Minuman Bersoda dan Kesehatan Ginjal


Soda atau minuman berkarbonasi adalah air yang dimasukkan gas karbondioksida di dalamnya untuk memberikan sensasi gas yang meletup-letup di mulut. Seringkali soda menjadi pilihan utama dalam berbagai suasana, misalnya pada saat acara, cuaca panas, atau sekedar melegakan dahaga. Bahkan dikatakan sangatlah aneh untuk orang amerika atau eropa jika tidak memiliki soda di lemari es mereka. Kadar minum orang barat pun tidak tanggung-tanggung, mereka biasa meminum botol 2 liter soda sendiri per harinya. Namun sesungguhnya sebagian dari kita tidak mengetahui soda bagaikan pedang bermata dua yang pemakaian jangka panjangnya bisa bersifat kontraproduktif bagi kesehatan ginjal. Khususnya bagi orang yang memiliki riwayat sakit ginjal sebelumnya, soda bisa memperburuk organ tercintanya tersebut.

Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, hanya dengan mengonsumsi 2 gelas atau lebih minuman bersoda setiap harinya dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis di masa mendatang. Uniknya risiko ini tidak ditemukan pada minuman kemasan tidak bersoda lainnya. Walaupun minuman berkemasan non soda terkenal akan pemanis dan pewarna buatan yang dianggap tidak sehat, nyatanya mereka tidak meningkatkan risiko gagal ginjal kronis. Hal ini disebabkan karena minuman tidak bersoda menggunakan asam sitrat sebagai pengatur keasaman, sedangkan minuman bersoda lebih banyak menggunakan asam fosfat. Asam fosfat sesungguhnya mempunyai efek buruk terhadap kesehatan ginjal, namun mengapa minuman bersoda masih menggunakannya?

Asam fosfat sengaja ditambahkan ke soda untuk memberikan rasa yang lebih tajam. Tujuan lainnya adalah karena zat tersebut juga memperlambat pertumbuhan jamur dan bakteri yang akan berkembang biak dengan cepat dalam larutan manis. Alasan utama untuk menggunakan asam fosfat daripada asam sitrat karena asam fosfat merupakan buffer (pengatur keasaman) yang jauh lebih kuat dan tidak menimbulkan efek rasa yang unik. Perlu diketahui buffer lain seperti asam sitrat, asam malat, dan asam tartrat dalam kadar tertentu akan memberikan rasa tambahan yang tidak diharapkan oleh pihak produsen minuman bersoda. Karena efek buffer asam fosfat sangat kuat relatif terhadap asam lain, maka hanya digunakan dalam konsentrasi yang sangat rendah dan tidak mempengaruhi profil rasa secara keseluruhan. Sayangnya Asam fosfat yang terkandung dalam minuman bersoda  juga bisa mempengaruhi kesehatan tulang. Hal tersebut karena dapat meningkatkan risiko tulang menjadi keropos dan osteoporosis. Asam fosfat yang terkandung dalam minuman bersoda juga meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal. 

Beberapa penelitian menunjukkan adanya relasi natrium fosfat atau asam fosfat terhadap kejadian gagal ginjal yang bersifat ireversibel. Terlalu banyak fosfor dapat menimbulkan pengapuran atau mikrokalsifikasi pada tubulus ginjal. Kalsium fosfat dapat mengalami deposit pada tubulus distalis ginjal sehingga terjadi batu ginjal. Batu tersebut dapat menyumbat aliran urin yang selanjutnya menekan fungsi ginjal hingga kerusakan jangka panjang. Orang yang sering mengonsumsi minuman bersoda juga terbukti seringkali mengalami kejadian batu ginjal berulang walaupun sudah diterapi.

Tidak hanya itu, disamping asam fostat, minuman bersoda juga mengandung gula yang tinggi, sehingga bila dikonsumsi jangka panjang dapat menyebabkan diabetes mellitus tipe 2. Diabetes mellitus tipe 2 adalah suatu kondisi terjadinya insufisiensi insulin. Insufisiensi insulin menyebabkan gula tidak dapat disimpan dalam hati, melainkan tetap tinggi dalam darah. Gula darah yang tinggi secara berkepanjangan menyebabkan munculnya radikal bebas, yang akan juga merusak ginjal. Diabetes mellitus merupakan penyebab tersering kerusakan ginjal hingga harus menjalani cuci darah.

Dalam hal minuman bersoda yang juga mengandung natrium bikarbonat, terdapat konsekuensi kontraproduktif jika konsumsinya berlebihan. Seperti halnya artikel sebelumnya mengenai garam, komponen natrium didalam natrium bikarbonat berperan terhadap peningkatan tekanan darah (hipertensi). Kondisi hipertensi yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Perlu diketahui bahwa hipertensi bersama dengan diabetes merupakan penyebab utama dari kerusakan ginjal. Dalam dua hal terakhir ini, minuman bersoda dapat meningkatkan risiko keduanya yang diketahui sebagai penyebab terbesar penyakit ginjal kronis.

Nah, bagaimana sekarang setelah mengetahui dampak mengonsumsi minuman bersoda jangka panjang yang tidak terkontrol dengan baik. Segala yang berlebihan pastilah tidak baik. Tidak hanya soda, gula atau kalori yang menjadi kebutuhan utama manusia jika berlebihan dan tidak ditakar akan membawa ke kondisi seperti diabetes mellitus. Boleh kita menggunakan soda sebagai pilihan gaya hidup, tetapi jangan lupa untuk mengimbangi dengan air murni. Lebih baik mengambil keputusan yang bijaksana untuk membatasi asupan minuman bersoda. Prinsipnya adalah “Nikmati, Imbangi, dan Batasi”. Memang meminum soda memberikan rasa melegakan apalagi setelah berolahraga, namun jumlah konsumsinya perlu dikontrol.[]

Prof. Djoko Santoso

Sumber gambar: https://www.tribunnews.com/lifestyle/2019/09/19/5-cara-sederhana-untuk-jaga-kesehatan-hati-ginjal-dan-kandung-kemih-kurangi-soda-ganti-minum-teh



Comments