#kompas.id


Industri 4.0 untuk Pacu Layanan Kesehatan

Presiden Jokowi sudah memilih dr Terawan sebagai menteri kesehatan untuk periode kedua pemerintahannya. Apa arah kebijakan kesehatan Kementerian Kesehatan untuk menjawab tantangan ke depan? Sebelum sampai ke sana, ada baiknya kita mengulas pencapaian sektor kesehatan lima tahun ke belakang. Gebrakan paling monumental periode pertama pemerintahan Jokowi adalah penerapan jaminan kesehatan nasional lewat Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ini bisa dibilang kebijakan revolusioner di sektor kesehatan. Meskipun begitu, kebijakan ini masih menanggung masalah berat. Masalah utama yang belum bisa diatasi sampai sekarang adalah pembiayaan BPJS yang tekor sejak awal sampai sekarang. Ratusan rumah sakit mitra belum dibayar oleh BPJS hingga arus kasnya terseok, bahkan ada yang bangkrut.

Mewaspadai Gunung Es Kusta

Rumah Ginjal - Para penderita kusta di Kampung Kusta Sitanala Tangerang hidup secara berdampingan bertahun-tahun tanpa ada diskriminasi. Baru-baru ini harian Kompas menurunkan berita mengejutkan di halaman depan tentang penyebaran kusta di Indonesia. Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2017, disebutkan ada 17.441 penderita kusta di Indonesia. Indonesia menempati urutan ketiga, di bawah India dengan 126.164 penderita dan Brasil 26.875 penderita. Data terbaru 2018, India 120.334 penderita, Brasil 28.660 penderita dan Indonesia 17.017 penderita. Indonesia tetap urutan ketiga. Siapa sangka, sebelumnya jarang ada pemberitaan tentang penyakit kusta, tiba-tiba saja Indonesia diberitakan tertinggi ketiga kasus kusta di dunia. Ada sembilan provinsi kita yang tergolong paling berkontribusi, antara lain Papua, Papua Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara. Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri lepra (mycobacterium leprae), dengan gejala antara lain berupa munculnya bercak putih di kulit, kelemahan/kelumpuhan otot, rasa kesemutan atau kebas pada sebagian anggota tubuh. Gejala ini baru muncul dalam waktu lama sejak terkena infeksi, bisa lima tahun atau bahkan lebih.

Mengatasi Persoalan Serius Terkait Tengkes

Rumah Ginjal - Setahun belakangan ini kita disuguhi berbagai berita tentang kemajuan Indonesia di bidang teknologi. Akhir tahun lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersemangat mengajak menyambut datangnya era Revolusi 4.0.  Inilah era industri yang didukung berbagai teknologi canggih. Februari, dari Cape Canaveral Florida, AS, diberitakan roket Falcon 9 SpaceX meluncur ke angkasa luar membawa satelit Nusantara Satu.  Inilah satelit komunikasi broadband canggih seharga Rp 35 triliun milik Indonesia. April lalu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meluncurkan Alugoro 405, kapal selam pertama buatan PT PAL.  Betapa bangganya, kita sudah menjadi bagian dari bangsa- bangsa yang menguasai teknologi canggih, tonggak kemajuan masa depan. Namun, membawa kita tersentak, Kompas, edisi 28 Mei menulis Tajuk Rencana dengan judul "Gizi untuk Generasi Unggul". Judulnya biasa saja, tetapi isinya membuat kening berkerut dan menggedor kesadaran kita.  Menurut Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) 2018 yang dikutip pada tulisan itu, prevalensi tengkes (stunting) Indonesia mencapai 30,8 persen, jauh di atas prevalensi (jumlah yang terpapar) stunting global yang 21 persen. Angka 30,8 persen berarti hampir sepertiga dari anak-anak Indonesia (anak balita dan remaja) menderita stunting.

Mempercepat Bebas Malaria

Indonesia sedang bekerja keras mengeliminasi penyakit malaria. Targetnya pada 2030, seluruh wilayah kita bebas malaria. Ini sebuah cita-cita yang luar biasa, tetapi sangat mungkin dicapai, bahkan bisa dipercepat jika ilmuwan kita makin diberi ruang oleh pemerintah untuk aktif memberikan solusi tuntas untuk penyakit tropis ini. Apalagi, negeri kita punya sejarah yang cukup meyakinkan tentang pemberantasan malaria. Kita terus berkejaran dengan nyamuk Anopheles, sang pembawa malaria. Kemenkes menyebut pada 2017 masih ada 261.671 kasus malaria dengan korban meninggal 100 orang. Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, 266 kabupaten/kota (52 persen) adalah wilayah bebas malaria. Sebanyak 172 kabupaten/kota (33 persen) endemis rendah, 37 kabupaten/kota (7 persen) endemis menengah, dan 39 kabupaten/kota (8 persen) endemis tinggi. Saat ini ada 28 persen penduduk yang tinggal di wilayah endemis dan belum bebas malaria, seperti Provinsi Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, dan Maluku Utara. Sisanya 72 persen penduduk tinggal di wilayah yang sudah dinyatakan bebas malaria. Angka API (Annual Parasite Incident) malaria di Indonesia menurun menjadi 0,99 persen per 1.000 penduduk pada 2017. Bandingkan dengan tahun 2009 yang masih 1,85 persen per 1.000 penduduk.