Optimisme Menyambut Vaksin


Keberhasilan vaksinasi akan memompakan semangat dan optimisme kita. Sebelum vaksin disuntikkan, perlu dirapikan komunikasi pemerintah. Jelaskan sejujurnya tentang manfaat dan risikonya.

 

Tamu negara penting pun tak disambut pemberitaan seperti ini. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan secara langsung kedatangan pesawat Garuda di Bandara Soekarno-Hatta yang membawa 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 produk Sinovac, 6 Desember 2020. Video pesawat menurunkan kotak besar vaksin dari perut pesawat jadi viral di mana-mana.

Kedatangan vaksin ini benar-benar diistimewakan pemerintah. Vaksin diharapkan bisa mengatasi lonjakan penularan yang sampai hari ini belum juga menurun, bahkan cenderung naik tajam. Sampai minggu kedua Desember, pertambahan angka positif rata-rata di atas 5.000 kasus per hari, dengan pertambahan kematian sekitar 150 per hari.

Korban dokter dan tenaga medis yang meninggal sudah melebihi 300 orang. Situasi tidak kunjung membaik, penegakan protokol kesehatan melemah. Kebanyakan aktivitas berkerumun yang tidak ditindak dan ada peristiwa pelanggaran protokol kesehatan yang berkembang jadi kegaduhan politik sehingga situasinya malah jadi kusut.

Dalam situasi ini, kedatangan vaksin menjadi semacam oase yang menjanjikan kesegaran di tengah padang pandemi. Tentu dengan catatan, jika vaksin ini sudah mengantongi izin otorisasi penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari Badan POM.

Yang datang beberapa waktu lalu itu vaksin produk Sinovac, China. Menteri Kesehatan telah memutuskan menggunakan enam calon vaksin Covid-19 untuk program vaksinasi massal, yaitu produk Bio Farma, Moderna, Astra-Zeneca, Pfizer-BioNTech, dan Sinovac-Biotech.

Dalam peta perlombaan vaksin, produk Sinovac ini bukan yang paling difavoritkan. Produk ini diuji klinis di Brasil, India, Turki, Bangladesh, dan Indonesia. Di Indonesia, vaksin ini belum tuntas laporan interim uji klinis tahap ketiganya, yang dijadwalkan baru selesai Januari 2021.

Minggu lalu, Kepala Komunikasi Bio Farma terceplos menyatakan, efikasi vaksin Sinovac mencapai 97 persen. Pernyataan ini bisa menyesatkan publik. Sebagaimana diketahui, efikasi tertinggi vaksin saat ini dipegang oleh vaksin Pfizer dengan 95 persen.

Setelah menuai kritik, baru dijelaskan oleh jubir Sinovac, yang dimaksud bukan efikasi, melainkan serokonversi (perkembangan antibodi yang dapat dideteksi pada mikroorganisme dalam serum). Menurut WHO, efikasi vaksin merupakan kemampuan vaksin untuk melindungi dari penyakit dalam uji klinis terkontrol. Persentase efikasi vaksin ini didapatkan dalam tahap uji klinis fase II. Ini tahap yang menentukan efektivitas dan efek samping vaksin yang diuji.

Vaksin produk Sinovac-Biotech yang diuji klinis tahap ketiga di Brasil menunjukkan hasil kurang menggembirakan. Awal November, Pemerintah Brasil menghentikan proses uji klinis ketiga setelah ada insiden serius yang melibatkan seorang sukarelawan.

Badan Survei Kesehatan Nasional Brasil (ANVISA) tak merinci apa yang terjadi, tapi ada pemberitaan yang mengindikasikan insiden itu dapat menyebabkan efek samping yang berpotensi fatal, cacat parah, dan hal lain yang signifikan secara klinis.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro sempat menyatakan pemerintahnya tak akan membeli vaksin buatan Sinovac ini. Namun, ada laporan susulan yang menyebut, setelah ditelusuri, insiden ini bukan karena vaksin, melainkan karena sukarelawan itu ternyata masuk kelompok yang disuntik placebo alias kosong, tidak ada vaksinnya. Ini melegakan.

Dalam peta lomba vaksin dunia, yang menempuh finis pertama adalah vaksin BNT162B2 berbasis m-RNA produksi Pfizer-BioNTech, yang baru saja mendapatkan persetujuan penggunaan darurat dari otoritas kesehatan Inggris dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Pfizer bermarkas di New York, berdiri 1849, dan BioNTech adalah perusahaan biotek Jerman yang didirikan tahun 2008 oleh pasangan ilmuwan Ughur Sahin dan Ozlem Tureci.

Cepatnya pemberian persetujuan ini karena laporan uji klinis tahap ketiganya yang diumumkan 18 November lalu menyimpulkan, vaksin ini memiliki efikasi 95 persen pada sukarelawan yang belum dan sudah pernah terinfeksi SARS- CoV-2 sebelumnya.

