Menyikapi Varian Baru Covid-19


Menghadapi ancaman varian virus yang baru, mau tak mau kita harus mengulang ajakan klise: perbanyak ”tracing” dan ”testing” spesimen, patuhi protokol kesehatan dan pemerintah tegas dalam penegakan tanpa pandang bulu.

Setelah satu tahun pandemi Covid-19 kita lalui, titik terang terasa menjauh lagi. Merujuk ke data di Satgas Penanganan Covid-19, tampaknya memang puncak kurva telah kita lalui. Begitupun puncak kurva global sempat melandai drastis. Namun, pelan-pelan kurva itu naik lagi.

Data Satgas menunjukkan, puncak kurva tercapai 30 Januari 2021, saat penambahan kasus harian sebanyak 14.518 kasus baru, dan 13 Maret lalu penambahan kasus harian turun drastis menjadi 4.607 kasus baru.

Sebagai pembanding, pada saat yang sama, Brasil sedang menyalip India dalam perebutan ranking kedua negara dengan kasus positif terbanyak di dunia. Data Worldometer 19 Maret, peringkat pertama masih tetap dipegang Amerika Serikat dengan 30.357.255 kasus, hampir 10 persen dari penduduk AS yang 332 juta.

Apakah penurunan drastis ini disebabkan telah dimulainya vaksinasi massal sejak 13 Januari lalu? Secara umum bisa dikatakan vaksinasi berjalan dengan baik, tanpa kendala menonjol. Memang ada kasus vaksin AstraZeneca yang ditunda pemakaiannya di beberapa negara, tetapi vaksin-vaksin Covid-19 tetap tak terkendala berarti. Dalam dua bulan sampai 13 Maret, vaksinasi dosis pertama sudah menjangkau 3.985.596 orang, dan dosis kedua 1.454.836 orang.

Mereka ini para tenaga medis yang jadi prioritas tahap pertama, serta lansia dan pekerja publik untuk tahap kedua. Common sense mengatakan, meski bukan faktor utama, vaksinasi pastilah berkontribusi pada penurunan angka kasus harian. Faktor lain yang bisa berperan lebih besar, konsistensi penerapan pembatasan sosial, 3T dan 3M secara ketat.

Akan tetapi, jika dilihat, kurva kasus positif harian yang turun drastis, ini agak mencengangkan. Hal ini bisa memunculkan rasa percaya diri yang berlebihan, yang bisa bikin lengah. Misalnya, ada daerah yang mulai merencanakan mengakhiri kebijakan pembatasan sosial, mau segera membuka tempat hiburan, mengizinkan mudik saat libur panjang, atau mengendurkan kontrol terhadap hajatan massal tak berizin, dan sebagainya. Sedihnya lagi, terjadinya kasus-kasus kerumunan yang melibatkan penguasa atau orang kaya yang tak tersentuh penegakan hukum nan adil dan beradab.

Kurva melandai jangan direspons secara sembrono. Apalagi dengan pembiaran terhadap pelanggar protokol kesehatan kelas berat seperti hajatan massal, atau membiarkan mudik libur panjang. Sangat riskan. Kurva yang sudah mulai menurun kini terasa naik lagi. Apalagi, kita tengah menghadapi serbuan varian baru hasil mutasi SarCov-2. Beberapa varian baru yang sudah terdeteksi masuk ke Indonesia antara lain B-117 dari Inggris, N349K, dan D614G.

Kurva yang melandai itu kini mulai terganggu lagi secara global, karena. sejak 23 Februari naik lagi. Dari di bawah 300.000 kasus per hari kini mendekati 500.000 kasus (19 Maret). Kematian per hari juga naik turun dari 6.000-an menjadi mendekati 10.000. India yang sempat turun ke 8.000-an, kini melonjak ke 36.000-an per hari (19 Maret). Kematian juga merangkak naik.

Kurva Indonesia juga belum stabil. Pada 19 Maret, ada 6.570 kasus baru dan 227 kematian. Bandingkan dengan 13 Maret, 4.607 kasus baru dan 100 kematian. Karena itu, terlalu dini untuk kendurkan ikhtiar.

 

Varian ”siluman”

Tentang mutasi Covid-19, ini tidak unik. Pada dasarnya semua virus berupaya untuk terus bermutasi menjadi varian baru. Ini hukum dasar survival of the fittest, pelestarian diri dengan beradaptasi. Perubahan genetik terjadi saat virus membuat salinan baru dari dirinya sendiri untuk menyebar, bertahan dari gempuran tentara tubuh, memodifikasi dan memperbarui daya serangnya. Hasilnya ada beberapa varian baru yang lebih cepat menular atau lebih ganas.

