Hasil Pencarian

Artikel


Deteksi Dini Penyakit Ginjal Kronis

Ginjal adalah organ ajaib dalam tubuh manusia yang dapat membuang racun, limbah, dan cairan berlebih. Organ ginjal berperan dalam mengontrol tekanan darah, merangsang produksi eritrosit, mejaga kesehatan tulang, dan mengatur bahan kimia dalam tubuh. Begitu banyak peran ginjal, membuat organ ini harus kita sayangi agar terhindar dari Penyakit Ginjal Kronis (PGK) Deteksi penyakit ginjal kronis harus dilakukan sejak dini. Tidak lain karena organ ini sangat mempengaruhi kinerja tubuh manusia. Jika organ ginjal mengalami kerusakan, maka menyebabkan hilangnya fungsi ginjal dan dapat menimbulkan penyakit lainnya bahkan kematian.

5 Fakta Penyakit Ginjal yang Harus Dikenali Sejak Dini

Penyakit ginjal yang telah ditakutkan banyak orang sesungguhnya mudah dicegah dan dikendalikan. Rusaknya ginjal umumnya disebabkan oleh penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Pola hidup sehat sejak dini sangat diperlukan untuk merawat fungsi ginjal dalam menyaring racun dan limbah dari darah. Perlu diketahui, penyakit ginjal telah mempengaruhi 850 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia telah ada 499.800 penduduk Indonesia menderita Penyakit Gagal (Riskedas, 2013). Angka ini masih mungkin jauh lebih tinggi lagi. Yuk, simak lebih jauh fakta seputar penyakit ginjal berikut ini.

Hipertensi Pada Lansia: ISH, Faktor Risiko, Penanganan

Lansia adalah golongan orang lanjut usia dengan usia di atas 60 tahun. Menurut data statistik 2019, Jumlah lansia di Indonesia mencapai sekitar 25 juta jiwa. Pada usia ini, lebih separuh dari populasinya mempunyai tekanan darah yang lebih dari normal. Hal ini yang mempermudah terjadinya risiko penyakit jantung pembuluh darah, termasuk utamanya otak dan ginjal.  Kenaikan tekanan darah pada orang tua dipandang sebagai konsekuensi dari proses penuaan. Sementara itu, yang dimaksud dengan hipertensi pada lansia adalah: seseorang dengan usia lebih dari 60 tahun yang mempunyai tekanan darah sistolik konsisten tinggi (140 mmHg atau lebih) dengan tekanan diastolik dalam batas normal (lebih rendah dari 85 mmHg). Kondisi ini umum disebut isolated systolik hypertension (ISH).

Preventing Mass Torture of the Kidney

The KIDNEY is an important organ of the body that performs many vital functions. Failure to treat several diseases, such as hypertension, diabetes, heart problems, obesity, kidney stones, or indiscriminate drug consumption will end up in kidney failure or chronic kidney disease (CKD). This is something scary. Even in developed countries such as the United States, 16 percent of the adult population suffers from the disease, with 52 percent of deaths from cardiovascular disease (Foley RN, 2003). By projecting the prevalence rates in the US, it is estimated that more than 24 million Indonesians currently suffer from CKD, which is divided into three categories: mild, moderate, and severe.

Statin Mencegah Contrast Induced Nephropathy

Melanjutkan topik pembahasan mengenai contrast-induced nephropathy (CIN) yang merupakan kerusakan jaringan ginjal yang bersifat akut yang disebabkan oleh masuknya media kontras ke dalam tubuh (pembuluh darah), kali ini kita akan membahas salah satu tindakan pencegahan terjadinya kerusakan tersebut. Sampai detik ini pencegahan kerusakan ginjal akibat penyuntikan kontras masih menjadi tantangan bagi para klinisi khususnya dokter, perawat, dan petugas kesehatan lain. Sudah menjadi dilema karena kontras sangat diperlukan untuk tindakan diagnostik dan intervensi prosedur kardiovaskular dan neuroimaging. Melihat begitu besarnya manfaat penyuntikan kontras tersebut, maka diperlukan tindakan preoperatif yang bisa mencegah atau mengurangi kerusakan ginjal yang terlalu parah yaitu dengan suplementasi obat golongan statin.