tak terkendali. Varian ini diperoleh dari perunutan genom pada sampel terbaru pasien di India. Sampai saat ini telah ditemukan 800 total kasus temuan varian mutan ganda di 21 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Belgia, Australia, dan Singapura dengan 40 persen kasus ditemukan di India.

Walaupun penelitian secara langsung mengenai tingkat penyebaran dan kematian akibat virus varian baru ini belum ditemukan, dapat diprediksi (dari letak mutasinya) virus ini akan lebih cepat menyebar dan mematikan. Pendek kata, varian baru India ini harus dihindari secara disiplin oleh negara-negara lain dengan jalan mengunci migrasi warga yang berkunjung dari India.

Apa yang disebut ”mutan ganda” ini cukup mengerikan sebab mampu menaikkan kisaran 10 hingga 20 kali kasus baru. Varian lainnya mempunyai satu protein paku, tetapi mutan ganda yang dikenal sebagai B.1.617 ini memiliki dua protein paku dan lebih menular dibandingkan dengan galur atau generasi sebelumnya. Satu saja berbahaya, apalagi dua.

Inilah sebabnya beberapa negara langsung bertindak cepat. Pakistan, Singapura, Hong Kong, Inggris, Amerika Serikat, Selandia Baru dan Kanada, langsung menyetop kedatangan penumpang dari India. Dan, seperti biasanya, kita lengah.

 

Setelah dikritik tajam netizen,
syukurlah jajaran Kementerian Kesehatan langsung bertindak.

 

Media melaporkan sudah ada 127 warga India yang masuk ke Indonesia menggunakan penerbangan carter dari Chennai, India, dan tiba di Soekarno-Hatta, Rabu (21/4/2021). Mereka pemegang visa kunjungan dan kartu izin tinggal terbatas (Kitas). Setelah dikritik tajam netizen, syukurlah jajaran Kementerian Kesehatan langsung bertindak.

Dua hari kemudian Jumat (23/4/2021), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, jajarannya sudah melakukan tes antigen pada penumpang dari India ini, dan mendapati 12 orang di antaranya positif Covid-19. Langsung dilakukan pemetaan genomnya untuk melacak kemungkinan varian mutasi baru yang dibawa oleh penumpang yang positif ini. Kementerian Perhubungan langsung menyetop semua penerbangan reguler dari India yang bertujuan ke Indonesia.

 

Jangan bingung mudik vs wisata

Jika India punya ritual Kumbh Mela, kita punya tradisi mudik Lebaran. Keduanya selama ini berjalan baik-baik saja, ritual tradisi berbasis (meskipun tidak sepenuhnya) keagamaan. Bagi sebagian besar Muslim Indonesia, kurang lengkap rasanya mengakhiri puasa Ramadhan tanpa tradisi mudik Lebaran. Namun, Lebaran kali ini, seperti Lebaran tahun lalu, sebaiknya kita rayakan dengan menahan diri untuk tidak mudik.

Tradisi mudik harus menjadi bagian dari rahmatan lil alamin. Pada musim pandemi, rahmat itu justru akan didapatkan ketika kita meniadakannya. Toh, ”bersalam-salaman” bisa dilakukan secara virtual. Berbagi uang bisa lewat transfer dan untuk bingkisan bisa lewat jasa kirim daring. Kita lindungi sesepuh dan sanak saudara kita, agar tak terpapar Covid-19 yang kekuatannya kian ganas.

Sejauh ini, kasus positif Covid-19 masih cenderung ”fenomena kota”. Atau terkonsentrasi di kota-kota besar berpenduduk padat. Jabodetabek adalah penyumbang terbesar kasus. Bandung dan Semarang menyusul kemudian. Bila mudik berjemaah dari kota besar ke ”udik” (kampung), Covid-19 akan ”mudik” juga. Karena tanpa manusia bergerak, Covid-19 juga tidak bergerak.

Jika mudik diizinkan, sangat potensial terjadi pemerataan penyakit Covid-19 dari kota besar ke seluruh pelosok. Itulah mudik yang mafsadat lil alamin, membawa mala bagi alam.

 

Karena itu, janganlah kita ingin menambal ketertinggalan
pertumbuhan ekonomi, tetapi dengan mengambil risiko
yang bisa lebih parah.

 

Syukurlah pemerintah sudah bersikap tegas melarang total mudik 6-17 Mei, dengan pengetatan sejak 22 April. Akan tetapi, sikap tegas pemerintah melarang mudik ini akan lebih sempurna jika dibarengi dengan pemberlakuan melarang kegiatan kerumunan dalam bentuk apa pun, termasuk kegiatan berwisata lokal.

Bayangkan, misalnya, Lebaran nanti warga Jabodetabek tumplek blek memenuhi kebun binatang Ragunan, atau warga Solo Raya ramai -ramai datang memenuhi kolam pemandian Pengging di Boyolali. Tidakkah ini juga kerumunan seperti di India?

Ingat bahwa lonjakan kasus saat ini di India, terbukti merambah secara masif pada masyarakat perdesaan yang belum terjangkau virus pada gelombang-gelombang sebelumnya.

Jika kali ini juga sampai terjadi lonjakan penyebaran di kota-kota kecil, di kawasan wisata di sejumlah daerah, akan lebih sulit menanganinya karena fasilitas kesehatan yang ada tidak sebanyak dan selengkap di kota besar. Karena itu, janganlah kita ingin menambal ketertinggalan pertumbuhan ekonomi, tetapi dengan mengambil risiko yang bisa lebih parah.

Ada jalan tengah bijaksana. Kalau pemerintah masih mendua soal kerumunan libur Lebaran, kita harus mampu bersikap sendiri, yakni, jangan mudik, jangan berwisata. Bukankah kita semua makhluk otonom? Kita diberi fitrah untuk bisa ikhtiar mandiri menghindari bahaya. Kalau ada ”apa-apa” setelah kita wisata, toh kita sendiri yang merasakannya. Bukan pemerintah.

Selamat menyongsong Hari Fitrah dengan mensyukuri dan menjaga nikmat kesehatan yang indah dan mahal.

 

Djoko Santoso
Guru Besar Kedokteran Unair, Ketua Badan Kesehatan MUI Jawa Timur, Penyintas Covid-19