Mengenal Malnutrisi pada Gagal Ginjal Kronis


Pasien dengan penyakit ginjal kronis itu sering mengalami malnutrisi (sekitar 20-50% dari berbagai derajat penyakit ginjal kronis), suatu kondisi yang mengarah pada pengertian kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi, buruknya penyerapan oleh usus (absorbsi) atau kehilangan besar nutrisi/gizi. Jadi disini tidak mengikutkan malnutrisi  yang mengarah pada kelebihan gizi (overnutrition). Kondisi demikian tidak sekadar hanya terkait gangguan asupan makanan saja, namun lebih dari itu. Penyebabnya begitu kompleks, namun yang jelas diawali dari adanya gangguan fungsi ginjal atau penyebab penyakit dasar dari rusaknya ginjal seperti aktifnya penyakit kencing manis, penyakit kronis lainya termasuk penyakit auto-imun bahkan kombinasi dari keduanya. Dari sinilah tubuh akan mengalami ganggguan yang bersifat sistemik yang artinya efek ini terjadi di seluruh tubuh. 

Perlu diketahui bahwa ginjal sebagai organ yang sangat penting. Peran penting ini bisa di lihat dari fungsi utamanya yang cukup beragam, di antaranya: sebagai penyaring dan pengeluaran racun sampah metabolisme tubuh, sebagai pengatur hormon pembentuk darah (eritroproetin), organ penyerap vitamin D, pengontrol tekanan darah (angiotensin aldosetron), pengatur elektrolit mineral tulang, pengatur air dan garam (sodium), dan pengatur asam basa.Maka ketika ginjal rusak secara kronis, masing-masing fungsi tersebut akan memunculkan gangguan yang tersendiri ataupun saling terkait. Sebagai contoh gangguan eritropoeitin akan memunculkan anemia yang berefek penurunan nafsu makan, alat indera rasa pengecap di lidah berubah (mungkin makanan terasa hambar), dinding lambung menipis hingga gampang rasa penuh dan lainnya. Contoh berikutnya, racun yang tidak bisa dikeluarkan oleh ginjal akan terakumulasi hingga mempengaruhi salah satunya saluran pencernaan yang berujung kepada gangguan asupan makanan. Inilah contoh yang disebut saling kait-mengait. Sehingga singkat katanya, bahwa ujungnya semua hal tersebut akan menyebabkan terganggunya mesin metabolisme tubuh dengan dampak yang lebih buruk, seperti kekakuan pembuluh darah, munculnya inflamasi kronis lengkap dengan komplikasi penyertanya atau penyulit lainnya. 

Selain hal tersebut di atas, perubahan nafsu makan juga diperberat dengan adanya perubahan hormon orexigenic (peningkat nafsu makan) dan anoreksigenik (penghambat nafsu makan), hingga kedua pihak tersebut terjadi ketidakseimbangan yang akhirnya nafsu makan menurun. Jadi penurunan nafsu makan, tidak hanya cukup diterangkan dari sistem pencernaan yang mulai dari lidah dan area mulut saja, namun juga gangguannya ada di lambung (kantong makanan) hingga sepanjang usus termasuk perubahan enzim yang dominan, enzim katabolik (enzim dengan kondisi kontraproduktif terhadap kondisi normal). Demikianlah penjelasan tentang bagaimana penyakit ginjal kronis memberikan kondisi malnutrisi yang meliputi gangguan organ, gangguan enzim, gangguan metabolik. Dengan demikian menjadi jelas mengapa terjadi malnutrisi. 

Meski penjelasan di atas demikian, hal ini masih diperberat oleh efek obat yang dikonsumsi untuk pengobatan penyakitnya sendiri. Hal ini tidak bisa dihindari oleh karena obat-obat yang dimaksud diperuntukan untuk mengerem perjalanan progresifitas penyakit ginjal kronis hingga sisa ginjal yang normal bisa dipertahankan. Itulah dilema yang harus dihadapi oleh penderita gagal ginjal kronis antara dampak berbagai macam obat dan keinginan untuk mengerem progresifitas penyakit tersebut. Dengan demikian harus piawi mengelolanya agar bisa mendapat keuntungan dari pengobatan sekaligus terhindar dari penurunan asupan nutrisi yang menjadikan malnutrisi berat. 

Dengan gambaran bahwa bagimana gangguan ginjal telah membuat tubuh telah mengalami suatu kondisi "ketidakseimbangan antara kebutuhan nutrisi dan asupan yang berujung terjadinya defisit akumulatif baik elemen energi, protein atau mikronutrien, maka hal ini harus disadari lebih awal. Mengapa demikian? Pada kondisi tersebut terdapat puncak pemborosan energi protein saat istirahat, tingginya  katabolisme protein, turunnya anabolisme dan besarnya defisiensi mikronutrien. Untuk itu perlu pengelolaan klinik yang komprehensif khususnya bagaimana mengembalikan ke kondisi menuju normal dari defisiensi dan kekurangan gizi.

Untuk lebih lanjut diketahui, bahwa malnutrisi pada penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan faktor risiko utama untuk angka kesakitan dan kematian. Dampaknya ini sangat jelas yaitu terjadi malnutrisi yang berjalan terus, terjadi inflamasi, terjadi arteriosclerosis. Kondisi inilah yang mendorong pasien PGK berpeluang tinggi akan resiko penyakit kardiovaskuler, infeksi, kematian. Sedang jika PGK terjadi pada kelompok anak maka akan berhubungan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Terkait dengan proses tindakan dialisis sendiri, hal tersebut juga memperparah terjadinya malnutrisi mengingat proses tersebut juga meningkatkan pemakaian energi dalam satus istirahat/tidak beraktivitas (diistilahkan resting energy expenditure). Disebutkan dalam literatur sekitar 12 sampai 20% akan kehilangan energi protein selama dialisis. Ini artinya ada peningkatan kebutuhan protein dan asupan energi pada pasien dialisis terkait pengelolaannya hingga tidak terjadi penyusutan otot dan memutus lingkaran setan dari proses malnutrisi. 

Mengingat demikian kompleksnya kerja ginjal di dalam tubuh kita, demikian kompleksnya ketika ada kerusakan ginjal kronis maka cara yang terbaik adalah kembali prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati. Selagi masih bisa dicegah, marilah merawat ginjal kita dengan minum air yang cukup, kontrol gula darah, kontrol tekanan darah, serta hindari obat-obatan anti nyeri atau jamu-jamuan tanpa indikasi dokter dan menjaga terus kebugaran kita agar tetap prima sekalipun ada di era pandemi.

Djoko Santoso
Guru Besar FK Universitas Airlangga

Sumber gambar: https://b11nk.wordpress.com/2010/01/26/parameter-status-nutrisi-pada-pasien-hemodialisis-2/



Comments