Inggris bahkan belum memberikan persetujuan pada vaksin dalam negerinya, produksi Astra-Zeneca yang bekerja sama dengan Oxford. Dengan cepat, Bahrain, Kanada, Arab Saudi, dan Meksiko menyusul menyetujui izin untuk vaksin Pfizer-BioNTech.

Pfizer-BioNTech memenangi lomba cepat bikin vaksin Covid-19, tetapi vaksin ini lebih merepotkan. Di luar soal efikasi, keamanan, dan kemampuan menumbuhkan imunitas, pengamat mengkritisi vaksin Pfizer-BioNTech yang harus disimpan dalam ruang berpendingin minus 70 derajat celsius.

Ini akan merepotkan dalam proses distribusi dan penyimpanannya, terutama untuk negara-negara berkembang yang belum memiliki fasilitas berpendingin sampai minus 80 derajat celsius. Vaksin Astra-Zeneca lebih fleksibel, dapat diangkut dan disimpan dalam ruang berpendingin normal minus 2-8 derajat celsius, dan stabil sampai enam bulan. Vaksin m-RNA 1273 Moderna perlu ruang berpendingin minus 20 derajat celsius, dan stabil sampai enam bulan.

Menjawab kritik ini, pihak Pfizer membuat rantai pasokannya sendiri dan berencana mendistribusikan produk langsung ke lokasi vaksinasi, menggunakan kotak pendingin yang dibuat sendiri, dan tanpa menggunakan importir atau agen.

Dengan cara ini, Pfizer mengklaim vaksinnya bisa stabil selama sepuluh hari, dan setelah dikeluarkan dari wadahnya, dapat bertahan satu hari pada suhu 2-8 derajat C. Dengan gambaran ini, untuk Indonesia, tampaknya vaksin Pfizer-BioNTech lebih merepotkan dibandingkan kompetitornya.

Soal harga, sejauh ini yang paling murah vaksin buatan Astra-Zeneca. Dilansir kompas.com (7/12), vaksin yang diproduksi di Inggris bekerja sama dengan Oxford ini harganya sekitar Rp 57.000 per dosis. Vaksin ini masih dalam proses pengajuan untuk dapat izin edar dari otoritas kesehatan Inggris. Vaksin Sinovac yang sudah masuk Indonesia sekitar Rp 200.000 (13,6 dollar AS), lebih murah dari yang dijual di China sendiri, sekitar Rp 421.000 (29,7 dollar AS).

Vaksin Johnson & Johnson sekitar Rp 141.000 (10 dollar AS), Novavax sekitar Rp 226.000 (16 dollar AS), Pfizer-BioNTech sekitar Rp 283.000 (20 dollar AS), dan yang paling mahal produksi Moderna, Rp 350.000-Rp 526.000 (25-37 dollar AS) per dosis.

 

Metode mRNA dan DNA

Vaksin BNT162b2 Pfizer-BioNTech dan mRNA-1273 Moderna perlu disimpan pada suhu yang lebih dingin karena keduanya didasarkan pada teknologi mRNA (messenger ribonucleid acid/asam ribonukleat). DNA (deoxyribonucleic acid/asam deoksiribonukleat) menyimpan kumpulan instruksi genetis yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan setiap sel hidup, termasuk virus.

Nah, m-RNA ini menggunakan membran lemak untuk mengirim instruksi yang tersimpan di intinya, dalam hal ini instruksi untuk melonjakkan produksi protein pada spikevirus SARS-CoV-2 pada sel tubuh manusia (duplikat SARS-CoV-2, hanya kakinya saja yang muncul di sel manusia).

Ini adalah cara melatih sistem imun tubuh. Begitu melihat ”penampakan” kaki SARS-CoV-2, sel imun manusia langsung terpancing dan bereaksi cepat mengirimkan tentaranya untuk memberangus sel itu serta mengingat-ingat kaki tersebut. Padahal, yang dilawannya itu hanyalah penampakan ”kaki” virus, bukan virus sebenarnya.

Karena sudah terlatih, jika suatu saat terinfeksi virus asli, sistem imun tubuh sudah tahu tugasnya: langsung memberangus. Inilah gambaran sederhana mekanisme kerja vaksin yang dibuat berdasarkan metode mRNA.

Sementara Astra-Zeneca menggunakan metode klasik DNA, yaitu menggunakan adenovirus (virus DNA) yang telah dilemahkan dan bisa disisipi materi genetik lain. Astra-Zeneca menggunakan virus flu biasa yang telah diubah susunan genetiknya, agar tak bisa hidup aktif di tubuh manusia.

