Tetap saja, mari Menghindari Sakit Ginjal Sekalipun di era pandemi


Pernahkah terbersit dalam pikiran kita semua tentang seberapa berbahaya sakit ginjal, apalagi di era pandemi yang belum ada titik terang kapan berakhirnya?  Juga, bagaimanakah hal tersebut dikaitkan dengan kemampuan suatu negara dalam melindungi kesehatan warga negaranya? Sesungguhnya penyakit gagal ginjal kronis (GGK) menjadi momok tidak hanya bagi pasien dan keluarga, namun lebih dari itu, intinya bagi kita semua, termasuk petugas medis, pemerintah. Bisa bayangkan kalau melihat hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan, bahwa persentase penyakit ginjal kronik di Indonesia sebesar 3,8 persen dengan kenaikan sebesar 1,8 persen dari 2013. Data BPJS Kesehatan pada tahun 2017 mencatat total biaya Rp3,1 triliun dikerahkan untuk membiayai penyakit gagal ginjal kronis. Pembiayaan tersebut adalah peringkat keempat pengeluaran terbesar lembaga asuransi kesehatan negara tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, ginjal termasuk salah satu organ vital yang dimiliki manusia. Ada tujuh fungsi utama ginjal. Di antaranya, mengeluarkan air, racun, dan bahan yang tidak berguna serta berfungsi sebagai buffer (menetralkan kelebihan asam), mengontrol tekanan darah, membuat tubuh tidak kurang darah, serta untuk kesehatan tulang. Karena itu, jika terjadi kegagalan pada fungsi organ ginjal, akibatnya pun bisa fatal. 

Pertanyaan yang relevan dilontarkan adalah, sudahkah kita peduli terhadap kesehatan ginjal kita? Sudah cukup layakkah pemerintah memperlakukan para pasien yang menderita gangguan ginjal, terutama mereka yang tergolong miskin?

Berdasar data yang masuk di salah satu rumah sakit di Surabaya, penderita gangguan ginjal sering datang dalam kondisi sudah terlambat, sehingga harus dilakukan cuci darah secara reguler. Untuk data yang di luar Surabaya tampaknya juga mirip sama mengingat peran budaya, sistem layanan kesehatan dan lingkungan diasumsikan sama.

Jadi, alangkah lebih baiknya kita jangan sampai sakit ginjal lah. Untuk itu mari kita memulai pola hidup sehat. Di antaranya, berlatih fisik secara rutin, berhenti merokok, periksa kadar kolesterol, menjaga berat badan, periksa fisik tiap tahun, makan dengan komposisi berimbang, turunkan tekanan darah, serta kurangi makan garam. Pertahankan kadar gula darah yang normal bila menderita diabetes, hindari memakai obat anti nyeri nonsteroid, makan protein dalam jumlah sedang, mengurangi minum jamu-jamuan, dan menghindari minuman beralkohol. Minum air putih yang cukup (dalam sehari 2-2,5 liter).

Juga, jangan terlalu sering menyantap fast food yang bisa mempermudah munculnya penyakit darah tinggi dan kencing manis. Ingat, kedua penyakit itulah sumber utama yang berkontribusi munculnya gagal ginjal kronis.

 

Prof. Djoko Santoso, dr., SpPD K-GH PhD, 

Ahli Ginjal di Surabaya



Comments