Perlukah Vitamin D pada Gagal Ginjal Kronis?


Pada era pandemi COVID-19, salah satu vitamin yang marak digunakan oleh masyarakat adalah vitamin D. Sumber vitamin D didapatkan dari dua hal, yaitu paparan sinar ultraviolet B dan makanan/suplementasi. Vitamin D menunjukkan efek benefisial pada kesehatan jantung dan pembuluh darah, tulang, gigi, membantu mempertahankan sistem imun, serta memiliki efek yang positif pada ginjal. 

Ginjal memiliki peranan penting untuk sintesis vitamin D dalam tubuh manusia. Ginjal mengubah vitamin D menjadi bentuk vitamin D aktif sehingga dapat digunakan dalam tubuh. Pada penderita gagal ginjal kronis, ginjal tidak dapat mengubah vitamin D menjadi aktif, sehingga tubuh menjadi kekurangan vitamin D. Oleh sebab inilah tidak jarang kita mendapati orang dengan gagal ginjal kronis juga menderita defisiensi vitamin D. 

Menurut American Journal of Kidney Diseases, kadar vitamin D dapat menjadi prediksi awal penyakit ginjal. Peneliti beranggapan bahwa seseorang dengan defisiensi vitamin D lebih dari dua kali berisiko terjadi albuminuria (protein dalam urine) dalam 5 tahun. Albuminuria adalah indikasi awal terjadinya kerusakan ginjal.

Seseorang dikatakan kekurangan vitamin D bila kadar vitamin D total kurang dari 20 ng/mL. Salah satu dampak kekurangan vitamin D dapat menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan fosfat, sehingga dapat mempengaruhi mineralisasi tulang. Penurunan kepadatan tulang pada gagal ginjal kronis disebut sebagai osteodistrofi ginjal. Hal ini dicirikan dengan tulang semakin mudah rapuh dan patah. 

Untuk mengetahui kadar vitamin D dapat dilakukan pemeriksaan darah. Bila terbukti memiliki defisiensi vitamin D, maka pemberian suplemen disarankan. Akan lebih baik bila mengonsumsi vitamin D dengan anjuran dokter, sehingga vitamin D didapatkan dalam jumlah yang adekuat bagi tubuh.[]

Sumber gambar: https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/16/06/21/o93urm328-kekurangan-vitamin-d-picu-penyakit-ginjal-kronis-anak



Comments