Statin Mencegah Contrast Induced Nephropathy
Melanjutkan topik pembahasan mengenai contrast-induced nephropathy (CIN) yang merupakan kerusakan jaringan ginjal yang bersifat akut yang disebabkan oleh masuknya media kontras ke dalam tubuh (pembuluh darah), kali ini kita akan membahas salah satu tindakan pencegahan terjadinya kerusakan tersebut. Sampai detik ini pencegahan kerusakan ginjal akibat penyuntikan kontras masih menjadi tantangan bagi para klinisi khususnya dokter, perawat, dan petugas kesehatan lain. Sudah menjadi dilema karena kontras sangat diperlukan untuk tindakan diagnostik dan intervensi prosedur kardiovaskular dan neuroimaging. Melihat begitu besarnya manfaat penyuntikan kontras tersebut, maka diperlukan tindakan preoperatif yang bisa mencegah atau mengurangi kerusakan ginjal yang terlalu parah yaitu dengan suplementasi obat golongan statin.
Kerusakan ginjal akibat kontras jarang sekali terjadi pada kondisi ginjal yang normal, namun dalam kondisi fungsi ginjal yang terganggu (oleh karena penyakit ginjal sebelumnya) justru zat kontras ini bisa menambah kerusakan ginjal yang sudah ada. Pada artikel sebelumnya telah disebutkan bahwa CIN adalah salah satu penyebab utama kerusakan ginjal akut di rumah sakit dan bertanggung jawab pada 1/8 kasus gagal ginjal akut (AKI). AKI sendiri ditandai dengan peningkatan serum kreatinin lebih dari 25% atau >0,5 mg/dl dari baseline dalam 48 jam. Pasien yang memiliki penyakit ginjal kronis (menahun) juga mengalami kerusakan ginjal secara akut (mendadak atau tiba-tiba) sehingga menimbulkan kerusakan yang lebih parah dan memungkinkan setelah sembuh, fungsi ginjal kembali menurun lebih buruk dari sebelumnya. Kerusakan ginjal secara akut yang kita takutkan disini dapat diperantarai oleh tindakan memasukkan kontras ke pembuluh darah.
Salah satu obat yang digadang-gadang dapat memberikan efek protektif dan melindungi ginjal dari kerusakan akibat kontras adalah golongan statin. Statin bukanlah golongan obat yang jarang kita temui sehari-hari, sebut saja simvastatin, atorvastatin (lipitor), rosuvastatin (crestor), dan lovastatin. Banyak dari kita yang bila melakukan check-up kesehatan dan mendapati kadar kolesterol yang tinggi, akan diresepkan dokter obat-obat tersebut. Statin merupakan obat anti-hiperlipidemia atau penurun kadar kolesterol darah yang paling sering diresepkan di fasilitas kesehatan dikarenakan harganya yang lebih murah dan efek kerjanya yang luar biasa. Selain dapat menurunkan kadar kolesterol, statin juga mampu memperbaiki komposisi fraksi lemak yang ada di tubuh seperti menurunkan kadar LDL (low-density lipoprotein atau lemak jahat), menurunkan kadar TG (trigliserida darah), dan meningkatkan kadar HDL (high-density lipoprotein atau lemak baik).
Statin merupakan obat penurun kolesterol yang bekerja dengan menghambat enzim hydroxymethylglutaryl-CoA (HMG-CoA) reductase. Enzim ini berfungsi untuk membentuk mevalonat untuk produksi kolesterol oleh liver. Dengan dihambatnya enzim tersebut, maka produksi kolesterol dalam tubuh kita menjadi terhambat. Dibalik mekanisme kerja utama tersebut, statin juga memiliki efek pleiotropik yang berguna untuk melindungi ginjal kita dari kerusakan. Efek pleiotropik adalah kemampuan untuk memperbaiki fungsi (kestabilan) endotel pembuluh darah, mengurangi inflamasi dan radikal bebas pada lapisan pembuluh darah, dan menghambat terbentuknya reaksi penggumpalan darah (clotting). Efek ini salah satunya berguna melindungi pembuluh darah jantung pasien yang mengalami serangan jantung. Dalam konteks kali ini, pembuluh darah ginjal bisa lebih terlindungi oleh akibat kontras yang dimasukkan ke tubuh.
Menurut studi meta-analisis diketahui bahwa statin dapat mencegah gagal ginjal akut (AKI) akibat kontras foto. Studi tersebut menunjukkan bahwa pasien dengan penurunan fungsi ginjal yang menerima premedikasi statin memiliki risiko 0,59 kali lebih rendah untuk terjadi suatu gagal ginjal akut akibat kontras (Cho, 2020). Sedangkan pada pasien dengan kondisi ginjal yang sehat, pemberian statin menurunkan risiko kerusakan ginjal sebanyak 46% lebih rendah (Giacoppo, 2014). Hal tersebut menunjukkan bahwa statin memiliki efek perlindungan yang baik dan signifikan dalam menghadapi kerusakan ginjal akibat penyuntikan kontras.
Selain menggunakan golongan statin, premedikasi pasien yang akan diinjeksi kontras adalah N-acetylsistein dan hidrasi cairan yang cukup. N-acetylsistein merupakan obat batuk golongan mukolitik yang dapat memecah dahak namun juga memiliki aktivitas antioksidan yang bisa melindungi jaringan endotel dan ginjal dari inflamasi dan oksidan bebas. Hidrasi cairan yang cukup dengan 500cc infus dalam 3 sampai 4 jam sepelum penyuntikan kontras mampu menurunkan risiko penurunan eGFR (kemampuan filtrasi cairan oleh ginjal). Hidrasi cairan yang cukup juga dapat menurunkan risiko alergi oleh zat kontras.
Dengan kemajuan teknologi termasuk di bidang kedokteran, sarana untuk diagnostik dan intervensi juga turut semakin maju. Namun perlu diketahui bahwa keamanan pasien tetap harus diutamakan, dan jangan sampai teknologi tersebut --salah satunya kontras justru menyebabkan kerusakan ginjal, yang memperburuk kondisi pasien. Petugas medis harus tetap mawas dan meliterasi manfaat-manfaat tindakan premedikasi seperti pemberian golongan statin sebagai pencegahan kerusakan ginjal akibat kontras.
Prof. Djoko Santoso, dr., PhD, Sp.PD-KGH, FINASIM
Referensi
Cho, AJin MD, PhDa; Lee, Young-Ki MD, PhDa; Sohn, Seo Young MD, PhDb,∗. Beneficial effect of statin on preventing contrast-induced acute kidney injury in patients with renal insufficiency: A meta-analysis. Medicine: March 2020 - Volume 99 - Issue 10 - p e19473
Giacoppo D, Capodanno D, Capranzano P, et al. Meta-analysis of randomized controlled trials of preprocedural statin administration for reducing contrast-induced acute kidney injury in patients undergoing coronary catheterization. Am J Cardiol 2014;114:541–8.
Sumber gambar: alomedika.com