Ginjal Anda Menolak Sakit Covid-19


Tanah air sedang dihebohkan dengan berita sekumpulan masyarakat dari daerah tertentu  berdemo menolak melakukan swab antigen dan ada pula yang beranggapan bahwa COVID sudah berakhir. Opini-opini menyesatkan inilah yang sejak awal menjadi salah satu alasan meledaknya kasus baru COVID-19 di negeri kita. Perlu diketahui saat ini Indonesia sedang memasuki serangan gelombang kedua dengan pertambahan jumlah perharinya yaitu 15.000 kasus  baru dan melampaui gelombang pertama Januari 2021 silam. Di negara lain seperti Hungaria dan Inggris dapat dengan leluasa melakukan pagelaran EURO 2020 yang dihadiri oleh penonton dengan kapasitas 100%. Negara-negara tersebut dapat demikian karena memang telah melakukan vaksinasi pada lebih dari 94% penduduknya, positivity rate mendekati 0%, dan didukung dengan masyarakat yang disiplin menerapkan protokol kesehatan. Namun sekalipun demikian, model tersebut masih tetap sangat riskan. Sedangkan negara Indonesia saat ini sedang berkutat dengan permasalahan gelombang kedua COVID-19. Bila masyarakat tersebut berdemo menolak swab yang dilakukan pemerintah, justru ginjal anda juga menolak sakit COVID.

Seperti kita ketahui COVID-19 tidak hanya menyerang organ saluran pernafasan kita saja, namun juga menyerang ginjal. Virus SARS CoV-2 --penyebab pandemi ini, dapat menyerang ginjal karena organ penyaring darah tersebut memiliki reseptor tempat masuknya virus ke dalam tubuh. Organ ginjal yang dimasuki virus tersebut dapat mengalami kerusakan secara cepat dan berakibat pada kondisi gagal ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI). Beberapa orang dengan AKI mungkin tidak memiliki gejala sama sekali. Namun, orang lain mungkin mengalami gejala seperti penurunan produksi urin, kelelahan, dan pembengkakan di sekitar mata dan pergelangan kaki dan kaki. Gangguan pada ginjal menyebabkan produk limbah menumpuk di dalam darah dan keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh terganggu. Dalam kasus yang parah atau tidak diobati, AKI dapat menyebabkan kegagalan organ, yang dapat menyebabkan kejang, koma, dan bahkan kematian.

Keterlibatan ginjal pada pasien dengan COVID-19 sangat penting karena dapat mengakibatkan konsekuensi jangka pendek dan panjang pada orang dewasa dan anak-anak. Menurut beberapa penelitian, 37% kasus COVID-19 melibatkan ginjal, dan 50% pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit mengalami AKI. Selain itu 81% pasien yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU) karena COVID-19 juga mengalami AKI. Secara garis besar pasien COVID-19 yang mengalami AKI mengalami peningkatan risiko kematian hingga 13 kali lipat. Alasan untuk ini adalah karena AKI melemahkan sistem kekebalan dan menyebabkan ketidakseimbangan cairan, penumpukan limbah dalam darah, dan akhirnya kegagalan organ.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang yang mengalami AKI saat infeksi COVID mengalami penurunan kemampuan ginjal dan kerusakan jangka panjang secara permanen. Oleh karena itu, sembuh dari COVID-19 belum berarti kerusakan yang ditimbulkan juga berakhir. Hal tersebut juga disebabkan karena sekitar 47% orang dengan COVID-19 dan AKI memiliki permasalahan ginjal yang belum terselesaikan ketika rumah sakit memulangkan mereka. Studi lain mencatat bahwa orang yang pernah mengalami AKI dan COVID-19 seringkali membutuhkan dukungan ginjal terus-menerus setelah keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu populasi dengan gangguan ginjal harus diprioritaskan oleh pihak berwenang untuk vaksinasi. 

Dengan mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh COVID-19 terhadap ginjal anda, alangkah baiknya mencegah daripada mengobati. Patuhilah protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, jauhi kerumunan, dan lakukan swab sesuai kebijakan pemerintah. Ikutilah juga program vaksinasi dengan mendaftarkan diri anda. Cegahlah penularan virus karena ginjal anda menolak sakit COVID.

 

Sumber gambar: https://lifestyle.bisnis.com/read/20201024/220/1309416/ini-yang-perlu-diketahui-tentang-penyakit-ginjal-di-tengah-pandemi

 

Source:
Keywords:



Comments