Artikel

Blog


Suasana Hati Buruk? Makan Sehat Aja!

Menghadapi pandemic COVID-19 yang tidak kunjung usai, seringkali kita merasa jenuh dengan kebiasaan sehari-hari. Belum lagi saat masa pandemi, kita tidak bisa banyak bertemu dengan kerabat lainnya, maupun pergi ke tempat keramaian tertentu. Sehingga tidak jarang kita mencari cara agar keluar dari kejenuhan. Untuk keluar dari kejenuhan tersebut tidak jarang orang akan mencari makanan manis, seperti cokelat, minuman bersoda, dan lain sebagainya. Padahal saat masa pandemi, aktivitas lebih kurang dibanding biasanya. Adanya pola makan yang buruk serta aktivitas yang kurang aktif membuat banyak orang jatuh dalam kondisi obesitas pada masa pandemi. Dampak dari obesitas dapat menurunkan produktivitas dan mengurangi mood. Ternyata masih ada cara lain untuk meningkatkan suasana hati di tengah pandemi, yaitu dengan makan makanan yang lebih sehat. Makanan sehat sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh di kala pandemi, juga dapat menjaga otak agar tetap sehat. Mengapa kita perlu menjaga otak tetap sehat?

Menilik Kondisi Obesitas di Arab Saudi

Setelah mempelajari bahaya obesitas yang khususnya membawa dampak pada kerusakan ginjal pada dua artikel sebelumnya, sekarang kita perlu melihat kondisi obesitas di dunia secara global. Secara sepintas, hal ini tidak nampak sebagai permasalahan yang serius, namun sesungguhnya obesitas ternyata tetap selalu berdampak besar pada segala aspek kehidupan termasuk sektor ekonomi. Perlu diketahui pada tahun 2014 diperkirakan 2 triliun dollar atau sekitar 30 ribu triliun rupiah pertahun ekonomi global terdampak oleh permasalahan obesitas di seluruh dunia. Permasalahan tersebut meliputi gangguan kesehatan tipe kronis yang dipicu salah satunya oleh obesitas seperti penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit kanker, diabetes, dan juga penyakit ginjal. Karena itulah, maka tak heran kalau fenomena epidemi obesitas yang hampir seluruh dunia mengalami suatu fenomena tersebut menjadi cepat di kenal luas secara global. Lalu bagaimana jelasnya demikian?

Konsumsi Serat Mengurangi Risiko Penyakit Ginjal Kronis

An apple a day keeps doctor away. Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti ini? Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, maka artinya adalah ‘sebuah apel setiap hari dapat menjauhkan kita dari dokter’. Kalimat ‘menjauhkan kita dari dokter’ bermakna sebagai ‘tidak sakit’. Apel dilambangkan sebagai makanan sehat dan mempunyai kadar serat tinggi, sehingga mengonsumsi makanan seperti ini akan membuat tubuh menjadi lebih sehat.  Pada zaman saat ini semuanya menjadi sangat cepat dan instan. Orang tidak lagi harus mencari makanan ke hutan untuk berburu makan siang, ataupun tidak perlu memancing untuk mendapatkan lauk. Akibatnya, banyak orang yang lebih memilih makanan cepat saji yang memiliki rasa enak dan tersedia dengan cepat. Makanan cepat saji umumnya memiliki kandungan gizi yang memiliki kalori tinggi dan lemak jenuh tinggi dengan rendah serat.

Obesitas dan Gangguan Ginjal

Pada topik kali ini akan dibahas tentang obesitas dan gangguan ginjal, sebagai lanjutan dari artikel Obesitas Bisa Merusak Ginjal. Kegemukan atau obesitas telah menjadi ‘epidemi’ di seluruh dunia dan diperkirakan akan meningkat sebesar 40% selama sepuluh tahun ke depan. Seperti halnya malnutrisi, obesitas merupakan gangguan gizi yang disebabkan oleh asupan yang berlebihan atau gangguan hormonal dalam tubuh. Obesitas menjadi perhatian khusus karena dapat menyebabkan penyakit lainnya, tidak terkecuali pada ginjal. Seringkali penyakit yang ditimbulkan dapat mempengaruhi kualitas hidup individu di masa depan.  Definisi obesitas didasarkan pada indeks massa tubuh (BMI), yaitu berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Menurut WHO, BMI < 18,5 termasuk kategori underweight, BMI dalam kisaran 18,5 hingga 25 kg/m2 dianggap sebagai berat badan normal, BMI antara 25 – 30 kg/m2 dianggap sebagai kelebihan berat badan (overweight), dan BMI lebih besar dari 30 kg/m2 dianggap sebagai obesitas.Sebagai contoh, jika seseorang memiliki berat badan 80 kg dan tinggi badan 160 cm, maka BMI orang tersebut adalah 31,25 (80/(1,6)(1,6) = 31,25).

Obesitas Bisa Merusak Ginjal

Pada topik kali ini, akan dibahas mengenai kondisi berat badan berlebih yang dapat mencetuskan kerusakan ginjal permanen atau penyakit ginjal kronis (PGK). Berat badan berlebih atau yang dikenal dengan obesitas telah menjadi penyakit epidemi di seluruh dunia dan diprediksi akan meningkat sebanyak 40% jumlahnya dalam sepuluh tahun ke depan. Layaknya kurang gizi, obesitas juga merupakan suatu gangguan gizi yang diakibatkan gangguan asupan yang berlebihan maupun gangguan hormon di dalam tubuh. Oleh karena hal tersebut gangguan yang dimaksud akan mempengaruhi jalannya organ lain di tubuh secara keseluruhan termasuk ginjal kesayangan kita. Menurut definisi, obesitas didasarkan pada body mass index (BMI) yaitu berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badannya (dalam meter).