#covid-19


Being Agile Against the Pandemic

Only a day after declaring the COVID-19 outbreak a pandemic (11/3/2020), director general of the World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sent a letter to President Jokowi. The WHO asked that President Jokowi immediately declare a national emergency; build a laboratory of adequate scale; expand case search, tracking, monitoring and careful data collection; and intensify preventive measures, including by encouraging people to wash their hands frequently. However, this is an “exasperated” response on the part of WHO to see Indonesia’s response, which was considered too relaxed. For more than two months, the Health Ministry boasted a zero status of positive COVID-19 cases. However, on Monday (2/3/2020), two weeks ago, the defense was broken. The President announced that two Indonesian citizens had tested positive for COVID-19. There was a Japanese citizen visiting Indonesia, then continuing to Singapore. A careful examination in Singapore confirmed that the Japanese had tested positive for COVID-19. Tracking was later conducted in Indonesia on someone who made contact with the Japanese citizen. The person was found and tested positive for being infected, then the President announced it.

Perlombaan Menciptakan Vaksin

Ikhtiar umat manusia itu dimaksudkan agar kita segera mendapatkan penangkal dari ancaman infeksi ganas korona. Karena hak hidup setiap orang adalah penting. Kita mencermati banyak negara bersicepat membuat vaksin Covid-19 yang kini kian mengganas. Banyak komentar, kritik, dan pujian muncul terkait ikhtiar ini. Media sosial riuh dengan pendapat yang berdasarkan pengetahuan. Namun, banyak juga asal puji atau kritik tanpa mau tahu secara mendalam isu ini. Mari kita coba dengan kepala dingin memahami ”lomba” membuat vaksin demi mengatasi pandemi yang kini setiap hari menginfeksi hampir 300.000 orang ini. Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja mengumumkan, negaranya jadi yang pertama berhasil memproduksi vaksin pada 11 Agustus lalu. Vaksin ini akan segera digunakan untuk vaksinasi massal pada Oktober mendatang. Putin mengatakan, vaksin itu aman dan putrinya sendiri menjadi salah satu sukarelawan uji klinis. Vaksin ini diberi nama Sputnik V, meneruskan nama Sputnik I, satelit Rusia yang pada 1957 jadi wahana luar angkasa pertama di dunia, mengalahkan AS. Rusia mengklaim, sudah ada 20 negara yang memesan lebih dari 1 miliar vaksin Sputnik V.

Peran dan Pendidikan Mahasiswa Kedokteran di Masa Pandemi

PANDEMI covid-19 telah berdampak pada hampir seluruh sektor kehidupan. Sektor pendidikan pun mau tak mau harus menyesuaikan diri. Jadwal tahun ajaran dan penerimaan siswa baru menjadi bergeser. Proses penerimaan mahasiswa baru jadi terganggu. Perkuliahan tatap muka untuk sementara diubah menjadi perkuliahan daring, sembari menunggu redanya pandemi.  Demikian juga yang dialami oleh mahasiswa kedokteran. Saat merebaknya pandemi dan meningkatnya kecemasan, mayoritas perkuliahan diliburkan dan sebagian diubah menjadi kuliah daring. Akan tetapi, seperti halnya perkuliahan di fakultas eksakta lainnya, ada aktivitas perkuliahan yang tidak mungkin diganti menjadi daring seluruhnya, seperti praktikum di laboratorium. Untuk mahasiswa kedokteran, ada bentuk pembelajaran lainnya yang juga sulit diubah menjadi metode daring.  Misalnya proses co as atau internship, ikut dokter senior dalam mengobservasi pasien, menyusun diagnosis, berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya, membuat laporan medis, dan sejumlah tindakan medis lainnya. 

Responding to the Pandemic Modeling

Ratna Megawangi’s article, “Coronavirus and Panic Statistics” (Kompas, 20/6/2020), is interesting to discuss. The article comments on the prediction of the spread of the coronavirus by mathematical modeling, as widely presented by experts.   In particular, Ratna reviewed predictions made by Dr. Neil Ferguson of Imperial College London, an epidemiologist who from the start was keen to suggest that a lockdown be implemented in England. With the mathematical modeling he made, in mid-March Ferguson predicted the death toll due to the coronavirus in the UK would reach 510,000 people if no lockdown was tightly applied. This prediction is what makes many parties panic. According to Ratna, Prime Minister Boris Johnson, who initially believed in the herd immunity scenario, eventually shifted to trusting Ferguson to apply the regional quarantine alias total lockdown. And, the fact was that, as of Wednesday (24/6/2020), Worldometer data recorded the number of positive cases in the UK at 306,210, of whom 42,927 had died. It is very low compared to the 510,000 infections according to Ferguson’s prediction if the lockdown was not implemented.

DPRD Surabaya Apresiasi Kiprah Unair Tangani COVID-19

Surabaya - DPRD Surabaya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Universitas Airlangga (Unair). Sebab selama ini Unair telah berkiprah luar biasa dalam membantu penanganan COVID-19 di Kota Pahlawan.   Empat pimpinan DPRD berkunjung ke Kantor Rektorat Unair, dan berdiskusi dengan Rektor Unair, Prof M Nasih tentang penanganan COVID-19. Keempat pimpinan Dewan itu yakni Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono, Wakil Ketua DPRD Laila Mufidah, AH Thony dan Reni Astuti.   "Unair menjadi salah satu kampus pelopor dalam penanganan COVID-19. Unair membuktikan bahwa kampus ini adalah bagian dari sumber ilmu abadi sebagaimana guci berisi air abadi yang dibawa Garuda Mukti, tunggangan Bhatara Wisnu dalam lambang Unair," ujar Adi Sutarwijono usai bertemu Prof M Nasih, Senin (15/6/2020).   Hadir pula dalam pertemuan itu, Ketua Senat Akademik (SA) Unair Prof Djoko Santoso dan Sekretaris Unair, Koko Srimulyo.