Suara dari Orang yang Menjalani Dialisis Berkelanjutan


Rumah Ginjal - Tahukah Anda bahwa saat ini penyakit ginjal  sudah sangat mempengaruhi hampir 30 juta orang di Amerika Serikat. Menurut The National Kidney Foundation bahwa penyakit ginjal kronis ini sering disebabkan oleh diabetes, hipertensi kronis utamanya dan sisanya oleh faktor genetik atau penyakit langka yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Fakta di lapangan bahwa tentu banyak cerita dari dampak penyakit ini terhadap kehidupan sesorang yang terkena Penyakit ginjal kronis.  Seperti apakah apakah cerita dari seseorang yang menderita penyakit ginjal? Bagaimana mengelola kondisi dengan penyakit ginjal kronis?

Suatu cerita bahwa sebelum ginjalnya tidak berfungsi terlebih dahulu  dia menderita penyakit ginjal polikistik (suatu rongga dari jaringan ginjalnya yang berisi cairan di mana statusnya aktif dan tumbuh kembang sebagaimana jaringan ginjal itu sendiri). Ginjal Polkistik ini suatu kondisi genetik (bawaan lahir) yang pada perjalanannya menyebabkan pembesaran ginjalnya dan berakhir gagal ginjal. Fungsi ginjal yang terus menurun inilah, yang suka tidak suka dibutuhkan cuci darah (dialisis). Ketika dokternya bersikeras saat itu, untuk menganjurkan agar dialisis dimulai, saat itu juga pasien sangat ragu-ragu untuk mengikuti arahan dokter. Tidak berselang waktu, pihak dokter ginjal lain juga mengatakan hal yang sama. Namun, karena saat itu tubuhnya masih kuat bertahan, pasien belum sepakat, untuk tetap tidak cuci darah. Bahkan sempat mendapati dirinya untuk membayangkan memiliki ginjal yang sehat kembali dan tidak membutuhkan dialisis. 

Wajar ada kekhawatiran tentang hal-hal jelek bahkan selalu terbayang dalam benak pikirannya. Singkat cerita, bagaimanapun, ia akhirnya menyerah untuk menerima tindakan cuci darah 3x seminggu untuk seluruh sisa hidupnya. 

Dari cerita lain, ada yang mengalami gagal ginjal sudah tiga tahun lamanya. Ginjalnya rusak akibat tekanan darah tinggi dan komplikasi dari diabetes. Ia harus menjalani tiga kali seminggu untuk sesi dialisis yang empat jam itu. Saat itu dia belum bisa menyesuaikan kondisinya dan bahkan merasa lelah dan lelah selama sisa hidupnya. Namun perjalanan waktu, Ia  akhirnya berhasil beradaptasi bahkan ia lebih bisa menikmati persahabatan di antara sesama pasien selama menjalani sesi dialisis. Sekalipun oleh ahli ginjal disarankan untuk mencoba dialisis peritoneal, yang itu dapat dilakukan di rumah sehingga ia tidak harus sering pergi ke pusat dialisis. Namun ia menolak, mengingat risiko infeksi yang lebih tinggi dari bentuk dialisis ini. Ia sempat mengalami krisis identitas dan bahkan tidak percaya pada dirinya sendiri. Namun perjalanan waktu telah mengantarkannya hingga ia menjadi sangat terlibat diberbagai aktivitas sosial di pusat dialisisnya. Salah satunya, dia sering menasihati pasien baru bahwa dengan dialisis akan lebih sering memungkinkan untuk memiliki banyak energi dan berpeluang merasa lebih baik.[]
Salam sehat ginjal dari rumahginjal.id.

Sumber gambar: HelloSehat