#Media Indonesia


Mengelola Efek Vaksinasi Korona pada Pasien Ginjal Kronis

DEMI menyusun kekebalan kawanan (herd immunity) terhadap korona atau covid-19, kelompok rentan diprioritaskan dalam vaksinasi. Baik rentan karena usia maupun karena kondisi kesehatan mereka. Orang-orang dengan penyakit bawaan diberi rambu-rambu khusus. Intinya, sebagian besar boleh divaksin dengan syarat tertentu, termasuk vaksinasi terhadap pasien penyakit ginjal kronis (PGK).  Banyak pemberitaan, terutama di medsos, tentang berbagai kejadian yang dikaitkan dengan vaksinasi. Kebanyakan sulit ditelaah karena informasinya tidak lengkap dan cenderung bombastis. Maka, sebagai upaya mengantisipasi KIPI (kejadian ikutan pasca-imunisasi), perlu dikaji soal dampak sampingan vaksinasi covid-19, khususnya terkait PGK. Kajian ini perlu dilakukan sembari menunggu penelitian komprehensif soal KIPI dari berbagai jenis vaksin covid-19 pada pasien PGK. 

Setop Accidental Herd Immunity

‘SELEKSI Allah. Gusti Allah sedang memilih. Siapa lanjut hidup dan siapa yang dianggap cukup’. Ini posting-an terakhir Bambang Purwoko, dosen Fisipol dan Ketua Satgas Papua UGM di laman Facebook, Minggu (4/7), yang saat itu sedang sakit. Sepuluh hari kemudian, Mas Bambang meninggal. Semoga husnulkhatimah. Sebelumnya, almarhum sempat mem-posting kegundahannya. ‘Anomali? Wabah makin parah, tetapi jalanan dan tempat-tempat umum makin meriah’. Itulah renungan almarhum sebelum meninggal yang sangat tepat dalam menggambarkan kondisi saat ini.  Posting-an husnulkhatimah itu tepat mencerminkan kegentingan saat ini. Gelombang kedua covid-19 yang merundung negeri kita belum juga bisa dikendalikan. Presiden Jokowi sudah memberlakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat pada 3-20 Juli dan memperpanjangnya hingga 25 Juli, dan kini diperpanjang lagi hingga 2 Agustus.

Invasi VoC Delta ke Kudus dan Bangkalan

VARIAN covid-19 dari India itu menginvasi dengan menunggangi kesembronoan kita. Akibatnya, pasien positif covid-19 Indonesia tiba-tiba melonjak drastis, berawal dari Kudus. Seperti diberitakan, penyebabnya ialah warga santai saja menjalani tradisi bakdo kupat (Lebaran ketupat), tujuh hari setelah Idul Fitri. Mereka berkerumun, bergerombol, dan saling mengunjungi. Di situlah varian delta covid-19 ikut ‘menari-nari’ di antara warga.  Maka, meledaklah kasus penularan di kota pusat rokok kretek itu. Rumah sakit menjadi penuh pasien, dan angka kematian melonjak. Lonjakan ini diperkuat hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diumumkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. Ia mengatakan dari 34 spesimen dari Kudus yang di periksa, 28 di antaranya positif varian delta. 

Harap Cemas Universitas, Menuju Indonesia Emas

KITA sedang menjalani hitung mundur menuju Indonesia Emas 2045. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini hampir bersamaan waktunya dengan peringatan 76 tahun kemerdekaan. Harapan besar kita, nanti saat usia seabad kemerdekaan (1945-2045), seluruh rakyatnya bisa mengakses pendidikan dengan baik dan menghasilkan alumni pendidikan yang unggul dan kompeten serta berlevel global di bidang mereka. Peringatan Hardiknas kali ini dalam situasi pandemi tahun kedua yang belum mereda. Justru, ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk merenungkan sejenak, sejauh mana capaian proses pendidikan tinggi di negara kita. Salah satu pertanyaan pentingnya: cukup siapkah kita menyongsong 100 tahun kemerdekaan, sesuai dengan visi menjadi negara industri?

Pembekuan Darah dan Tudingan Vaksin Haram

VAKSIN Astrazeneca membuat heboh. Belum lama, European Medicines Agency (EMA), Badan Obat-obatan Eropa yang bermarkas di Amsterdam, mengumumkan laporannya, bahwa vaksin Astrazeneca diduga kuat menimbulkan efek samping pembekuan darah yang berpotensi menyebabkan kematian. Tak lama kemudian, Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), Badan POM Inggris, juga mengumumkan telah mengidentifikasi kemungkinan hubungan antara vaksin Astrazeneca-Oxford dengan kasus pembekuan darah. Laporan EMA dan MHRA ini langsung menyulut kekhawatiran di kawasan Eropa. Dalam waktu singkat, 11 negara di Eropa menangguhkan penggunaan vaksin Astrazeneca dan disusul Thailand. Di Indonesia belum ditemukan kasus penggumpalan darah karena vaksin ini, tetapi sambil menunggu kajian lebih lanjut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan penangguhan penggunaan vaksin Astrazeneca (15/3).