#Prof. Djoko Santoso


Exploratory correlates of vascular calcification in hemodialysis patients from a resource-limited setting biochemical markers and vascular NF- BSGLT2 expression

Abstract Objective. This study aimed to analyze biochemical determinants of calcification by assessing calcium–phosphate product, magnesium, iPTH, vitamin D3 , NF-κB, and SGLT2 expression as potential markers of vascular injury in chronic kidney disease (CKD). Materials and methods. This cross-sectional study was conducted at Dr. Soetomo General Academic Hospital, involving 30 adult ESRD patients undergoing chronic hemodialysis via radiocephalic arteriovenous fistula. SGLT2 expression was evaluated using immunohistochemistry with a monoclonal antibody against SGLT2 (1:100 dilution, Biocare Medical). Statistical analysis was conducted using the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS version 21; IBM Corp., Armonk, NY, USA) and R version 4.5.1. Results. Among 30 CKD patients, vascular calcification was detected in 30% of cases.

Blood Q Creatinine Based on Sex and Age in Healthy Indonesian Geriatrics

ABSTRACT Median blood creatinine (Qcr) is necessary for an accurate evaluation of geriatric renal function. Nonetheless, there is a significant void in existing literature concerning creatinine reference data unique to the elderly. To improve diagnostic precision and clinical decision-making in this susceptible group, this study developed a corresponding Q model for serum creatinine in geriatric patients stratified by age and sex. To determine the Qcr serum and reference range creatinine concentrations, 913 healthy elderly patients (452 males and 461 females) undergoing routine examinations at clinical laboratories were studied. Creatinine concentration reference intervals were divided into 3 age groups, namely: 60-69 years, 70-79 years, and >80 years. The median and percentiles p2.5 (lower reference limit/LRL) and p97.5 (upper reference limit/URL) were determined by the study.

Hybrid University-Hospital Based untuk Atasi Krisis Dokter Spesialis

MENUTUP tahun 2022, belum lama Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin membuat pernyataan menohok: kita mengalami krisis dokter spesialis. Jumlah dokter spesialis yang ada sangat tidak cukup untuk melayani kebutuhan nasional. Apalagi distribusinya juga tidak merata, masih terkonsentrasi pada kota-kota besar. Butuh ribuan dokter spesialis untuk didistribusikan ke kota-kota kecil, wilayah luar Jawa, dan daerah terpencil serta tertinggal. Kata Menkes, satu RSUD butuh setidaknya tujuh dokter spesialis.  Menurut standar kelayakan WHO, untuk Indonesia dibutuhkan setidaknya seorang dokter untuk seribu penduduk, atau 1:1.000. Dengan penduduk sekitar 275 juta, Indonesia membutuhkan sekitar 275.000 dokter. Menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Oktober 2022, ada 143.900 dokter umum yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dan aktif berpraktik, atau baru sekitar 52% dari kebutuhan.

Penjelasan Gagal Ginjal Akut Menurut Pakar Nefrologi UNAIR

UNAIR NEWS – Maraknya kasus gagal ginjal akut misterius pada awal bulan Oktober lalu masih menjadi pembicaraan hangat. Terdapat kurang lebih 131 anak di 14 provinsi di Indonesia mengalami gagal ginjal akut yang mana saat itu belum diketahui penyebabnya. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kemudian memberikan pernyataan bahwa penyebab gagal ginjal akut pada anak karena konsumsi obat sirup yang mengandung bahan kimia melebihi ambang batas. Bahan tersebut adalah Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG). Menurut Prof Djoko Santoso dr PhD SpPD KGH FINASIM, guru besar ilmu penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) dan konsultan ginjal-hipertensi mendefinisikan gagal ginjal akut sebagai kondisi gangguan fungsi ginjal yang muncul dengan serangan mendadak dan cepat ditandai oleh peningkatan serum kreatinin atau menurunnya produksi urin.

Agenda Kesehatan 2023

Selain RUU Kesehatan yang kontroversial, ada agenda kesehatan 2023 yang lebih mendasar untuk diberi perhatian, yaitu pemerataan layanan kesehatan primer dan penanganan persoalan kronis. Juga masalah penyakit tak menular. Mari kita tutup tahun 2022 ini dengan optimisme, semoga status pandemi Covid-19 bisa dicabut di tahun 2023. Kita juga berharap, semoga kegaduhan terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan bisa dicari solusinya. Belum lama ini muncul gelombang protes terhadap RUU Omnibus Law Kesehatan yang merupakan inisiatif DPR tersebut. Beberapa lembaga profesi kesehatan dan kedokteran, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (Patelki), dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI), menyuarakan kegelisahannya.