Vaksinasi dan Ancaman Mutasi Virus


Vaksinasi penting, tapi jelas bukan panasea. Pilar utama menurunkan penularan adalah pembatasan mobilitas, pelacakan, dan yang sangat penting memperbanyak tes. Kenapa tes Covid-19 justru makin mahal bagi rakyat?

Babak baru dengan vaksin Covid-19 yang membangun optimisme perlu dibarengi dengan kuatnya kejujuran (dan keadilan) dalam kebijakan pemerintah.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat, menyusul Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan bahwa vaksin Sinovac halal. Presiden Jokowi menjadi orang yang pertama menerima suntikan vaksin Sinovac pada 14 Januari 2021 untuk memberikan teladan imunisasi Covid-19.

Seminggu sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional mengumumkan penerapan semacam pembatasan sosial skala besar (PSBB) untuk Jawa dan Bali, terhitung 11-25 Januari. Ini langkah bagus sekaligus korektif.

Pembatasan mobilitas adalah pilar utama untuk mencegah kecepatan penyebaran virus. Dan vaksinasi adalah pilar medis pendukungnya. Langkah korektif ini layak kita dukung.

Namun sayangnya, virus korona seperti tidak mau tahu. Jumlah penambahan kasus positif terus naik. Dan Sabtu (16/1/2021), dua hari setelah Presiden disuntik vaksin, angka positif naik lagi menjadi 14.224 orang. Virus korona seolah mengirim pesan, ”Jangan main-main, jangan meremehkan kami dan juga jangan pernah bercanda dengan kami”.

Kita pasti menyadari banyak orang yang ragu dan menolak divaksinasi dengan berbagai alasan. Di antaranya, karena alasan efikasi vaksin Sinovac tergolong rendah. Di Indonesia, efikasi vaksin Sinovac 65,3 persen dan di Brasil 50,4 persen, jauh lebih rendah dibanding Pfizer yang mencapai 95 persen merujuk ke Coronavirus Vaccine Tracker.

Sederhananya, vaksin Sinovac belum cukup meyakinkan masyarakat. Bahkan, ada anggota DPR yang menolak terang-terangan divaksin dan menyebut vaksinasi ini lebih bernuansa bisnis sehingga kian memunculkan keraguan pada vaksin Covid-19.

Di tengah situasi seperti ini, muncul berita yang kurang menyenangkan. Jumat (15/1/2021), Pemerintah Norwegia mengeluarkan peringatan, menyusul meninggalnya 23 orang setelah disuntik vaksin Pfizer, meski disebutkan bahwa yang meninggal itu orang berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan (komorbid).

Sebagai negara pesaing, China langsung minta vaksin Pfizer tidak digunakan di seluruh dunia. Polemik ini jelas tidak menguntungkan bagi sosialisasi vaksin. Dalam situasi sulit seperti ini, sang virus malah semakin ”ngegas” keganasannya.

Indonesia belum reda menghadapi serangan gelombang pertama, negara lain sudah menghadapi serangan gelombang kedua. Yaitu, mutasi varian baru virus korona yang diberitakan 71 persen lebih menular daripada pendahulunya. Virus SARS-CoV-2 ini luar biasa cerdas, ulet, dan tangguh, trengginas.

Setelah berhasil mengagresi hampir seluruh negara di dunia, virus ini terus bermutasi. Beradaptasi dengan lingkungan barunya dan menguatkan senjatanya, membuat makin kedodoran sistem pertahanan tubuh.

September tahun lalu, para ahli Afrika Selatan (Afsel) mendeteksi virus mutasi baru di Nelson Mandela Bay, memberinya nama 501Y.V2. Temuan ini kemudian dilaporkan oleh otoritas kesehatan negara itu pada 18 Desember 2020. Kemudian 23 Desember, Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengumumkan, dua warganya yang baru saja kembali dari Afsel positif terinfeksi virus mutan ini, yang di Inggris kemudian diberi nama VUI-202012/01.

Hanya dalam waktu satu minggu, virus varian baru ini menyebar menginvasi Swiss, Finlandia, Jepang, Zambia, Perancis, dan China. Sepuluh hari pertama 2021, varian baru ini memasuki Korea Selatan, Australia, Botswana, Irlandia, Brasil, Kanada, Selandia Baru, Belanda, dan Israel. Semua kasus ini terdeteksi menjangkiti penumpang yang baru datang atau kembali dari Afsel.

Luar biasa kecepatan penyebaran varian baru ini. AS sebagai penderita terparah Covid-19 juga terdeteksi diserang varian baru. Ilmuwan Pusat Medis Wexner dan Fakultas Kedokteran Universitas Ohio menemukan ”strain Colombus”. Varian ini langka karena memiliki tiga mutasi gen bersama yang belum pernah terlihat bersama. Virus mutasi ini ditemukan di Colombus, Ohio, sejak akhir Desember 2019.

