Artikel

Blog


Efek Obat Pereda Nyeri terhadap Kesehatan Ginjal

Penggunaan obat nyeri di kehidupan sehari-hari sangatlah lazim pada kalangan masyarakat umum. Obat anti-nyeri kerap kali digunakan untuk mengatasi nyeri pada lutut, nyeri saat haid, dan juga sebagai pereda nyeri kepala dan gigi. Obat-obatan tersebut memang sangat dibutuhkan oleh pasien karena pada saat serangan nyeri, kualitas hidup pasien sangatlah berkurang. Kualitas kerja yang memburuk, hilang konsentrasi saat belajar, atau waktu beristirahat dan liburan yang menjadi tidak menyenangkan kerap kali menjadi tujuan pasien datang berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Tak heran terkadang pada saat awal sakit, pasien datang berkonsultasi kepada dokter bukan untuk memahami sepenuhnya penyakitnya namun hanya agar bisa beraktivitas kembali secara normal. Namun para sobat Rumah Ginjal nampaknya harus mulai berhati-hati karena penggunaan obat pereda nyeri jangka panjang bukan tidak memiliki efek negatif bagi tubuh, khususnya untuk kesehatan organ ginjal kita tercinta.

Buah Belimbing dan Tekanan Darah Tinggi

Dalam beberapa tahun terakhir, trend konsumsi makanan sehat seperti diet buah dan sayur semakin menyebar luas di kalangan masyarakat, termasuk dengan beredarnya minuman jus sehat yang dikemas di dalam kemasan minuman yang menarik. Buah diketahui mengandung banyak vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan dan metabolisme tubuh. Disamping itu, buah juga mengandung beragam senyawa aktif yang memiliki banyak manfaat yang sampai saat ini belum terpelajari secara lengkap.  Salah satu buah yang diketahui bermanfaat untuk kesehatan adalah buah belimbing. Buah belimbing (Averrhoa carambola) merupakan salah satu buah tropis yang pertama kali ditemukan di daerah Asia Tenggara. Buah ini diketahui banyak mengandung vitamin C dan dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi.

Manfaat Teh Bagi Kesehatan Tubuh dan Ginjal

Menurut legenda, teh (Camellia sinensis) pertama kali dikonsumsi di Tiongkok pada tahun 2737 sebelum masehi. Pada saat itu kaisar Tiongkok Shen Nung sedang duduk di bawah pohon sementara pelayannya merebus air minum. Secara tidak sengaja, beberapa daun dari pohon itu tertiup ke dalam air dan bercampur dengan air panas tersebut. Entah apakah legenda itu merupakan kisah nyata, namun konsumsi teh telah menjadi tradisi di Tiongkok selama berabad-abad bahkan jauh sebelum teh menjadi minuman populer di negara-negara barat, khususnya Inggris. Menariknya, argumentasi mengenai manfaat konsumsi teh bagi kesehatan telah muncul sejak 250 tahun yang lalu. Sebagian orang khawatir bahwa konsumsi teh berlebihan akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Perdebatan terus berlanjut hingga abad ke-19, dan baru berakhir di pertengahan abad itu, ketika manfaat sosial dari mengkonsumsi teh kian disadari. Sejak saat itu, teh secara rutin disajikan pada setiap pertemuan sebagai pengganti alkohol (https://www.tea.co.uk/).

Apakah Tidur Mempengaruhi Kesehatan Ginjal?

Tidur adalah salah satu kebutuhan utama manusia. Tidur yang baik meliputi durasi yang adekuat, kualitas yang baik, waktu tidur yang sesuai, dan tidak adanya distrupsi selama tidur. Durasi tidur yang baik bergantung pada usia seseorang dan umumnya semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Misalnya pada bayi baru lahir memerlukan 14-17 jam tidur, anak usia 5 tahun membutuhkan 10-13 jam tidur, remaja membutuhkan 8-10 jam tidur, dan dewasa memerlukan 7-9 jam tidur.  Kuantitas dan kualitas tidur yang kurang dapat membawa dampak negatif sehari-hari, seperti mengantuk pada siang hari, merasa Lelah, mood depresif, bahkan jika hal ini dilakukan teus-menerus dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya.

Apakah Konsumsi Kopi Berbahaya untuk Ginjal?

Berbicara tentang kopi, tentu sangat mengasyikan, setidaknya untuk para penggemar kopi. Asyiknya, mungkin mereka akan menyoal rasa atau aroma, atau bahkan kombinasi keduanya (kombinasi rasa dan aromanya). Bisa jadi juga menyoal berapa lama rasa dan aroma itu bertahan atau bagaimana frekuensi asupan seharinya. Masih juga menarik untuk diungkap yaitu, tentang bagaimana tingkat keasamannya, tentang jenis asal kopinya itu sendiri, bagaimana kalau dikombinasikan dengan lainnya seperti krimer. Dalam konteks asalnya, tentu mereka akan menyinggung asal Indonesia-kah? atau malah dari luar? Maka obrolannya akan berlanjut bahwa yang ini asal Indonesia bisa rasa kopi Sumatera Utara, Garut, lampung. Sedangkan yang ini rasa kopi Laos, atau rasa kopi Yunan. Semua itu umumnya tersaji dihampir semua outlet coffee. Di sana akan tersaji kopi Toraja, kopi Robusta, kopi Mandailing, atau sajian kopi bentuk late, krimer, avocado, yang intinya bisa pilih sesuai kesukaannya.