#kompas.id


Membandingkan Singapura, Malaysia, dan Indonesia

Berkaca dari negara sahabat, kita bisa memacu untuk mengejar kemajuan. Badan yang sehat jasmani-rohani, pendidikan yang berkualitas, dan keunggulan iptek akan menjadi pendorong kemajuan. Setelah Perang Dunia II berakhir, Indonesia termasuk negara bekas jajahan yang paling awal meraih kemerdekaan. Proklamasi 17 Agustus 1945 hanya tiga hari setelah Jepang menyerah kepada AS. Belanda masih belum ikhlas dan melancarkan agresi militer, baru 19 Desember 1949 mau mengakui kedaulatan RI. Sementara Malaysia baru diberi kemerdekaan oleh Inggris, bukan merebut, pada 31 Agustus 1957 atau 12 tahun setelah kita merdeka. Singapura sebelumnya juga koloni Inggris, pada 1963 bergabung dengan Federasi Malaysia, tetapi pada 9 Agustus 1965 memisahkan diri menjadi negara merdeka.

A Delayed Transition to Endemic

We should return to health protocols in anticipation for an increase in cases potentially sparked by the new subvariants. In so doing, we are preventing new variant infections from spiking.   About a month ago the government stated that we were entering a transitional period from the pandemic to endemic. It was an encouraging statement, justifiably supported by the fact that one month after the government allowed long homecoming holidays for Idul Fitri celebrations, a worrying caseload escalation did not occur. Amid this optimism, the daily cases started to trickle up. In fact, the average daily addition of cases had been hovering below 500 cases since May, with the data from 16 May even recording only 182 additional daily cases. This made many people optimistic about the prospect of the pandemic turning into an endemic soon.

Transisi ke Endemi yang Tertunda

Pemerintah memperkirakan puncak kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia mungkin akan terjadi pada minggu kedua atau ketiga Juli 2022. Saatnya mengetatkan protokol kesehatan mencegah penyebaran varian baru.   Sekitar satu bulan lalu pemerintah menyatakan bahwa kita sedang memasuki masa transisi dari akhir pandemi menuju ke endemi. Ini pernyataan menggembirakan, apalagi didukung oleh fakta bahwa satu bulan setelah pemerintah mengizinkan liburan panjang mudik Lebaran, tak muncul gejolak yang mengkhawatirkan. Namun sayang, di tengah optimisme ini, tiba-tiba kasus harian secara perlahan naik. Sebenarnya sejak Mei penambahan kasus harian rata-rata di bawah 500 kasus, bahkan pada 16 Mei penambahan kasus harian hanya 182 kasus. Ini yang membuat banyak pihak optimistis pandemi segera berganti menjadi endemi.

Bahaya Pemasaran Agresif Susu Formula

WHO dan Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef) melaporkan banyaknya praktik buruk pemasaran susu formula yang melanggar standar internasional. Promosi yang didengungkan ke orangtua dan petugas kesehatan sering menyesatkan. Peringatan telak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seharusnya membangunkan kita untuk sebisa mungkin menjauhkan bayi kita dari susu formula. WHO secara mengejutkan mengeluarkan laporan berjudul How Marketing of Formula Milk Influences Our Decisions on Infant Feeding (Bagaimana Pemasaran Susu Formula Memengaruhi Keputusan Kita tentang Pemberian Makan Bayi).

New Chapter of Superhuman Design

The government and expert associations should set up a committee of experts in charge of compiling all matters regarding genomic research, such as academic studies, research governance, clinical trial procedures. The human genome has been completely sequenced. This scientific achievement for humanity deserves to be celebrated. Researchers across countries collaborating in the Human Genome Sequencing Consortium have succeeded in mapping and sequencing the complete human genome, the whole genetic information of human beings. Made up of superpowers the United States, the United Kingdom, Japan, France, Germany and China, the consortium began the major research project in 1990. They successfully started mapping the human genome in 2003, but 15 percent of the segment remained unrevealed. By the end of March 2022, the genome sequence was complete.