#pandemi covid-19


Kunci Berdamai dengan Korona

Virus korona terus bermutasi untuk pertahankan hidupnya, sementara manusia juga harus bertahan hidup dengan sistem imunnya yang sangat supercanggih. TI jsalah satu tulang punggung penanggulangan Covid-19.   Sudah lebih dari tiga bulan kita bergelut seru dengan pandemi supervirus Covid-19. Kurva infeksi dan kematian belum juga terlihat puncaknya. Makin luas sektor kehidupan kita yang kena dampak buruk. Kita makin dipaksa untuk bertahan sampai suatu saat nanti ditemukan vaksin dan obat penangkalnya. Kita dipaksa makin hari bisa menerima kehadiran virus ini sebagai suatu kenyataan meski sangat membahayakan. Inilah ”tatanan” dunia baru gara-gara Covid-19. Bidang kesehatan, ekonomi, pergaulan sosial, proses politik, budaya kerja, semua berubah dan memformat ulang aturan mainnya. Format baru itu bisa jadi akan jangka panjang, bahkan permanen. Sebab, diperkirakan, supervirus ini tak akan bisa musnah sama sekali. Kemampuannya menyebar, bermutasi, dan beradaptasi dengan inang barunya sangat gesit.

Tetap Semangat Menghadapi Pandemi Covid 19

Rumah Ginjal - Sudah bulan ke-4 pandemi belum kunjung usai juga, sementara belum ada berita munculnya obat spesifik dan vaksinnya. Ini dialami oleh hampir semua negara di dunia dengan berbagai level pertumbuhan kasus baru. Untuk indonesia, menurut Sumber Newyork Times masih dimasukan dalam kategori negara dengan jumlah kasus tertinggi, dengan background kurangnya pengujian yang meluas. Artinya, bahwa sangat mungkin kasus-kasus nya masih banyak yang tidak tercatat (data yang resmi masih belum memasukan kasus yang sebenarnya positif covid, namun tidak sempat dilakukan uji pemeriksaan covid). Namun, Indonesia tidak sendirian, masih banyak yang lainnya di antaranya Amerika, Inggris, Kanada, Rumania, dan Iran. Maka untuk itu, mari kita terus saling menyemangati dalam menghadapi pandemi ini agar bisa kita terhindar dari ancaman virus covid ini. Jangan menyerah karena ini perjuangan hidup bersama melawan musuh virus covid yang tidak terlihat. Dan tetap jangan panik karena hidup harus senantiasa berjalan sesuai kaidah-kaidah alam. Atas berkat rahmat Allah dan didorong keinginan luhur melalui kebersamaan berjuang bahu-membahu maka kita yakin akan menang, Amien 3x. 

Harapan dari Plasma Darah

Metode terapi plasma darah sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai salah satu solusi sementara mengingat potensi berbagai risiko sebagaimana disebut di atas sambil menunggu ditemukannya vaksin dan obat untuk Covid-19. Supervirus Covid-19 di Indonesia memakan kian banyak korban dan diperkirakan belum sampai ke puncaknya. Kabar baik, di tengah kesulitan ini muncul sinar di ujung lorong. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman segera memulai pengobatan pasien Covid-19 dengan menggunakan plasma darah dari pasien yang sudah dinyatakan sembuh. Metode ini bisa disebut plasma pemulihan. Senin (20/4/2020), Kepala LBM Eijkman Amin Subandrio menyatakan, lembaganya dengan dukungan Badan POM dan Kementerian Kesehatan siap menerapkan pengobatan metode plasma pemulihan ini beberapa pekan mendatang. Selasa (28/4), Kompas memberitakan, PT Biopharma dan RSPAD Gatot Soebroto bergabung dalam inovasi gerak cepat ini.

Flu yang Bukan Covid-19 pun, Bisa Fatal bagi Penderita dengan Cuci Darah Regular

 Rumah Ginjal - Bagi orang sehat, datangnya musim flu tidaklah menjadi hal utama dibandingkan dengan kelompok rentan. Namun bukan berarti hal itu tidak berisiko fatal. Coba jika kondisi tubuh mengalami kelelahan hebat, kan bisa berakibat fatal.  Maka dari itu memperhatikan disiplin pola hidup sehat secara umum tetap berlaku pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja, apalagi kondisi pandemik saat ini. Namun dalam kesempatan ini, bahasan berikut ini ditekankan pada kelompok rentan dengan penyakit gagal ginjal yang menjalani dialisis regular.  Studi baru yang disitir oleh Ankur Banerjee 22 februari 2019 di harian Reuters, dikatakan bahwa angka kematian meningkat untuk pasien yang menjalani dialisis ketika musim influenza menyebar di masyarakat. Di AS, peningkatan angka tersebut tidak tanggung-tanggung dalam satu tahun rata-rata, infeksi saluran nafas akut yang parah ditaksir berkontribusi lebih dari seribu kematian di antara orang-orang dengan gagal ginjal stadium akhir. Dave Gilbertson dari Minneapolis Medical Research Foundation di Minnesota menaksir bahwa hal tersebut sangat terkait erat dengan musim sebangsa flu. Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S.

Bagaimana Penerima Cangkok Ginjal Menghadapi Pandemi Covid-19?

Rumah Ginjal - Dikala pandemik covid-19 ini semua umat manusia di dunia pada waspada termasuk Saudara-saudara kita penerima cangkok ginjal. Namun ketika kita sudah menjalankan kehidupan dengan penuh kehati-hatian tanpa lupa sang Pencipta alam semesta, tidak ada kata pantang menyerah dalam menghadapi pandemi. Khususnya Saudara kita penerima cangkok ginjal, tetap semangat dan semangat menjalani kehidupan ini apapun bentuknya. Terkait covid-19, Saudara kita yang di seberang jauh di sana, melalui dokter pribadinya bersedia untuk dievaluasi dan selanjutnya dianalisa dalam satu program penelitian ketika dirawat. Hasilnya dilaporkan dan dipublikasikan ke Jurnal (The New England Journal of Medicine). Sebagian ini kami cuplik lalu dikembangkan dengan versi populer agar mudah untuk diketahui dan dipahami. Dengan demikian, diharapkan lagi agar menjadi semakin waspada. Di jurnal tersebut disebutkan bahwa Penerima cangkok ginjal umumnya rentan, termasuk beresiko sangat tinggi untuk terkena penyakit Covid19. Jika terkena, pada fase awal serangan orang cangkok ginjal dengan Covid-19 ini lebih jarang demam. Begitu yang dikatakan dari penelitian di Amerika. Cuplikan sebagian data nya sebagai berikut: Penelitian di Montefiore Medical Center, 36 penerima transplantasi ginjal orang dewasa berturut-turut yang dites positif Covid-19 antara 16 Maret dan 1 April 2020. Sebanyak 26 penerima (72%) adalah laki-laki, dan usia rata-rata 60 tahun.