Artikel

Blog


Sakit Ginjal Karena Meremehkan Batuk pada Anak

Pernahkan si kecil tercinta mengalami batuk dan sakit tenggorokan yang berulang? Jika pernah maka sebagai orang tua Anda harus lebih berhati-hati. Batuk memang sering dialami si kecil tiap harinya dan terkadang orang tua menganggapnya sepele dan hanya mengabaikannya. Sering kali batuk tersebut dikira hanya disebabkan karena terlalu banyak jajan es, minuman dingin  maupun gorengan di sekolah. Namun sepertinya orang tua harus mulai lebih berhati-hati, karena jika abai dalam menangani batuk pada anak, maka suatu saat akan berpotensi sakit ginjal di kemudian hari. Batuk dan nyeri tenggorokan adalah salah satu gejala khas dari infeksi saluran pernafasan akut atau yang dikenal dengan istilah ISPA

Era Baru Deteksi Gagal Ginjal dengan Cystatin-C

Di zaman dimana kita hidup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan sangat cepat, inovasi dan temuan baru di bidang kedokteran terus bermunculan. Penemuan di bidang kesehatan juga merambah khususnya kepada bidang Nephrology atau per-ginjal-an. Seperti kita ketahui gagal ginjal kronis (GGK) telah menjadi beban dunia karena kejadiannya meningkat 89% selama 20 tahun terakhir yang secara otomatis juga meningkatkan angka kematian akibat penyakit tersebut. Permasalahan tersebut menjadi mendesak karena 63% kasus GGK terjadi pada negara dengan pendapatan menengah kebawah termasuk Indonesia (Xie dkk, Kidney Int, 2018). Peningkatan tersebut terjadi karena buruknya deteksi dini dari GGK itu sendiri sehingga pasien yang datang mayoritas telah memasuki stadium akhir, walaupun selain hal tersebut memang faktor risiko GGK seperti diabetes dan hipertensi juga meningkat di masyarakat.

Disbiosis Usus Memperburuk Penyakit Ginjal Kronis

Di dalam tubuh kita, usus menyimpan lebih dari 100 triliun sel mikroba, yang mempengaruhi nutrisi, metabolisme, fisiologi, dan fungsi imun tubuh inang dalam hal ini adalah manusia. Mikrobioma usus terdiri dari beragam jenis populasi bakteri yang dapat bersifat menguntungkan atau merugikan pada kesehatan tubuh kita. Dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, rekayasa dari populasi mikroba di usus menjadi topik yang sangat menarik akhir-akhir ini khususnya bila dikaitkan dengan beragam penyakit, seperti obesitas, diabetes mellitus tipe 2, penyakit radang usus, dan penyakit kardiovaskular. Dalam keadaan normal flora normal usus membentuk hubungan simbiosis saling menguntungkan dengan inang sehingga dapat memfasilitasi pengobatan metabolik dan ketahanan terhadap penyakit infeksi dan peradangan lain. Namun dalam kondisi yang tidak seimbang, atau yang disebut sebagai Disbiosis, suasana tubuh menjadi tidak ideal dan mengarahkan pada timbulnya suatu penyakit, termasuk dalam hal ini Penyakit Ginjal Kronis (PGK).

Hindari Makan Tinggi Protein bagi Pasien Gagal Ginjal

Seberapa sering Anda mendengar anjuran untuk makan dengan protein yang tinggi agar badan tetap sehat? Dokter, ahli diet, dan perawat kesehatan lainnya tatkala sering memberi tahu tentang keuntungan dari diet tinggi protein (DTP), seperti meningkatkan perbaikan jaringan tubuh yang rusak, meningkatkan stamina, menurunkan berat badan dengan cepat, mencegah obesitas, mengelola sindrom metabolik, dan mengobati diabetes. Keyakinan ini telah berkembang begitu jauh sehingga kita sering merasa terus-menerus dipaksa untuk makan lebih banyak protein dan lebih sedikit karbohidrat. Namun apakah diet protein tinggi merupakan nutrisi yang sesuai secara biologis untuk fisiologi manusia khususnya untuk pasien ginjal? Selama sekitar 10.000 tahun sebelum masehi, sejak akhir zaman Paleolitik, kebiasaan makan dengan protein yang tinggi sudah terjadi karena dapat membangkitan semangat para leluhur yang sehari-hari bekerja sebagai pemburu dan petani. Selain itu protein akan membantu menjaga otot serta mengurangi massa lemak.

Efek Zat Pewarna Makanan Pada Kesehatan Ginjal

Makanan sebagai salah satu sumber nutrisi bagi tubuh tidak dapat dipisahkan dari keseharian manusia. Beragam jenis makanan dari berbagai macam latar belakang budaya hadir di sekitar kita. Beragam cara pun dilakukan pelaku usaha kuliner untuk menarik minat konsumen agar membeli makanan yang mereka jual. Salah satu cara yang sering digunakan adalah dengan menambahkan zat pewarna makanan yang dipercaya dapat mempercantik tampilan makanan dan menggugah selera konsumen. Sebuah penelitian yang melibatkan 448 wanita melaporkan bahwa kombinasi warna makanan tertentu mungkin berguna untuk mengubah keinginan untuk mengkonsumsi makanan manis (Schlintl and Schienle, 2020, Front Psychol. https://dx.doi.org/10.3389/fpsyg.2020.589826). Serupa dengan itu, sebuah tinjauan pustaka juga menyimpulkan bahwa pewarna makanan memainkan peranan penting dalam mendorong preferensi dan penerimaan konsumen terhadap berbagai produk makanan.