#covid-19


Terobosan dari Pemetaan Mutasi Covid-19

SUPERVIRUS covid-19 makin jelas sosoknya. Menristek-Dikti Bambang Brodjonegoro mengumumkan tipe virus korona penyebab wabah covid-19 yang beredar di Indonesia ternyata berbeda dengan tiga tipe lainnya yang beredar di dunia. Kesimpulan itu merupakan hasil analisis Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), lembaga kerja sama pemerintah Jerman dengan LSM untuk mempelajari data genetika virus. GISAID menganalisis tiga urutan genom yang dikirim dari Indonesia oleh Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman. Menristek menjelaskan hal itu dalam rapat kerja gabungan Komisi VI,VII dan IX DPR secara virtual, Selasa (5/5) lalu. Untuk pemahaman awam, genom (genome) adalah keseluruhan informasi genetik (berupa asam nukleat) yang dimiliki satu sel atau organisme. Inilah pertama kalinya total urutan genom SARS-Cov-2 dari isolat di Indonesia yang panjangnya 29 ribu basa didaftarkan ke GISAID.

Tetap Semangat Menghadapi Pandemi Covid 19

Rumah Ginjal - Sudah bulan ke-4 pandemi belum kunjung usai juga, sementara belum ada berita munculnya obat spesifik dan vaksinnya. Ini dialami oleh hampir semua negara di dunia dengan berbagai level pertumbuhan kasus baru. Untuk indonesia, menurut Sumber Newyork Times masih dimasukan dalam kategori negara dengan jumlah kasus tertinggi, dengan background kurangnya pengujian yang meluas. Artinya, bahwa sangat mungkin kasus-kasus nya masih banyak yang tidak tercatat (data yang resmi masih belum memasukan kasus yang sebenarnya positif covid, namun tidak sempat dilakukan uji pemeriksaan covid). Namun, Indonesia tidak sendirian, masih banyak yang lainnya di antaranya Amerika, Inggris, Kanada, Rumania, dan Iran. Maka untuk itu, mari kita terus saling menyemangati dalam menghadapi pandemi ini agar bisa kita terhindar dari ancaman virus covid ini. Jangan menyerah karena ini perjuangan hidup bersama melawan musuh virus covid yang tidak terlihat. Dan tetap jangan panik karena hidup harus senantiasa berjalan sesuai kaidah-kaidah alam. Atas berkat rahmat Allah dan didorong keinginan luhur melalui kebersamaan berjuang bahu-membahu maka kita yakin akan menang, Amien 3x. 

Bagaimana Penerima Cangkok Ginjal Menghadapi Pandemi Covid-19?

Rumah Ginjal - Dikala pandemik covid-19 ini semua umat manusia di dunia pada waspada termasuk Saudara-saudara kita penerima cangkok ginjal. Namun ketika kita sudah menjalankan kehidupan dengan penuh kehati-hatian tanpa lupa sang Pencipta alam semesta, tidak ada kata pantang menyerah dalam menghadapi pandemi. Khususnya Saudara kita penerima cangkok ginjal, tetap semangat dan semangat menjalani kehidupan ini apapun bentuknya. Terkait covid-19, Saudara kita yang di seberang jauh di sana, melalui dokter pribadinya bersedia untuk dievaluasi dan selanjutnya dianalisa dalam satu program penelitian ketika dirawat. Hasilnya dilaporkan dan dipublikasikan ke Jurnal (The New England Journal of Medicine). Sebagian ini kami cuplik lalu dikembangkan dengan versi populer agar mudah untuk diketahui dan dipahami. Dengan demikian, diharapkan lagi agar menjadi semakin waspada. Di jurnal tersebut disebutkan bahwa Penerima cangkok ginjal umumnya rentan, termasuk beresiko sangat tinggi untuk terkena penyakit Covid19. Jika terkena, pada fase awal serangan orang cangkok ginjal dengan Covid-19 ini lebih jarang demam. Begitu yang dikatakan dari penelitian di Amerika. Cuplikan sebagian data nya sebagai berikut: Penelitian di Montefiore Medical Center, 36 penerima transplantasi ginjal orang dewasa berturut-turut yang dites positif Covid-19 antara 16 Maret dan 1 April 2020. Sebanyak 26 penerima (72%) adalah laki-laki, dan usia rata-rata 60 tahun. 

Pengendalian Pandemi Vs Kebebasan Sipil

PERANG melawan pandemi covid-1 9 makin berkobar. Presiden Joko Widodo optimistis akhir tahun pandemi ini tuntas. Setelah itu, Jokowi memprediksi wisata (utamanya) akan booming. Tentu saja, optimisme memang harus terus dijaga. Agar optimisme itu jadi kenyataan, selain terus berdoa, butuh ikhtiar yang lebih tangkas dan terukur tingkat keberhasilannya. Hingga saat ini, gerak pemerintah masih belum bisa mengimbangi kecepatan penyebaran virus, yang pernah di istilahkan Gubernur Negara Bagian New York, seperti kereta peluru. Setelah meremehkan di awal pandemi, pemerintah kini menghadapi dilema. Apakah memenuhi saran pakar medis agar bertindak cepat untuk membatasi pergerakan sipil secara ketat dan tegas atau lebih mendengar saran pakar ekonomi-sosial yang menginginkan jangan ada pembatasan yang terlalu ketat agar ekonomi tidak drop dan menghindari gejolak sosial. Gubernur DKI Anies Baswedan langsung bergerak cepat mengajukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hanya sehari setelah Peraturan Menteri Kesehatan resmi dikeluarkan.

Saat Korona Belokkan Imunitas Jadi Senjata Makan Tuan

Untuk menghindari kefatalan, selain mengandalkan vaksin yang sampai sekarang masih dalam proses percepatan riset, sangat penting upaya untuk menjaga dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Mengapa virus korona jenis baru (novel coronavirus) ini bisa sangat mematikan? Bagaimana virus bernama resmi Covid-19 ini menyerang tubuh dan mengapa bisa menyebabkan korban meninggal dalam waktu sangat cepat, 4-7 hari? Padahal, pada pasien HIV/AIDS umumnya perlu waktu bertahun-tahun menuju kefatalan. Kalau HIV/AIDS ibarat perang gerilya, Covid-19 menghancurkan dalam perang kilat (blitzkrieg). Gambaran kerusakan itu bisa dilihat dari sebuah video yang disebar di medsos. Dokter Keith Mortman, Kepala Bedah Toraks RS Universitas George, Washington, menunjukkan permodelan 3D untuk memperlihatkan betapa cepatnya Covid-19 menyerang paru-paru.