Virus nonaktif ini lantas disisipi materi genetik patogen (penyebab penyakit), yaitu spike protein, dan kemudian dimasukkan ke inti sel orang yang divaksinasi. Setelah diinfeksi, akan menghasilkan lonjakan spike protein, yang akan dideteksi oleh sistem peringatan dini sebagai serangan. Maka tubuh akan meresponsnya dengan memproduksi antibodi atau kekebalan.

Jadi, perbedaannya, vaksin m-RNA menggunakan membran lemak untuk mengirim instruksi menghasilkan spike protein, sedangkan vaksin DNA menggunakan adenovirus untuk diinfeksikan ke sel. Tiap-tiap metode ini memiliki kelemahan.

Vaksin DNA dapat berintegrasi/menyatu dengan DNA sel manusia yang berpotensi bisa mengacaukan gen manusia/mutasi. Walaupun belum teramati efek nyata jangka panjang dari integrasi tersebut, hal itu bukanlah hal yang baik bagi tubuh manusia.

Selain itu, adenovirus adalah virus yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan kemungkinan besar pernah menginfeksi tubuh seseorang yang akan divaksin. Ini memungkinkan vaksin adenovirus tersebut dihancurkan tubuh manusia sebelum masuk ke sel manusia dan menimbulkan kekebalan tubuh. Di sisi lain, vaksin m-RNA dapat berpotensi memicu peradangan yang tidak dialami pada vaksin DNA.

Ada sedikit catatan. Vaksin Sinovac diuji klinis di Indonesia pada warga berusia 18-59 tahun. Artinya, untuk warga 60 tahun ke atas belum bisa diketahui bagaimana efikasi, keamanan, dan efek kekebalannya. Sebaliknya, vaksin Pfizer-BioNTech sudah digunakan untuk vaksinasi perdana di Inggris, 8 Desember lalu, dan penerimanya adalah Margaret Keenan, perempuan 90 tahun. Artinya, warga berusia 60 tahun ke atas yang belum yakin dengan vaksin Sinovac bisa menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech.

 

 

Uang besar vaksin

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah akan menyediakan vaksin bagi 182 juta orang, bertambah dari target semula 107 juta (67 persen dari jumlah penduduk 18-59 tahun). Melihat rentang umur 18-59, berarti ini merujuk ke vaksin Sinovac.

Jika merujuk ke keterangan Bio Farma bahwa harga vaksin Sinovac sekitar Rp 200.000, dan tiap orang perlu dua kali divaksin, maka akan ada perputaran uang minimal Rp 72 triliun. Kalau itu dibeli pemerintah untuk suntik gratis vaksin, berarti uang dari APBN. Tentu vaksinnya tidak hanya Sinovac sehingga angkanya bisa lebih besar. Ini bisnis raksasa. Importir vaksin bisa mendapatkan keuntungan jumbo dari penjualan vaksin ini.

Di balik uang besar bisa tersimpan bahaya. Kita baru saja dapat pelajaran, dalam kekalutan pandemi masih ada tangan yang tega berbuat korupsi. Menteri Sosial dan anak buahnya ditangkap KPK dengan dugaan penyalahgunaan dana bansos yang dibagikan kepada warga terdampak pandemi. Kita berharap rencana vaksinasi ini bisa berjalan dengan baik, tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan dan keuangan.

Vaksinasi merupakan harapan yang didasarkan pada kaidah ilmiah. Dari sejumlah calon vaksin, prioritaskan pada vaksin yang paling memenuhi kriteria untuk kondisi Indonesia. Keputusan pemerintah bekerja sama dengan lima calon vaksin paling potensial sudah tepat. Artinya, tak menggantungkan rencana vaksinasi hanya pada satu produk vaksin.

Sepanjang efikasi, keamanan, dan kemampuan memunculkan imun memenuhi batasan standar medis, dan harganya terjangkau, vaksinasi bisa menjadi tumpuan untuk menahan laju pandemi sehingga kurvanya bisa melandai hingga kemudian menurun.

Perlu diingat, kurva jumlah positif terjangkit Covid-19 berbanding terbalik dengan kurva pertumbuhan ekonomi. Jika kurva angka positifnya makin melandai dan menurun, risiko penularan makin kecil sehingga Kemenkes dan Satgas Covid-19 bisa melonggarkan kembali aktivitas ekonomi dan sosial. Dengan demikian, kurva pertumbuhan ekonomi akan berangsur naik.

Keberhasilan vaksinasi akan memompa semangat dan optimisme kita. Sebelum vaksin disuntikkan, perlu dirapikan komunikasi pemerintah. Jelaskan sejujurnya tentang manfaat dan risikonya. Kalau dinyatakan aman, beri teladan para pembesar divaksin lebih dulu. Tindakan lebih dari kata-kata seindah apa pun untuk meyakinkan rakyat.

 

(Djoko Santoso Guru Besar Ilmu Kedokteran Unair)