Asupan Air dan Keluarnya Lewat Ginjal


Air sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana pada artikel sebelumnya. Lebih dari 70 persen komposisi tubuh manusia tersusun atas air. Kulit manusia mengandung 64% air, otot dan ginjal mengandung 79%, bahkan tulang pun tersusun atas 31% air. Air yang kita konsumsi tidak langsung menuju ginjal untuk dibuang, melainkan melalui beberapa proses dalam tubuh manusia. Hanya 20% air yang diminum menuju ke kandung kemih untuk dibuang. Rata-rata manusia dapat mencerna 33,8 ons air per jam. Air digunakan dalam tubuh manusia setidaknya untuk lubrikasi organ, membuang zat toksik dalam tubuh manusia, regulasi temperature tubuh, dan untuk absorbsi nutrisi dalam tubuh manusia.

Tubuh manusia akan secara otomatis mengirimkan sinyal bila kekurangan cairan. Sinyal ini akan dikirim ke otak, kemudian memunculkan rasa haus pada manusia. Regulasi ini penting karena akan menentukan status hidrasi dalam tubuh manusia.Hal yang seringkali menjadi pertanyaan adalah bagaimana takdir air dalam tubuh manusia? 

Air yang dikonsumsi akan masuk melewati mulut, esofagus ke lambung. Di dalam lambung sebagai tempat awal dari penyerapannya, air akan diabsorbsi dalam waktu kurang lebih 5 menit ke dalam tubuh. Akan tetapi bila seseorang mengonsumsi makanan bersamaan dengan air, maka absorbsi air berjalan lebih lambat dibanding biasanya. Air yang diminum akan terus berjalan dari lambung, menuju usus halus (duodenum, jejunum, ileum), usus besar, kemudian melubrikasi feces melewati anus. Seiringan dengan itu, air akan diserap oleh pembuluh darah dibawah epitel saluran cerna menuju peredaran darah bersama air hasil sekresi dari usus halus sendiri.

Saat masuk dalam peredaran darah, air akan diproses lebih lanjut melalui ginjal. Ibarat alat yang menyaring air, ginjal berfungsi untuk ‘menyaring’ darah. Fungsi pertama ginjal adalah melakukan filtrasi. Filtrasi ginjal oleh glomerulus membuat molekul berukuran besar seperti protein dan sel darah merah tidak dapat melewatinya. Bila fungsi filtrasi ginjal terganggu, maka dapat ditemukan protein dan darah dalam urine. Di kapsula bowman, air lalu melewatinya yang akhirnya menjadi urine yang sebelumnya melalui berbagai proses, yaitu reabsorbsi (penyerapan kembali zat yang masih dibutuhkan tubuh) dan sekresi (penambahan zat yang tidak dibutuhkan tubuh) di dalam tubulus proksimal. Proses ini sangat penting untuk pembuangan zat racun dalam tubuh, sehingga tidak menjadi toksik pada tubuh. Urine kemudian diteruskan menuju tubulus distal untuk dilakukan proses ‘pemekatan’ urine atau augmentasi. Urine yang telah melewati tubulus distal akan menjadi urine sesungguhnya yang siap dibuang oleh tubuh melewati ureter, kandung kemih, dan uretra. Urine yang telah dibuang akan mengandung air, urea, kreatinin, ammonia, dan zat lainnya. 

Status hidrasi seseorang dapat ditentukan melalui urine. Urine yang terlalu pekat akan berwarna kuning pekat. Biasanya disebabkan oleh karena adanya dehidrasi. Sebaliknya, bila seseorang terlalu banyak mengonsumsi air, maka urine akan berwarna lebih pucat. Kebutuhan cairan seseorang bergantung pada usia, jenis kelamin, berat badan, temperatur lingkungan, aktivitas fisik sehari-hari, dan lain sebagainya. Rerata kebutuhan cairan dewasa adalah 2-3 liter per hari.

Oleh karena air sangat berguna dalam tubuh manusia, maka penting untuk mengonsumsi air sesuai kebutuhan tubuh kita. Namun tidak hanya itu, kitapun perlu juga mengerti siklus keluarnya air oleh ginjal hingga tubuh kita selalu dapat melakukan fungsinya dengan baik.[]

 

Sumber gambar: https://amidiswater.com/2020/02/24/air-distilasi-dan-pengaruhnya-pada-kesehatan-ginjal/

Source:
Keywords:



Comments