Inggris merespons drastis soal mutasi Covid-19 ini. Sejak pertama mendapat laporan ini Desember 2019, PM Inggris langsung bertindak cepat menerapkan lockdown di beberapa kota. Memasuki tahun baru, puluhan negara bertindak cepat menutup lalu lintas dari dan ke Inggris. Dan belajar dari kelambanan respons sebelumnya, Pemerintah Indonesia juga ikut cepat menutup penerbangan dari dan ke Inggris untuk menghindari invasi virus mutan ini.

  

Optimisme menghadapi mutan

Varian baru 501Y.V2 ini cepat sekali menyebar, diberitakan 71 persen lebih menular dibandingkan generasi pendahulunya. Yang masih diperdebatkan: apakah vaksinasi yang baru saja serentak dimulai di banyak negara bisa menjinakkan ancaman virus mutasi baru ini. Tak mudah menjawabnya. Para ahli di negara-negara yang sudah kemasukan virus mutan ini masih menelitinya.

Namun, ada kekhawatiran virus mutan ini bisa mengurangi efektivitas vaksin tertentu, dan pada orang dengan kondisi tertentu. Misal, vaksin X yang disuntikkan pada orang berusia lanjut dan memiliki riwayat penyakit Y, bisa kurang efektif untuk menghadapi virus mutasi dari Afsel ini.

Vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna, misalnya, menggunakan teknologi m-RNA yang intinya memberikan instruksi ke tubuh agar menghasilkan protein paku (berujung runcing) virus korona yang tidak berbahaya. Protein paku virus ini kemudian dikenali dan dipelajari oleh sistem kekebalan tubuh dan menyiapkan senjata penangkalnya.

Jika suatu saat tubuh benar-benar kemasukan virus (ditandai dengan melonjaknya protein virus), sistem tubuh sudah mengenali dan langsung mengoperasikan senjata yang sudah disiapkan untuk menghantam virus itu. Inilah gambaran vaksinasi dengan vaksin yang menggunakan teknologi m-RNA.

Produsen Pfizer-BioNTech meyakini, dengan teknologi m-RNA-nya, vaksin produksinya tetap efektif melawan virus mutasi N501Y-V2 di Inggris yang dinamakan sebagai B117 dan menyebar ke banyak negara.

Namun di sisi lain, mutasi yang melibatkan strain E484K yang didapatkan di Afsel, Jepang, dan Brasil sungguh memprihatinkan karena berpotensi menurunkan efektivitas vaksin. Ahli mikrobiologi Universitas Cambridge, Profesor Ravindra Gupta, berpendapat vaksin Pfizer dan Moderna mungkin menghadapi strain mutan E484K.

Mutan ini memproduksi lonjakan protein virus, yang membuatnya lebih mudah menempel dan mengikat kuat pada reseptor sel manusia, yang berarti lebih mudah menular. Hal tersebut didapatkan dari temuan oleh para peneliti University College, London, mengenai kemampuan khusus E484K yang dipublikasikan pada 28 Oktober 2020.

Peringatan juga datang dari Francois Balloux, pakar biologi sistem komputasi dan direktur Institute Genetika Universitas College London. Mutasi E484K yang ditemukan di Afsel, menurut dia, terbukti memiliki kemampuan khusus, yaitu mengurangi pengenalan antibodi untuk meringkus virus varian ini yang masuk belakangan.

Walaupun disampaikan saat ini tak mungkin vaksin tidak memberikan perlindungan sama sekali terhadap varian Afsel, antibodi yang berasal dari vaksin atau infeksi sebelumnya bisa menurun efektivitasnya. Intinya, efektivitas vaksin jadi menurun.

Dengan mikroskop elektron, Balloux menemukan strain E484K yang mampu lolos dari hadangan antibodi yang dibentuk oleh vaksinasi. Ditemukan juga seorang pasien Covid yang dua kali tertular hanya dalam waktu sebulan. Lazimnya, perlu waktu setidaknya tiga bulan untuk bisa tertular lagi, itu pun oleh virus mutasi baru.

Mutasi E484K ini disebut mampu lolos dari pantauan antibodi, berarti bisa mengelabui memori pertahanan tubuh yang dibentuk oleh vaksin. Balloux melaporkan temuan ini dalam paper di jurnal Medrxiv yang belum di-peer reviewed.

Bagaimana dampak virus mutasi baru pada efektivitas vaksin selain Pfizer dan Moderna? Berdasarkan kajian literatur, belum ada yang secara tegas menyebutkan adanya dampak. Namun berdasar kajian secara umum, mutasi virus jenis E484K punya potensi bisa lolos dari hadangan antibodi yang memantau lonjakan spike (bentuk seperti paku-paku yang menancap di permukaan) pada protein.

Saat ini belum ada penjelasan, vaksin mana yang dapat sepenuhnya menghadang virus mutasi jenis tersebut. Namun ada kekhawatiran, virus mutasi ini menurunkan efektivitas semua jenis vaksin, melawan tujuan membentuk antibodi terhadap virus.

