#kompas.id


Responding to the Pandemic Modeling

Ratna Megawangi’s article, “Coronavirus and Panic Statistics” (Kompas, 20/6/2020), is interesting to discuss. The article comments on the prediction of the spread of the coronavirus by mathematical modeling, as widely presented by experts.   In particular, Ratna reviewed predictions made by Dr. Neil Ferguson of Imperial College London, an epidemiologist who from the start was keen to suggest that a lockdown be implemented in England. With the mathematical modeling he made, in mid-March Ferguson predicted the death toll due to the coronavirus in the UK would reach 510,000 people if no lockdown was tightly applied. This prediction is what makes many parties panic. According to Ratna, Prime Minister Boris Johnson, who initially believed in the herd immunity scenario, eventually shifted to trusting Ferguson to apply the regional quarantine alias total lockdown. And, the fact was that, as of Wednesday (24/6/2020), Worldometer data recorded the number of positive cases in the UK at 306,210, of whom 42,927 had died. It is very low compared to the 510,000 infections according to Ferguson’s prediction if the lockdown was not implemented.

Menyikapi Pemodelan Pandemi

Di tengah pandemi yang hingga sekarang terus merundung pikiran kita, yang diperlukan adalah sinergi dari semua sektor. Eksperimen demi eksperimen, termasuk kekeliruan dan kegagalan dalam proses, tetap bermanfaat. Tulisan Ratna Megawangi, ”Korona dan Statistik Kepanikan” (Kompas, 20/6/2020) menarik diperbincangkan. Artikel itu bernada menggugat prediksi penyebaran korona dengan pemodelan matematis yang banyak disodorkan para ahli. Secara khusus, Ratna mengulas Dr Neil Ferguson dari Imperial College London, epidemiolog yang sejak awal getol menyarankan agar karantina wilayah diterapkan di Inggris. Dengan pemodelan matematis yang dibuatnya, pertengahan Maret lalu, Ferguson memprediksi angka kematian akibat korona di Inggris akan mencapai 510.000 orang jika tak diterapkan karantina wilayah ketat. Prediksi inilah yang membuat banyak pihak panik. Menurut Ratna, PM Boris Johnson yang semula percaya pada skenario kekebalan kelompok, akhirnya bergeser jadi memercayai Ferguson sehingga menerapkan karantina wilayah alias total lockdown.

Kunci Berdamai dengan Korona

Virus korona terus bermutasi untuk pertahankan hidupnya, sementara manusia juga harus bertahan hidup dengan sistem imunnya yang sangat supercanggih. TI jsalah satu tulang punggung penanggulangan Covid-19.   Sudah lebih dari tiga bulan kita bergelut seru dengan pandemi supervirus Covid-19. Kurva infeksi dan kematian belum juga terlihat puncaknya. Makin luas sektor kehidupan kita yang kena dampak buruk. Kita makin dipaksa untuk bertahan sampai suatu saat nanti ditemukan vaksin dan obat penangkalnya. Kita dipaksa makin hari bisa menerima kehadiran virus ini sebagai suatu kenyataan meski sangat membahayakan. Inilah ”tatanan” dunia baru gara-gara Covid-19. Bidang kesehatan, ekonomi, pergaulan sosial, proses politik, budaya kerja, semua berubah dan memformat ulang aturan mainnya. Format baru itu bisa jadi akan jangka panjang, bahkan permanen. Sebab, diperkirakan, supervirus ini tak akan bisa musnah sama sekali. Kemampuannya menyebar, bermutasi, dan beradaptasi dengan inang barunya sangat gesit.

Harapan dari Plasma Darah

Metode terapi plasma darah sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai salah satu solusi sementara mengingat potensi berbagai risiko sebagaimana disebut di atas sambil menunggu ditemukannya vaksin dan obat untuk Covid-19. Supervirus Covid-19 di Indonesia memakan kian banyak korban dan diperkirakan belum sampai ke puncaknya. Kabar baik, di tengah kesulitan ini muncul sinar di ujung lorong. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman segera memulai pengobatan pasien Covid-19 dengan menggunakan plasma darah dari pasien yang sudah dinyatakan sembuh. Metode ini bisa disebut plasma pemulihan. Senin (20/4/2020), Kepala LBM Eijkman Amin Subandrio menyatakan, lembaganya dengan dukungan Badan POM dan Kementerian Kesehatan siap menerapkan pengobatan metode plasma pemulihan ini beberapa pekan mendatang. Selasa (28/4), Kompas memberitakan, PT Biopharma dan RSPAD Gatot Soebroto bergabung dalam inovasi gerak cepat ini.

Saat Korona Belokkan Imunitas Jadi Senjata Makan Tuan

Untuk menghindari kefatalan, selain mengandalkan vaksin yang sampai sekarang masih dalam proses percepatan riset, sangat penting upaya untuk menjaga dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Mengapa virus korona jenis baru (novel coronavirus) ini bisa sangat mematikan? Bagaimana virus bernama resmi Covid-19 ini menyerang tubuh dan mengapa bisa menyebabkan korban meninggal dalam waktu sangat cepat, 4-7 hari? Padahal, pada pasien HIV/AIDS umumnya perlu waktu bertahun-tahun menuju kefatalan. Kalau HIV/AIDS ibarat perang gerilya, Covid-19 menghancurkan dalam perang kilat (blitzkrieg). Gambaran kerusakan itu bisa dilihat dari sebuah video yang disebar di medsos. Dokter Keith Mortman, Kepala Bedah Toraks RS Universitas George, Washington, menunjukkan permodelan 3D untuk memperlihatkan betapa cepatnya Covid-19 menyerang paru-paru.