#covid-19


Peran dan Pendidikan Mahasiswa Kedokteran di Masa Pandemi

PANDEMI covid-19 telah berdampak pada hampir seluruh sektor kehidupan. Sektor pendidikan pun mau tak mau harus menyesuaikan diri. Jadwal tahun ajaran dan penerimaan siswa baru menjadi bergeser. Proses penerimaan mahasiswa baru jadi terganggu. Perkuliahan tatap muka untuk sementara diubah menjadi perkuliahan daring, sembari menunggu redanya pandemi.  Demikian juga yang dialami oleh mahasiswa kedokteran. Saat merebaknya pandemi dan meningkatnya kecemasan, mayoritas perkuliahan diliburkan dan sebagian diubah menjadi kuliah daring. Akan tetapi, seperti halnya perkuliahan di fakultas eksakta lainnya, ada aktivitas perkuliahan yang tidak mungkin diganti menjadi daring seluruhnya, seperti praktikum di laboratorium. Untuk mahasiswa kedokteran, ada bentuk pembelajaran lainnya yang juga sulit diubah menjadi metode daring.  Misalnya proses co as atau internship, ikut dokter senior dalam mengobservasi pasien, menyusun diagnosis, berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya, membuat laporan medis, dan sejumlah tindakan medis lainnya. 

Responding to the Pandemic Modeling

Ratna Megawangi’s article, “Coronavirus and Panic Statistics” (Kompas, 20/6/2020), is interesting to discuss. The article comments on the prediction of the spread of the coronavirus by mathematical modeling, as widely presented by experts.   In particular, Ratna reviewed predictions made by Dr. Neil Ferguson of Imperial College London, an epidemiologist who from the start was keen to suggest that a lockdown be implemented in England. With the mathematical modeling he made, in mid-March Ferguson predicted the death toll due to the coronavirus in the UK would reach 510,000 people if no lockdown was tightly applied. This prediction is what makes many parties panic. According to Ratna, Prime Minister Boris Johnson, who initially believed in the herd immunity scenario, eventually shifted to trusting Ferguson to apply the regional quarantine alias total lockdown. And, the fact was that, as of Wednesday (24/6/2020), Worldometer data recorded the number of positive cases in the UK at 306,210, of whom 42,927 had died. It is very low compared to the 510,000 infections according to Ferguson’s prediction if the lockdown was not implemented.

DPRD Surabaya Apresiasi Kiprah Unair Tangani COVID-19

Surabaya - DPRD Surabaya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Universitas Airlangga (Unair). Sebab selama ini Unair telah berkiprah luar biasa dalam membantu penanganan COVID-19 di Kota Pahlawan.   Empat pimpinan DPRD berkunjung ke Kantor Rektorat Unair, dan berdiskusi dengan Rektor Unair, Prof M Nasih tentang penanganan COVID-19. Keempat pimpinan Dewan itu yakni Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono, Wakil Ketua DPRD Laila Mufidah, AH Thony dan Reni Astuti.   "Unair menjadi salah satu kampus pelopor dalam penanganan COVID-19. Unair membuktikan bahwa kampus ini adalah bagian dari sumber ilmu abadi sebagaimana guci berisi air abadi yang dibawa Garuda Mukti, tunggangan Bhatara Wisnu dalam lambang Unair," ujar Adi Sutarwijono usai bertemu Prof M Nasih, Senin (15/6/2020).   Hadir pula dalam pertemuan itu, Ketua Senat Akademik (SA) Unair Prof Djoko Santoso dan Sekretaris Unair, Koko Srimulyo.

Pulasara Jenazah Covid

Viral video puluhan orang memaksa mengambil jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 dari RS Mekar Sari di Bekasi (9/6). Mereka memaksa petugas membuka ruangan penyimpan jenazah. Tak sanggup menghadapi warga, petugas itu membuka ruang penyimpan jenazah. Jenazah langsung diangkat dan dibawa beramai-ramai oleh warga, meninggalkan RS. Sebelumnya (1/6), kejadian serupa terjadi di sebuah RS di Manado. Jenazah seorang pasien PDP berusia 52 tahun yang kemudian dinyatakan positif Covid-19, diambil paksa oleh keluarganya. Di Makassar pada 3 Juni, puluhan warga, banyak di antaranya bersenjata tajam, masuk ke RS Stella Maris Makassar dan memaksa mengambil jenazah pasien PDP. Petugas RS yang hendak mengambil sampel swab, gagal karena dihalangi warga. Sementara itu, di Surabaya, jenazah yang akan dimakamkan dengan prosedur Covid-19 direbut saat sudah sampai di kuburan (4/6). Padahal, sudah ada hasil tes jenazah positif Covid-19. Kejadian merebut jenazah di kuburan juga terjadi di Batam (9/6) sekitar pukul 21.00 WIB.

Key to being at Peace with Coronavirus

For more than three months, we have been struggling with the COVID-19 pandemic. The peak of the infection and death curves have not yet been visible. The broader sector of our lives is affected badly. We are increasingly forced to survive until one day a vaccine and medicine are found. We are forced to increasingly accept the presence of this virus as a reality, although it is very dangerous. This is the “order” of the new world because of COVID-19. The fields of health, the economy, social relations, political processes and work culture all change and reformat the rules of the game. The new format can be long-term, even permanent. Because, it is estimated, this coronavirus will not be destroyed at all. Its ability to spread, mutate, and adapt to it new host is very quick. The coronavirus continues to mutate to maintain its life, while humans must also survive with their immune system, which is basically very sophisticated. Therefore, a kind of invitation arises that we begin to get used to living with the coronavirus, the invisible “cunning and cruel parasite”.