Dalam situasi ini, perlu tetap optimistis. Optimisme dan sikap tawakal berdampak baik bagi sistem tubuh, termasuk imunitas. Selain pengetatan protokol kesehatan, vaksinasi menjadi harapan utama untuk menghambat laju penularan. Pemerintah tak segan menggelontorkan dana puluhan triliun untuk memesan vaksin dari beberapa produsen, dengan harapan akan efektif menahan laju penularan yang makin tak terkendali.

Maka, jauh lebih baik tetap jalankan rencana semula, sembari dengan saksama memonitor pelaksanaannya jika ada gejala penyimpangan. Sebab, sampai hari ini para ahli mengatakan, vaksinasi adalah langkah medis utama untuk membentuk kekebalan komunitas (herd immunity), yang selanjutnya akan menahan laju penularan.

 

Kepercayaan sebagai kunci

Vaksinasi lebih banyak memberi manfaat daripada mudarat. Pada orang yang belum menerima vaksinasi, jika terkena infeksi, tubuhnya berisiko tinggi menderita infeksi paru (pneumonia), sindrom pernapasan akut dan gagal bernapas, infeksi di aliran darah, dan kegagalan fungsi organ lainnya. Pada anak, bisa mengalami peradangan parah.

Perlu diingat, Covid-19 ini masuk dalam rumpun severe acute respiratory syndrome (SARS) yang mengincar sistem pernapasan kita dengan dampak ikutan gangguan pada organ-organ lain, termasuk berikut ini yang juga sangat menakutkan: kelainan pembekuan darah dalam berbagai tingkat di seluruh pembuluh darah tubuh.

Jika mendapat vaksinasi, tubuh akan segera merespons dengan membentuk tentara khusus untuk menghancurkan infiltran itu, sebelum sempat masuk dan merusak fungsi berbagai organ vital. Mungkin ada efek samping pada orang dengan situasi tertentu. Tetapi secara umum, efek sampingnya dalam batas yang masih bisa ditoleransi, misalnya mual, pusing, alergi dalam jangka waktu tertentu, dan sebagainya.

Semua jenis vaksin bisa mempunyai efek samping pada orang-orang tertentu. Efek samping dalam jangka waktu lama belum bisa dilihat, tetapi sementara yang sudah jelas bahwa saat ini kita semua ada dalam bahaya besar dari serangan Covid-19.

Uji klinis vaksin ini sudah selesai tahap ketiganya sehingga bisa mendapatkan izin penggunaan darurat. Kenapa darurat? Karena dikejar waktu untuk menahan kenaikan kasus yang melonjak kian tak terkendali. Jika menunggu penelitian vaksin secara normal, mungkin baru selesai lima tahun lagi dan korban makin banyak.

Ingat, sekarang korban nyawa sudah melampaui angka 2 juta dan pengidap hampir 100 juta orang secara global. Ini adalah situasi darurat, sangat darurat, maka diperlukan penyikapan secara darurat juga.

Sulit dibantah, virusnya sangat pandai, terus bermutasi dan makin menular. Maka, vaksinasi sangat diharapkan bisa cepat membentuk kekebalan kelompok, sebelum virus mutasinya masuk dan merebak di Indonesia. Vaksinasi bisa membuat jaringan benteng sebelum musuh jenis baru benar-benar menyerang.

Persoalan nonmedis yang perlu dibenahi segera adalah problem distrust pada pemerintah, yang juga disebabkan oleh kebijakan, dan perilaku sementara elite pejabatnya. Perasaan kurang dipercaya ini bisa tecermin dari pemerintah yang sedikit-sedikit pakai ancaman pidana (termasuk pada penolak vaksin).

Padahal, ini banyak berawal dari kesalahan jajaran pemerintah sendiri yang sejak awal abai, meremehkan, dan ditambah ada kesan yang menyalahgunakan situasi pandemi untuk mengeruk keuntungan dan kekuasaan pribadi. Makin terasa banyak kasus penegakan aturan yang terkesan pilih kasih.

Vaksinasi penting, tapi jelas bukan panasea. Pilar utama menurunkan penularan adalah pembatasan mobilitas, pelacakan, dan—ini sangat penting—memperbanyak tes. Kenapa tes Covid-19 makin mahal bagi rakyat? Padahal, sudah ada alternatif sangat murah temuan bangsa sendiri dan sudah lolos uji, seperti GeNose UGM yang bisa tes di tempat karena hasilnya keluar sekitar satu menit.

Kenapa tak dimasukkan regulasi, sebagaimana tes antigen dan PCR yang banyak tergantung impor itu? Jelas, kebijakan kurang bijak seperti ini bisa makin memicu distrust, karena bisa dipersepsi kurang transparan, dan kurang adil, serta kurang nasionalistis.

 

Djoko Santoso

Guru Besar Kedokteran Universitas Airlangga dan Penyintas Covid-19