Muncul Mutasi Covid-19, Akademisi Desak Percepat Vaksinasi


Jakarta, Jurnas.com - Ketua Senat Akademik Universitas Airlangga (Unair) Prof. Djoko Santoso, dr., PhD., Sp.PD, K-GH, FINASIM mendesak pemerintah mempercepat program vaksinasi Covid-19 nasional.

Hal ini perlu dilakukan guna mengantisipasi masuknya Covid-19 varian baru, yang kini sudah menyebar di Inggris, Afrika Selatan, Jepang, hingga Korea Selatan.

"Kita berkejaran dengan waktu. Jangan sampai strain baru yang menurunkan (efikasi) vaksin itu masuk ke Indonesia," kata Djoko dalam webinar `Bibir Covid-19: Masalah Pendataan, Pendaftaran & Isu Terkini Seputar Vaksin Covid-19` pada Kamis (21/1), yang digelar oleh Indonesia HealthCare Forum (IndoHCF) dan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI).

Djoko mengingatkan, varian virus baru ini dapat menurunkan efikasi vaksin Covid-19 sudah ada saat ini. Seperti diketahui, pemerintah Indonesia telah menetapkan enam jenis vaksin untuk pelaksanaan program vaksinasi Covid-19.

Keenam vaksin tersebut ialah vaksin yang diproduksi oleh Sinovac Biotech Ltd., Pfizer Inc. and BioNTech, PT Bio Farma, AstreaZeneca, Sinopharm, dan Moderna.

"Jika targetnya 80 persen yang divaksin, maka perlu ada team work (kerja sama) antara pemerintah, lembaga, dokter dari sabang sampai merauke, dan kepala desa untuk menyukseskan vaksinasi. Untuk efek samping tidak perlu khawatir, ringan, dan hanya 1-2 hari," jelas Djoko.

Sementara itu, Ketua Umum IndoHCF dan Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) Dr.dr.Supriyantoro,Sp.P,MARS menegaskan bahwa vaksinasi Covid-19 merupakan upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Tanah Air.

Diharapkan, setelah masyarakat menjalani vaksinasi Covid-19, akan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga terjadi penurunan drastis kasus Covid-19.

"Perlindungan-perlindungan vaksin ini betul-betul sangat bermanfaat. Bahwa ada efek sampingnya, mungkin. Tapi dalam kenyataannya hanya ringan, seperti pegal. Semoga tidak terjadi efek samping yang serius, seperti hasil evaluasi tahap tiga," ujar Supriyantoro.