Mutasi inilah yang terjadi pada varian Afrika Selatan yang disebut dengan kode 501.V2 atau B.1.351. Varian ini awalnya masuk ke Inggris dan cepat sekali menyebar dan menimbulkan kekhawatiran karena menyumbang 90 persen kasus positif baru di negara itu. Setelah varian ini masuk ke Inggris kemudian menyebar cepat ke puluhan negara lain, termasuk ke Indonesia.

Varian B.1.1.7 diumumkan sudah masuk ke Indonesia oleh Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono pada 2 Maret, terdeteksi pada enam orang di Sumsel, Sumut, Kaltara, dan Kalsel. Dua di antaranya baru pulang dari Arab Saudi. Menurut keterangan, varian B.1.1.7 ini lebih cepat menular 50-74 persen dari virus induknya.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, menjelaskan, belum ada laporan terkait pengaruh varian B.1.1.7 pada vaksin yang sudah digunakan di Indonesia, khususnya produk Sinovac.

Jadi, untuk sementara vaksin ini diyakini masih efektif untuk menumbuhkan kekebalan pada kasus mutasi baru varian B.1.1.7. Akan tetapi, jika nanti keluar laporan yang menyebut bahwa varian baru ini menurunkan keampuhan vaksin yang sudah disuntikkan, situasinya bisa lebih rumit.

Mutasi lain yang perlu diwaspadai adalah varian N349K, yang sejauh ini terdeteksi sudah menyebar ke setidaknya 30 negara. Jubir program vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia, mengatakan, kewaspadaan diperlukan karena sudah ada satu publikasi di jurnal yang menyebutkan varian ini lebih kuat menempel ke sel reseptor.

Sebenarnya varian N349 ini lebih dulu terdeteksi masuk ke Indonesia daripada B.1.1.7. Kemenkes sudah mendeteksi sejak akhir November 2020 dan langsung melaporkannya ke Global Initiative on Shaaring All Influenza Data (GISAID), dan sekarang dalam tahap kajian oleh WHO. Akan tetapi, rupanya WHO merekomendasikan agar lebih memperhatikan mutasi B.1.1.7 dari Inggris, B.1.351 dari Afrika Selatan, dan B.1.1.248 dari Brasil.

Ketua IDI Daeng M Faqih menekankan pentingnya mewaspadai N349K. Selain lebih kuat mengikatkan diri pada sel reseptor ACE2 di sel manusia, varian ini juga pintar bersembunyi. Akibatnya, virus mutan ini tak dikenali oleh antibodi poliklonal (kumpulan molekul imunglobulin yang bereaksi teradap antigen spesifik) yang terbentuk pada imunitas orang yang pernah terinfeksi sebelumnya.

Secara teori, orang yang sudah terinfeksi virus dan bisa bertahan, di tubuhnya terbentuk kekebalan alami, dan memorinya merekam data tentang si virus. Jika suatu saat terinfeksi lagi oleh virus yang sama, memori sistem kekebalan tubuhnya akan cepat mengenali dan langsung membasminya.

Akan tetapi, N349K ini mirip ”siluman” sehingga tidak terdeteksi oleh sistem kekebalan tubuh yang sudah terbentuk itu. Ini bagaikan pesawat tempur ”Stealth” F35 milik AS yang menggunakan material logam dengan pelapis tertentu yang mengakibatkan tidak terdeteksi oleh sistem radar lawan, sehingga bisa menyerang target tanpa ketahuan.

Dengan kurva terancam naik lagi dan bergentayangannya mutan-mutan Covid-19, jelas kita masih dalam posisi terancam. Kekhawatiran terbesar jika virus varian baru ini tak mempan dicegah vaksin yang sudah ada. Artinya, vaksin yang sudah ada ini hanya ampuh untuk menghadapi virus generasi awal, sehingga diperlukan rekayasa atau modifikasi untuk memperbarui vaksin. Padahal, pengembangan vaksin butuh waktu lama. Normalnya 10-15 tahun.

Pandemi sekarang sangat darurat sehingga proses pengembangan vaksin juga dipercepat dan sertifikasinya pun berupa izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA). Sudah begitu, vaksin ini ada umurnya. Diberitakan, salah satu vaksin yang sudah memperoleh izin penggunaan, mampu memberikan kekebalan dalam waktu enam bulan saja. Ini lebih singkat dibanding vaksin flu yang umur ampuhnya satu tahun sehingga jika pandemi korona masih belum sirna, penerima vaksin harus mengulang vaksinasi lagi.

 

Gotong royong nan adil

Melihat beratnya jika kemungkinan di atas terjadi, seharusnya semua pihak bisa gotong royong berupaya mengatasi dan mengantisipasi perkembangan berisiko ini. Gotong royong ini harus adil.

Semua pihak, baik jelata maupun penguasa, ikut berpartisipasi dalam menahan diri dan berbagi dalam penanganan pandemi. Vaksinasi jelas sangat membantu, tetapi bukan senjata pemungkas.

Cara konvensional, yakni tracing (penelusuran kontak) dan testing spesimen harus semakin dimaksimalkan sehingga jumlah per harinya bisa terus meningkat, dan datanya kian akurat mendekati fakta sebenarnya, semakin kecil data yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan.

Semua pihak, termasuk orang-orang berkuasa, harus tetap konsisten mematuhi protokol kesehatan, dan penegakan hukumnya harus memantulkan keadilan tanpa pilih kasih.

Kita belum bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir. Sepertinya titik terang di lorong pandemi terasa menjauh. Dulu, April 2020, ada seorang pengusaha survei politik yang sembrono dan jumawa, tiba-tiba merasa sebagai epidemiolog, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 akan berakhir Juni 2020, dengan cara meramal yang tak masuk akal.

Tak seharusnya kesembronoan seperti itu dapat tempat. Seharusnya kita menjadi makin pintar dan berpengalaman. Melampaui ”kecerdasan” Covid-19. Untuk itu, biarkan saintis yang berkompeten yang bicara.

Kita bisa iri jika melihat keberhasilan Selandia Baru atau Taiwan yang bisa menekan pandemi sampai titik terendah, tak ada kasus positif baru. Mengacu pada keberhasilan beberapa negara tadi, maka faktor penahan penyebaran pandemi yang paling kuat adalah budaya dan perilaku masyarakat, serta konsistensi sikap pemerintahnya dalam penegakan protokol kesehatan.

Di sinilah bedanya dengan kita, masyarakat kita rata-rata relatif mudah diatur dengan ancaman sanksi. Sayangnya, justru orang-orang yang punya kekuasaan sering mengundang sinisme karena terkesan bebas-bebas saja membuat pelanggaran larangan berkerumun. Dalam kekalutan, juga masih ada yang tega berbuat nista dengan mengorup dan memainkan dana pandemi.

Disiplin perilaku personal, perilaku (budaya) masyarakat dan perilaku aparatur negara, terbukti lebih ampuh daripada penerapan kebijakan penguncian ketat (lockdown). Survei yang dilakukan Imperial College London pada Juni 2020 mengungkap fakta bahwa di 53 negara yang menerapkan pembatasan sosial dan protokol kesehatan secara ketat saat itu, belum ditemukan lonjakan infeksi sebesar yang diperkirakan berdasarkan data sebelumnya. Negara yang cukup berhasil menaati protokol kesehatan tersebut, sekarang pembatasan sosialnya sudah mulai dilonggarkan.

Penerapan pembatasan sosial berskala mikro, berupa PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat), yang diterapkan di Indonesia, juga mulai menunjukkan hasil. Terjadi penurunan kasus baru sejak PPKM diterapkan Februari lalu karena pengisolasian dilakukan selektif di spot-spot, dari RT/RW sampai skala rumah, tempat kasus positif.

Seleksi juga dilakukan pada orang-orang positif Covid-19 untuk dibawa ke rumah sakit, yakni yang bergejala sedang dan berat saja. Yang tak bergejala dan bergejala ringan diisolasi di rumah dengan dibantu kebutuhannya. Penerapan PPKM, ditambah vaksinasi, dan penegakan protokol kesehatan terlihat makin efektif menekan penularan.

Ikhtiar semacam itu mendapat dukungan model matematika Osmar Pinto Neto berupa strategi pembatasan jarak sosial dikurangi secara bertahap, dan pemberlakuan protokol kesehatan secara ketat. Neto menjelaskan, jika 50–65 persen orang bisa berhati-hati di area publik, misal tetap memakai masker dan cuci tangan, maka cara ini cukup untuk menggantikan penerapan jaga jarak sosial. Sekaligus dapat membantu mencegah gelombang penyebaran infeksi lebih lanjut selama dua tahun ke depan, dan wabah akan menurun.

Jadi, menghadapi ancaman varian virus yang baru, mau tak mau kita harus mengulang ajakan klise: perbanyak tracing dan testing spesimen, patuhi protokol kesehatan, dan pemerintah harus menegakkannya tanpa pandang bulu.

Djoko Santoso
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,
Ketua Pengurus Badan Kesehatan Dewan MUI Provinsi Jawa Timur,
Penyintas Covid-19